Ki Joko, “Dokter” Spesialis Wayang Kulit

Yovie Wicaksono - 7 February 2021
Ki Joko, “Dokter” Spesialis Wayang Kulit. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Di usia 67 tahun, Ki Joko Langgeng mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan wayang kulit. Ia dikenal sebagai dalang ruwat dan dijuluki sebagai dokter wayang, karena jasanya dalam memperbaiki wayang kulit yang rusak.

Bapak lima anak asal Dusun Sumber Desa Tiru, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini telah memperbaiki ratusan wayang kulit yang rusak. Paling cepat, perbaikan dilakukan selama tujuh hari.

Selama memperbaiki, ia tidak pernah mengalami kesulitan apapun. Bahkan wayang yang terlihat terlihat kusam masih bisa diperbaiki hingga nampak seperti baru. Yang dibutuhkan hanya ketelatenan dan kesabaran.

“Asalkan kulitnya tidak bosok, masih bisa diperbaiki. Bahan dasar untuk membuat wayang kan asalnya dari kulit kerbau dan sapi,” jelasnya.

Beberapa karakter wayang kulit yang pernah diperbaikinya antara lain Buto, Kurowo, Pandowo, Sabrangan dan tokoh pewayangan lainnya. Selama ini, wayang kulit yang pernah diperbaiki mengalami kerusakan di bagian kepala, tangan dan kaki.

Wayang yang diperbaiki selama ini, cenderung kategori wayang klasik dan dominan mengarah ke ciri khas versi ala Jogja dan Solo. Bahkan, Ki Joko pernah memperbaiki 3 wayang kuno milik salah satu museum terkemuka di Surabaya serta wayang buatan tahun 1816 karakter tokoh Brotoseno. Pada umumnya wayang yang diperbaiki mengalami kerusakan sangat parah sekitar 70 persen.

Menurut “terawangan” Ki Joko, wayang yang diperbaiki, terkadang memiliki kekuatan gaib. Karena itu, sebelum dilakukan perbaikan terlebih dahulu ia menggelar ritual doa.

“Sebelum melangkah melakukan perbaikan ya ritual dulu, istilah nya kita minta izin. Jadi tidak sekedar memperbaiki. Saat ritual, saya tidak pernah menggunakan dupa atau sebagainya, cuman doa saja cukup 10 menit,” ujarnya.

Selain berdoa ia juga berpuasa meminta ridho dari sang Maha Kuasa. Ketika doa sudah dijalankan, ia baru melakukan pekerjaannya.

Soal wayang, Ki Joko berpegang teguh pada prinsip jika ada wayang yang mengalami kerusakan harus segera diperbaiki, tidak malah dibuang serta dikubur dan dilarung ke sungai oleh pemiliknya.

“Prinsip saya, kalau dibuang juga eman-eman, itu kan buatan para leluhur. Meski pun yang membuat wayang telah meninggal, tetapi kan jasadnya saja, rohnya tidak. Saya diberi pesan sama guru, kamu perbaiki wayang saja nanti wayangmu banyak,” ujar Ki Joko Langgeng mengenang pitutur gurunya kala itu.

Para pelanggan bukan hanya berasal dari lingkup Kediri melainkan juga dari berbagai daerah seperti Jakarta, Cilacap, Surabaya. Soal tarif, tergantung dari tingkat kerusakan wayang tersebut. Jika kondisinya terlalu parah, dikenakan tarif Rp 250 ribu. Apabila kerusakannya tergolong ringan harga di kisaran Rp 150 – 200 ribu.

 

Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

Bakat yang dimiliki Ki Joko, diperoleh secara turun temurun dari keluarga abdi dalem Keraton Solo. Menurut silsilah, leluhur Ki Joko Langgeng merupakan keturunan ke 5 yang mewarisi bakat sebagai dalang serta memiliki kemampuan memperbaiki wayang kulit.

“Saya ini termasuk sudah generasi ke 5, leluhur saya Mbah Mulyo Kusumo adalah abdi dalem Keraton Solo,” ujarnya.

Sejak tahun 1968, Ki Joko sudah tiga kali berpindah tempat tinggal, mulai dari Salatiga, Semarang dan sekarang menetap di Kabupaten Kediri.
Ia memutuskan menetap di Kediri sejak tahun 1989 setelah mendapat petunjuk dari gurunya Ki Gondo Darman, yang tidak lain juga guru dari dalang kondang Ki Manteb dan Ki Anom.

Ki Joko mengaku bahagia, karena memiliki penerus dirinya. Putra ketiga, Slamet Sri Raharjo, juga memiliki kemampuan yang sama dalam memperbaiki wayang. Slamet yang kini berusia 38 tahun, sudah mampu membuat wayang kulit sendiri.

Yang lebih membanggakan, Ki Joko hingga kini masih mementaskan wayang pangruwatan dan wayang purwa serta membuat wayang kreasi Panji. Saat pementasan di wilayah Kediri maupun luar kota, Ki Joko selalu ditemani Endang Sutarmi, sang istri yang juga seorang sinden.

“Istri saya ini selalu saya ajak ikut jika saya tampil pentas, baik di Kediri maupun luar kota. Disamping itu ia juga mengajar kesenian sinden dan campur dirumah. Muridnya ada sekitar 10 orang. Mereka pada umumnya berstatus pelajar,” ujarnya.

Ki Joko juga pernah diberangkatkan pemerintah ke Ho Chi Minh City Vietnam selama beberapa bulan untuk memberikan pelatihan kesenian karawitan serta menggelar pertunjukan wayang kulit. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.