Harap-Harap Cemas Reog Cemandi, Kesenian Lokal Sidoarjo yang Mencari Penerus
SR, Sidoarjo – Terhitung sudah 103 tahun sejak Reog Cemandi diciptakan pada tahun 1922. Kini kesenian yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Tak Benda tersebut justru menghadapi tantangan besar.
Ketua Sanggar Komunitas Teras Omah Seni, Alfan mengungkapkan, salah satu tantangan terletak di minimnya inovasi pengembangan seni lokal. Reog Cemandi yang masih seni murni menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Seni tersebut tergolong terjaga orisinalitasnya, namun terkesan ketinggalan zaman karena tak ada inovasi variasi pertunjukan.
Imbasnya, makin sulit mencari anak muda yang mau menggeluti dan melestarikan Reog Cemandi. “Dari dulu yang merawat kesenian ini masih dilakukan orang lokal, belum ada keterlibatan pihak luar, seniman, akademisi maupun pemerintah, sehingga tampilan dan kreasi Reog Cemandi dari dulu hingga sekarang ya sama saja tidak ada perubahan,”aku Alfan saat ditemui usai tampil di Jayandaru Festival (JaFest) 2025, Jumat (28/11/2025).

Hingga kini pun, pihaknya masih terus memutar otak, berupaya mengajak pihak terkait untuk mengangkat kembali kesenian khas Desa Cemandi itu. Keinginannya membentuk ekosistem agar warga bangga dan makin banyak yang mau ikut melestarikan Reog Cemandi.
“Proyek kita menginovasi Reog Cemandi agar lebih menarik dan membentuk ekosistem agar warga kita bangga dengan Reog Cemandi. Jika ekosistem sudah terbentuk maka anak muda akan bangga dengan reog cemandi dan mereka akan mau melestarikan,” tuturnya.
Sementara itu, salah satu pemain Reog Cemandi, Niel (25) turut membagikan pengalamannya. Keturunan generasi keenam salah satu pencetus Reog Cemandi yang bernama Susilo tersebut mengaku menerima stigma dari teman sebayanya.

Namun Niel tak ambil pusing. Rasa cintanya pada seni, ditambah tanggung jawab sebagai generasi penerus Reog Cemandi membuatnya semangat melestarikannya. “Dari kelas 5 SD saya sudah menari kesenian ini dan sebagai generasi keenam saya merasa ikut bertanggung jawab meneruskan Reog Cemandi. Lagi pula bapak juga main Reog Cemandi,” terangnya.
Tarian Mengusir Penjajah
Reog Cemandi merupakan kesenian lokal khas Sidoarjo yang terbentuk sejak tahun 1922. Konon kesenian ini bermula dari kisah seorang pemilik pondok pesantren di kawasan Sidosermo Panjang Jiwo Surabaya, Abdul (Dul) Katimin.

Kala itu Katimin pergi ke Sidoarjo. Merasa prihatin melihat warga diperlakukan semena-mena oleh penjajah. Hingga diciptakanlah seni reog di desa Cemandi, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Jawa Timur. Dilengkapi 6-7 orang penabuh kendang serta sepasang laki-laki dan perempuan memakai topeng barongan lanang (laki laki) dan wadon (perempuan) yang menyeramkan.
Sepasang laki-laki dan perempuan itu perwujudan dahyang (leluhur) penghuni desa yang dinamai Mbah Song dan Mbah Sri. Mereka menari mengikuti irama kendang yang sukses menakuti para penjajah. “Mbah Song itu topeng yang laki-laki sedangkan Mbah Sri adalah penamaan topeng perempuan merupakan wujud leluhur yang kemudian dari mereka menurunkan anak cucu hingga sekarang di Desa Cemandi ini,” urai Alfan.
Lebih lanjut diterangkan Alfan bahwa dalam Reog Cemandi terdapat 4 orang generasi penerus pertama Reog Cemandi, yakni, Dul Katimin, Mudindari, Senapi Munaji, dan Susilo. Kini kesenian lokal tersebut digunakan sebagai pengusir bala yang sering dilibatkan di kegiatan budaya seperti sedekah bumi, hingga arak-arakan pengantin. (hk/red)
Tags: kesenian, reog cemandi, sidoarjo, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





