Ketertarikan Generasi Muda Pada Wayang di Era Modernisasi

Yovie Wicaksono - 25 November 2023
Dalang cilik Cahyaning Wahyu Gesit Ardhana mementaskan wayang lakon Rajamala saat mengikuti Festival Dalang Kota Semarang 2022 di Gedung Oudetrap Kawasan Kota Lama Semarang, Jawa Tengah. Foto : (ANTARA/Aji Styawan)

SR, Surabaya – Eksistensi wayang di kalangan anak muda terekam dalam survei Super Radio pada 7-14 November 2023 dengan melibatkan 107 responden dengan rentang usia 15-27 tahun.

Hasilnya, sebanyak 68,3 persen diantaranya menilai wayang bukanlah kebudayaan kuno. Bahkan, 15 persen responden dari angka tersebut menyatakan sangat kontra ketika wayang diklasifikasikan sebagai kebudayaan yang ketinggalan zaman.

Di tengah penilaian generasi muda terkait klasifikasi seni pertunjukan wayang, pada saat yang sama dikuatkan dengan data penilaian tentang relevansi.

Hanya 21,5 persen yang menyebut kesenian wayang sudah tidak relevan dan 13,1 persen menyatakan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Namun, sebanyak 65,4 persen yang lain menilai seni budaya yang diakui UNESCO pada 2003 tersebut masih relevan di era modern.

Persepsi akan posisi seni pertunjukan wayang di era modern yang diungkapkan generasi muda dapat dimaknai sebagai hal positif. Di tengah fenomena merosotnya minat terhadap budaya lokal tradisional, generasi muda tetap memiliki preferensi positif terhadap seni pertunjukan wayang agar tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan zaman.

Preferensi positif generasi muda hadir sebagai respon atas makna tentang seni pertunjukan wayang. Selain dimaknai sebagai warisan budaya lokal tradisional, kesenian tersebut dinilai mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur yang diselipkan di setiap lakon.

Pertunjukan wayang pun dinilai menarik dan menghibur untuk dinikmati bersama. Sebanyak 60,7 persen responden menyatakan bahwa pertunjukan wayang bukanlah suatu hal yang membosankan. Angka tersebut menjelaskan bahwa generasi muda memiliki paradigma positif terhadap seni pertunjukan wayang.

 

Di sisi lain, upaya menjaga eksistensi pertunjukan wayang di kalangan generasi muda perlu terus dilakukan untuk menguatkan paradigma positif yang sudah tertanam.

Responden berharap wayang bisa dikombinasikan dengan teknologi modern. Dengan demikian, dapat menjadi semakin menarik dan relevan bagi generasi muda yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi.

Responden meyakini jika seni pertunjukan wayang diadakan secara rutin dan dipromosikan melalui media sosial akan menjaring lebih banyak minat generasi muda.

Aspek lain yang dipandang mendasar untuk menjaga eksistensi kesenian wayang menurut responden adalah dengan adanya dalang muda agar semakin dekat dan membius generasi muda untuk lebih mengenal seni pertunjukan wayang.

Ki Mulki, Dalang Cilik Asal Sidoarjo

Mulki Aiman Dharma Anugrah (11) atau Ki Mulki saat pementasan wayang. Foto : (dok.pribadi)

Regenerasi dalang maupun pecinta seni pertunjukan wayang rupanya tak perlu terlalu dikhawatirkan, karena faktanya, saat ini baik di sekolah pedalangan maupun karawitan, sanggar-sanggar pertunjukan wayang, hingga dalang cilik mulai banyak bermunculan.

Salah satunya adalah Mulki Aiman Dharma Anugrah (11) yang akrab disapa Ki Mulki saat pementasan. Dalang cilik asal Sukodono, Sidoarjo ini mulai tertarik dengan wayang sejak dirinya berusia sekira 3 atau 4 tahun.

