Ketertarikan Generasi Muda Pada Wayang di Era Modernisasi

Yovie Wicaksono - 25 November 2023

Pentingnya Inovasi dan Terobosan untuk Kenalkan Wayang pada Generasi Muda

Sebagai seorang dalang yang tumbuh besar dan hidup dilingkungan pedalangan, Ki Prayogo terus berupaya untuk mengenalkan, mendekatkan, hingga mentransformasi ilmu tentang wayang dan pedalangan kepada khalayak umum, khususnya anak-anak dan generasi muda.

Tentu, hal ini tak bisa terjadi secara instan. Perlu kerja ekstra agar wayang tetap eksis di masa kini, terutama di kalangan muda. Perlu inovasi yang sesuai perkembangan zaman. Mulai dari mengembangkan kisah wayang klasik ke realitas saat ini, lalu dikemas lebih modern dengan durasi lebih singkat, hingga menambahkan hiburan yang bisa diterima semua kalangan.

“Wayang dengan pakemnya yang klasik harus dipertahankan, Mahabarata dan Ramayana harus tetap menjadi sumber cerita. Nah didalam klasik ada pengembangan dan dari pagelaran yang durasinya sampai 8 jam bisa dikemas jadi 1-2 jam jadi lebih pada, jadi anak muda bisa tetap menikmati cerita,” tuturnya.

“Satu upaya yang pernah saya lakukan agar wayang lebih dikemas modern, saya pernah di tahun 1995-1996 mengemas wayang dengan iringan electone. Iringan gamelan bisa saya ringkas dengan record yang bisa di play di electone, hasilnya jadi wayang minimalis,” imbuhnya.

Kemudian pada 2006 silam, dirinya menggelar pementasan wayang di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Meski para pengunjung silih berganti, datang dan pergi, ia meyakini, setidaknya dari sekian pengunjung akan tertarik dengan apa yang ditampilkannya.

Hal itu diakuinya cukup berhasil, mengingat saat itu banyak media yang menghubunginya untuk melakukan wawancara dan dari situ, semakin banyak lagi orang yang mengenal dan tertarik dengan wayang.

“Saya pikir terobosan seperti itu yang harus kita lakukan, mendekatkan wayang kepada khalayak umum, khususnya anak-anak maupun generasi muda,” ujarnya.

Ki Prayogo (kiri) saat mendampingi Mulki (kanan) berlatih wayang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Tak hanya itu, hingga kini ia juga terus melakukan pendampingan kepada beberapa dalang cilik di Sidoarjo dan Surabaya. Baginya, munculnya dalang-dalang cilik membuatnya turut berbangga, lantaran tongkat estafet untuk melestarikan budaya Indonesia bisa terus berlanjut.

“Saya bersyukur sekali ketika melihat generasi muda bahkan dibawah usia 5 tahun sudah ada yang minat dengan wayang dan pedalangan, tentu saya bangga dan bersyukur. Karena tanpa mereka, siapa yang akan melanjutkan budaya Jawa ini? Jangan sampai budaya ini diambil dan diakui oleh orang asing,” kata Prayogo.

“Saya dalang sepuh tidak laku tidak apa-apa, yang penting ini ada penerusnya, karena kan sama saja. Yang penting regenerasinya,” sambungnya.

Ia pun berharap, semua pihak, mulai dari orang tua, masyarakat, hingga pemerintah untuk saling mendukung hal ini. Karena akan sangat disayangkan apabila regenerasi ini berjalan, namun tidak diimbangi dengan iklim pertunjukan yang baik.

Seperti diketahui, wayang merupakan salah satu budaya tertua yang masih ada hingga sekarang. Nilai-nilai kehidupan pun banyak tersirat pada tiap cerita pewayangan, salah satunya terkait proses hidup manusia.

Contohnya pada pagelaran wayang yang memiliki penanda waktu dengan berbagai makna. Pertama, pathet 6 yang menggambarkan manusia lahir sampai remaja, lalu pathet 9 yang menggambarkan remaja sampai dewasa, dan manyuro yang artinya burung merak dan simbol manusia sudah mendekati masa tua, yang selanjutnya akan menghadap Yang Maha Kuasa.

“Ada nilai-nilai yang sebenarnya kalau dilihat di jaman sekarang atau kapanpun, itu bisa menjadi contoh baik dan juga tidak baik. Misal ketika di kisah Ramayana, saat hawa nafsu tidak dikendalikan akan menjadi sesuatu yang fatal, ada juga soal pengendalian diri,” jelasnya.

Tak hanya itu, tiap penokohan wayang juga mengambil filosofi kiblat papat lima pancer. Konsep ini menggambarkan 4 sisi emosi yang dilambangkan sebagai air, udara, bumi, api, dan manusia sebagai pusatnya. Semua itu harus seimbang disertai ketaatan ke Tuhan Yang Maha Esa.

“Itu filosofi kejawen bahwa hidup manusia itu terdiri dari banyu, angin, bumi, api, ini empat unsur menggambarkan nafsu manusia yaitu emosi pikiran, emosi kekuatan, emosi perasaan, emosi kebiasaan, dan manusia sebagai titik pusatnya. Jadi roh yang suci akan hidup sempurna ketika dilengkapi 4 unsur tadi, misal api amarah jadi baik karena ada unsur bumi lalu bisa menyesuaikan karena ada angin,” ucapnya.

Selanjutnya, pada kisah-kisah pewayangan yang ditampilkan, seperti Mahabarata hingga Ramayana. Tiap kisahnya bukan sekadar tontonan namun juga tuntunan yang menampilkan ungkapan dan pengalaman religius melalui berbagai simbol, tata gerak, suara, dan warna.

Jika mengamati cerita, lanjutnya, kisah mahabarata penuh dengan pedoman hidup yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bambang menjelaskan, kisah lima anak Pandu Dewanata dan Dewi Kunti yang biasa disebut pandawa itulah yang melambangkan sifat dasar manusia dan saling melengkapi.

Yudistira sebagai kakak tertua yang sangat bijaksana dan bermoral tinggi, Bima atau Werkudara yang kuat, teguh pada pendirian, ditakuti musuh, namun berhati lembut, Arjuna yang berjiwa kesatria dan cerdik, Nakula yang jujur, setia, pandai memainkan alat perang, dan si bungsu Sadewa yang rajin, suka membalas budi dan ahli astronomi.

“Pandawa itu lambang kebaikan sedangkan Kurawa itu lambang kejahatan. Kalau kita personifikasikan ke Islam, pandawa dan rukun Islam sama-sama ada lima. Makanya Puntadewa sebagai pimpinan Pandawa itu seakan syahadat. Lalu Bima di kisah pewayangan islam itu orang yang teguh tidak menggak-menggok selayaknya rukun islam kedua yaitu salat. Bima kalau mengemban tugas juga selalu jujur dan teguh,” tegasnya.

Tampilkan Semua

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.