Lulusan SD, Tak Surutkan Semangat Khosiah Jadi Guru Anak Berkebutuhan Khusus

Yovie Wicaksono - 25 November 2020
Khosiah saat membantu muridnya masuk kedalam ruangan belajar dengan cara menggendongnya. Foto : (Istimewa)

SR, Malang – Tepat pukul sembilan pagi, beberapa anak berkebutuhan khusus (ABK) yang didampingi orang tua dan keluarganya mendatangi rumah Khosiah (45) di Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Sebagian besar dari mereka adalah difabel tuna grahita.

Mereka adalah murid-murid Khosiah yang memiliki semangat untuk belajar bersama. Dalam sehari, biasanya ada lima hingga delapan anak. Namun, secara keseluruhan, murid Khosiah berjumlah 12 anak dengan usia 13 hingga 30 tahun.

Proses belajar bersama di rumah Khosiah ini sudah berlangsung sejak Mei 2020. Sebelumnya, sejak dua tahun lalu atau jauh sebelum pandemi Covid-19, Khosiah mengajar dengan cara mendatangi satu persatu rumah muridnya.

Dalam sehari ia bisa mendatangi lima sampai enam anak. Jika posisi rumah muridnya dekat, ia cukup berjalan kaki atau naik sepeda. Namun jika dirasa cukup jauh, tak jarang Khosiah meminta bantuan anak bungsunya untuk mengantarkannya.

Tak hanya membawa bahan ajar, Khosiah datang dari rumah kerumah dengan membawa susu dan cemilan untuk muridnya agar mereka bersemangat dalam belajar. Susu dan cemilan itu, menggunakan dana pribadi, dengan cara menyisihkan uang belanja yang diberikan sang suami.

Materi yang diajarkan Khosiah kepada muridnya adalah baca, tulis, dan berhitung (calistung), pelajaran agama, serta ilmu pengetahuan dasar lainnya. Ia menggunakan bahan ajar seadanya hasil pinjaman dari guru-guru di desanya yang kemudian digandakan.

Sebelum memulai pembelajaran, Khosiah harus memahami kondisi atau mood dan keinginan muridnya terlebih dahulu agar proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik.

Setelah proses belajar mengajar selesai, Khosiah selalu mengajak para muridnya untuk makan bersama dengan menu sederhana yang dimasaknya. Kemudian kegiatan ditutup dengan salat berjamaah yang membuat rasa persaudaraan dan kekeluargaan di antara mereka begitu kuat.

“Kendalanya ya itu, bahan ajarnya yang masih kurang,” ujarnya kepada Super Radio, Rabu (25/11/2020).

Khosiah saat sedang melakukan proses belajar mengajar. Foto : (Istimewa)

 

Apa yang dilakukan Khosiah ini berawal dari keprihatinan terhadap apa yang dialami anak sulungnya yang kini telah berusia 24 tahun.

“Anak sulung saya difabel, tuna daksa. Karena faktor ekonomi, anak saya tidak bisa sekolah. Dulu sempat ambil formulir di SLB (sekolah luar biasa, red) tapi biayanya mahal, jadi terpaksa saya yang mengajarinya sendiri terus sempat saya ikutkan les. Melihat anak saya itu, kemudian di sekitar rumah saya juga ada beberapa anak difabel yang tidak bersekolah, akhirnya saya mengajari mereka agar bisa mendapatkan pendidikan,” katanya.

Khosiah memiliki dua orang anak. Si bungsu yang tidak memiliki kebutuhan khusus, berkesempatan mengenyam pendidikan hingga tingkat Sekolah Menengah Kejuruan.

Khosiah sendiri hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Meski begitu, ia memiliki semangat juang untuk terus belajar dan berbagi. Bahkan, untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya, ia juga mengikuti beberapa seminar pendidikan.

“Awalnya saya minder, sering dipandang sebelah mata juga, dibilang lulusan SD bisa apa. Tapi kan niat saya ini baik, jadi terserah orang berbicara apa tapi saya selalu semangat,” katanya.

Para murid sendiri tidak dibebani biaya oleh Khosiah. “Saya sudah cukup bersyukur, karena ada pihak yang membantu menyediakan peralatan tulis untuk murid saya, jadi mereka tidak perlu membawa alat tulis dari rumah,” jelasnya.

Khosiah berharap ke depan ada masyarakat yang lebih peduli dengan disabilitas di sekitarnya. Terhadap pemerintah, ia juga meminta untuk lebih memperhatikan pemenuhan hak anak-anak disabilitas, salah satunya soal pendidikan.

Khosiah adalah secuil potret perjuangan para guru dalam membangun generasi penerus bangsa yang unggul di tengah keterbatasan kondisi dan situasi. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.