“Sebelum TK pernah diajak pergi beli rawon, lalu ada orang tua yang jualan wayang, karena saya tertarik jadi saya minta dibelikan. Waktu itu wayang Arjuno terbuat dari gedebog (batang, red) pisang, itu wayang pertama yang saya punya,” ujarnya yang kini berada di kelas 6 sekolah dasar ini.

Usai memiliki wayang pertamanya, rupanya rasa keingintahuan Mulki akan pewayangan semakin besar. Hampir setiap hari, ia memainkan wayang tersebut dan lebih tertarik melihat tontonan wayang yang ada di youtube maupun televisi. Bahkan, saat ada pertunjukan wayang di kawasan Surabaya ataupun Sidoarjo, Mulki bersama keluarganya menyempatkan diri berangkat menyaksikan.

Pertanyaan-pertanyaan seputar wayang pun dilontarkannya kepada sang ayah. Namun, karena keterbatasan pengetahuan Darno, ayah Mulki, tentang wayang, membuatnya mengambil keputusan untuk mencarikan seorang guru atau mentor yang bisa membimbingnya.

“Bahkan dia belajar membaca itu pakai buku-buku Bahasa Jawa dan buku soal wayang. Karena dia suka memainkan wayang sendiri dan saya kan tidak bisa mengajari karena keterbatasan pengetahuan saya soal wayang, akhirnya saya cari-carikan mentor dan bertemu Pak Bambang Prayogo. Alhamdulillah cocok, mau belajar,” ujar Darno.

Mulki Aiman Dharma Anugrah saat berlatih untuk persiapan pementasan wayang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Bak gayung bersambut, ketertarikan Mulki yang disambut baik dan didukung oleh orang tuanya ini, lambat laun menunjukkan potensi Mulki. Dua kali dalam seminggu, mulai jam 3 hingga 5 sore, Mulki mulai belajar menekuni pewayangan dan pedalangan dengan bimbingan seorang dalang asal Banjarnegara, Jawa Tengah yang kini berdomisili di Sidoarjo, yakni Bambang Suprayogo (63) atau yang biasa disapa Ki Prayogo.

“Saya waktu pertama kali bertemu Mulki itu kagum dan kaget karena begitu saya mendengar atau nyanyian di dalam notasi jawa itu sudah laras, artinya titi nadanya sudah tepat dengan suara gamelan. Lalu tepangan atau caranya memegang wayang itu juga sudah baik, berbakat,” ujar Ki Prayogo.

Mengingat usia Mulki yang masih dibawah 5 tahun, saat itu Ki Prayogo pun menyiapkan kurikulum khusus untuknya. Hal utama yang di ajarkan adalah bagaimana anak bisa memegang wayang dengan benar, suluk atau nembang sesuai nada, kemudian bisa memainkan wayang dari kanan dan dari kiri, sebelum belajar lebih lanjut tentang wayang dan pedalangan.

Untuk mempermudah, ia juga menggunakan Bahasa Jawa yang lugas, sederhana dan tidak terlalu panjang di dalam sebuah dialog agar mudah dipahami.

Ki Prayogo juga memilih pagelaran padet untuk anak-anak, mengingat durasi pertunjukan wayang yang pada umumnya bisa semalam suntuk, yakni mulai jam 9 malam hingga 3 pagi, diringkas menjadi durasi satu jam pertunjukan tanpa mengurangi ceritanya mulai dari awal hingga akhir.

“Kalau dari awal secara filosofi cerita wayang itu kan menggambarkan lahirnya manusia sampai meninggalnya, di pagelaran padet itu kita tetap ada, terpenuhi semua, hanya saja dikemas secara padat dan singkat,” ujarnya.

Mulki Aiman Dharma Anugrah (kanan) saat berlatih untuk persiapan pementasan wayang bersama Ki Prayogo (kiri). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Setelah kurang lebih belajar wayang dan pedalangan selama 6 tahun, Ki Mulki telah melakukan pementasan sebanyak 12 kali, terbaru pada 11 November 2023 di Surabaya dalam rangka peringatan Hari Wayang Nasional, duet bersama dalang cilik juga asal Jawa Tengah.

