Lewat EP +62, Afgan Obati Kerinduan Fans

Yovie Wicaksono - 6 September 2022

SR, Surabaya – Setelah merilis single So Wrong But So Right pada Mei lalu, Afgan kembali dengan sebuah EP (Extended Play) berjudul +62 yang di dalamnya berisi tiga lagu berbahasa Indonesia.

Hadirnya EP tersebut untuk mengobati kerinduan para fans—terutama Afganisme—yang menginginkannya kembali meluncurkan lagu berbahasa Indonesia, setelah dua tahun tak melakukannya.

Selain itu, Afgan juga merasa waktunya sudah tepat karena dunia perlahan lepas dari pandemi dan sudah banyak festival musik serta tempat hiburan yang kembali beroperasi.

“Terakhir di tahun 2020, aku berkolaborasi dengan Raisa lewat lagu Tunjukkan. Setelah itu, aku merilis album Wallflower dan beberapa single lainnya dalam bahasa Inggris. Banyak yang bertanya kapan aku akan merilis lagu-lagu berbahasa Indonesia lagi. Di satu sisi, kondisi dunia sudah memasuki fase new normal. Jadi. aku memutuskan untuk comeback lewat EP +62. Judul EP juga disesuaikan dengan kode negara Indonesia dan sangat merepresentasikan karya terbaru aku,” jelas Afgan.

Proses pengerjaan EP +62 ini memakan waktu cukup singkat, yakni di awal tahun hingga pertengahan 2022. Hingga akhirnya hadirlah 3 lagu baru, yaitu Pendam, Lestari Merdu, dan Pulih.

“Lestari Merdu” dipilih menjadi single utama dari EP +62 karena nuansanya yang festive, klasik, serta notasi dan lirik yang kental akan era 70-80-an. Yang mana, lagu ini merupakan tribute untuk Chrisye dan Guruh Sukarno Putra, dua sosok yang merupakan inspirasi terbesar Afgan dalam bermusik.

We need another anthem for people to dance, to sing a long at music festival, dan aku mewakilinya lewat “Lestari Merdu”. Di sisi lain, lagu ini tentang merayu seseorang yang kita sukai,” kata Afgan.

Ia pun memberi referensi pada Laleilmanino selaku pencipta lagu bahwa dirinya suka Barry Manilow, Chrisye, dan lagu-lagu dari album-albumnya Guruh Sukarno Putra, hingga akhirnya hadirlah Lestari Merdu dengan video musiknya yang mengusung konsep era 60-an dan 70-an.

“Aku kembali bekerja sama dengan Shadtoto Prasetio, one of my favorite people to work with. Di video itu aku one man show dan menghadirkan beberapa cameo, salah satunya sang legenda sekaligus maestro Indonesia, Guruh Sukarno Putra,” imbuh Afgan.

Lagu Pendam dan Pulih tak kalah menarik dari Lestari Merdu meski lebih mellow.  Pendam adalah lagu ballad yang bercerita tentang hubungan yang tidak bisa bertahan dan sosok yang mengalaminya memilih untuk menyimpan sedih dan sakitnya sendiri.

Sedangkan Pulih adalah lagu bernuansa piano ballad dan sentuhan strings yang berkisah tentang proses penyembuhan beban trauma seseorang dari hubungan masa lalunya. Namun di saat yang sama, sosok baru di dekatnya diminta untuk tetap berada di sisinya dan menemaninya sampai ia pulih kembali.

“Walaupun EP ini hanya berisi 3 lagu, it covers all kinds of emotion yang kita rasakan sebagai manusia. Ada lagu yang ceria seperti Lestari Merdu dan ada Pendam serta Pulih yang memperlihatkan sisi vulnerable aku. EP +62 ini menghadirkan hal-hal penting, about letting go, heal yourself, love yourself, and celebrate yourself,” ucap Afgan.

Menurutnya, keseluruhan EP +62 ini secara konsep menawarkan sesuatu yang berbeda. Penyampaiannya lebih personal dan tiga lagu di dalamnya disusun secara eklektik. Jadi, dimensinya berbeda-beda di tiap lagunya. +62 ini adalah act of service dari Afgan untuk mereka yang setia bersamanya sejak ia pertama kali menjejakkan kakinya di industri musik.

“Kami sebagai label dan manajemen yang menaungi Afgan sejak 2008 tentu bangga karena ia dapat mempertahankan posisinya sebagai penyanyi yang diperhitungkan dan karyanya tetap diminati oleh berbagai kalangan di tengah perkembangan tren industri yang dinamis,” kata Head A&R (Music Production & Talent Scouting) Trinity Optima Production, Dwi Santoso. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.