Kunjungan Melawan Lupa di Makam Riyanto

Yovie Wicaksono - 28 December 2020
Kunjungan Melawan Lupa di Makam Riyanto. Foto : (Istimewa)

SR, Mojokerto – Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Roemah Bhinneka, Perhimpunan Indonesia Tionghoa Jawa Timur (INTI Jatim), serta Alumni SMA/K Surabaya Bersatu (ASSB) dan HumanityforAll, melakukan kunjungan “Melawan Lupa” pada Minggu (27/12/2020), ke makam Riyanto, anggota Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) yang telah mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan para jemaat Gereja Eben Haezer Mojokerto yang kala itu sedang mengikuti Malam Kebaktian Natal dari ledakan bom.

Pendiri Roemah Bhinneka sekaligus penggagas kunjungan, Iryanto Susilo mengatakan, kegiatan kali ini adalah untuk melawan lupa aksi pembelaan kebhinekaan dan kemanusiaan yang dilakukan oleh almarhum Riyanto pada 20 tahun yang lalu.

“Perlu ada memori kolektif yang dibangun, dimulai dari masyarakat lokal hingga nasional bahwa almarhum Riyanto bukan hanya sebagai pahlawan nasional saja melainkan sebagai pahlawan dan simbol perlawanan terhadap intoleransi dan diskriminasi demi terwujudnya kemanusiaan dan kebhinekaan. Tentu hal ini perlu melibatkan peran warga dan kehadiran negara pula,” ujarnya.

Ketika memasuki lingkungan makam almarhum Riyanto, Gus Ipung selaku Ketua Pimpinan Cabang Ansor Kota Mojokerto menyambut rombongan dan menceritakan kronologi peristiwa yang dilakukan oleh almarhum Riyanto sekaligus bercerita tentang sosok pribadinya ketika masih hidup.

“Saya sungguh bersyukur, 20 tahun sudah berlalu tentang apa yang dilakukan oleh almarhum Riyanto namun tetap membawa semangat untuk melawan lupa bagi para rombongan yang hadir di sini,” ujar Gus Ipung.

Gus Ipung mengatakan, Riyanto adalah sosok yang membawa warna lain di Banser dari hidup sampai meninggalnya. Riyanto adalah wujud Banser yang benar-benar menunjukkan toleransinya terhadap kemanusiaan dan kebhinekaan.

Gus Ipung juga menambahkan bahwa K. H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika menjadi Presiden, pernah ke makam almarhum Riyanto untuk berziarah.

Selain Gus Ipung, Pendeta Andri Purnawan dari GKI Darmo Satelit Surabaya sekaligus mewakili Roemah Bhinneka mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Riyanto adalah benar-benar tindakan seorang pahlawan. Jikalau dibandingkan dengan peristiwa Bom Surabaya tahun 2018, para “korban” bom tersebut adalah tetap sebagai “korban peristiwa” bom tersebut namun tidak pada sosok almarhum Riyanto.

“Bagaimanapun Riyanto adalah sosok yang dengan sengaja mau mengorbankan dirinya demi orang lain, mirip seperti Yesus Kristus yang dengan sengaja rela menyerahkan nyawanya bagi orang lain tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongannya,” tegas Pendeta Andri Purnawan.

Rombongan yang juga terdiri dari PC Ansor Mojokerto, Satkorcab Banser Kota Mojokerto, GUSDURian Mojokerto, GUSDURian Sidoarjo, GUSDURian Gerdu Surabaya, GKJW Jemaat Wates Mojokerto, perwakilan Umat Buddha Surabaya, perwakilan umat Katolik dari Paroki St. Stefanus Surabaya, dan masih banyak lainnya ini kemudian menutup acara di makam dengan menabur bunga di pusara makam Riyanto.

Setelah tabur bunga, dengan alasan protokol kesehatan juga, rombongan yang tampak lebih dari 50 orang tersebut dipisah menjadi dua kelompok dan saling bergantian mengunjungi. Ada kelompok yang melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua almarhun Riyanto dan ada pula kelompok yang langsung ke Gereja Eben Haezer.

 

Di Gereja Eben Haezer, rombongan disambut oleh Pendeta Rudy yang kala itu juga menjadi saksi hidup dari aksi heroik Riyanto.

“Ketika Kebaktian Malam Natal 20 tahun yang lalu, saya tidak menyangka bahwa setidaknya ada dua bom yang akan meledak di gereja ini. Pertamanya tidak ada yang curiga kalau ada orang yang menaruh benda semacam kotak di lantai bangku bagian belakang sampai-sampai seorang Riyanto yang peka dan mengecek kotak tersebut dan ia segera mengambil dan berlari ke selokan. Namun nahas, sebelum sampai di selokan, bom tersebut sudah meledak,” ujar Pendeta Rudy.

“Ketika bom yang berada di bagian bangku belakang sudah meledak, para jemaat sudah keluar dari gereja mengamankan diri masing-masing, tetapi rupanya masih ada 1 bom yang belum meledak di bangku bagian depan dan meledak ketika sudah tidak ada jemaat lagi. Saya tidak bisa membayangkan kalau tidak ada sosok Riyanto pada waktu itu,” imbuhnya.

Sementara itu, di rumah orang tua almarhum Riyanto, para rombongan juga diterima dengan sangat baik. Orang tua Riyanto juga merasa bahagia dan bangga apabila anaknya dapat menjadi contoh kemanusiaan dan kebhinekaan ini.

Pendeta Andri Purnawan juga memberikan suatu renungan bahwa apa yang dilakukan oleh kedua orang tua Riyanto adalah mirip seperti Bunda Maria yang rela dan ikhlas bahwa anaknya (Yesus Kristus) menyerahkan nyawa-Nya untuk orang lain. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.