“Dulu pertama kali pentas waktu usia 5 tahun di acara 17an yang diadakan RT tempat tinggal saya. Agak ragu saat pertama, tapi sekarang sudah mulai terbiasa saat pentas,” kata Ki Mulki.

Menurutnya, tak ada kesulitan yang berarti saat dirinya belajar tentang wayang dan pedalangan. Melainkan ia menyayangkan harga wayang kulit yang tidak murah, sehingga saat pementasan, ia harus menyewa wayang terlebih dahulu.

Disisi lain, sebagai orang tua, Darno tetap berusaha menyeimbangkan antara pendidikan akademis dan non akademis Ki Mulki. Lantaran tidak ingin mengganggu jadwal sekolah anaknya, ia membatasi waktu pementasan dan mengatur waktu berlatih Mulki.

“Sekarang belajar dalangnya sehabis maghrib dan dalam seminggu itu tentatif. Untuk durasi waktu pertunjukan juga kita batasi maksimal 1-2 jam saja,” ujar Darno.

“Karena Mulki juga masih anak-anak, masih proses belajar, kita tidak berorientasi tentang pertunjukan,” sambungnya.

Darno mengaku, dengan keluarga yang tak memiliki darah seni ataupun keturunan dalang ini juga turut bangga, mengingat anak semata wayangnya ini bisa menjaga, merawat, sekaligus melestarikan budaya luhur di tengah arus globalisasi yang dapat menggerus budaya lokal.

“Sebenarnya yang belajar bukan hanya Mulki, kita sebagai orang tua juga belajar dari kisah-kisah wayang, mulai dari kebijaksanaan, pilihan, yang tidak melihat sesuatu hanya hitam dan putih dalam kehidupan. Karena di dalam wayang itu ada tuntunan,” katanya.

Pentingnya Inovasi dan Terobosan untuk Kenalkan Wayang pada Generasi Muda

Sebagai seorang dalang yang tumbuh besar dan hidup dilingkungan pedalangan, Ki Prayogo terus berupaya untuk mengenalkan, mendekatkan, hingga mentransformasi ilmu tentang wayang dan pedalangan kepada khalayak umum, khususnya anak-anak dan generasi muda.

Tentu, hal ini tak bisa terjadi secara instan. Perlu kerja ekstra agar wayang tetap eksis di masa kini, terutama di kalangan muda. Perlu inovasi yang sesuai perkembangan zaman. Mulai dari mengembangkan kisah wayang klasik ke realitas saat ini, lalu dikemas lebih modern dengan durasi lebih singkat, hingga menambahkan hiburan yang bisa diterima semua kalangan.

“Wayang dengan pakemnya yang klasik harus dipertahankan, Mahabarata dan Ramayana harus tetap menjadi sumber cerita. Nah didalam klasik ada pengembangan dan dari pagelaran yang durasinya sampai 8 jam bisa dikemas jadi 1-2 jam jadi lebih pada, jadi anak muda bisa tetap menikmati cerita,” tuturnya.

“Satu upaya yang pernah saya lakukan agar wayang lebih dikemas modern, saya pernah di tahun 1995-1996 mengemas wayang dengan iringan electone. Iringan gamelan bisa saya ringkas dengan record yang bisa di play di electone, hasilnya jadi wayang minimalis,” imbuhnya.

Kemudian pada 2006 silam, dirinya menggelar pementasan wayang di pusat-pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Meski para pengunjung silih berganti, datang dan pergi, ia meyakini, setidaknya dari sekian pengunjung akan tertarik dengan apa yang ditampilkannya.

Hal itu diakuinya cukup berhasil, mengingat saat itu banyak media yang menghubunginya untuk melakukan wawancara dan dari situ, semakin banyak lagi orang yang mengenal dan tertarik dengan wayang.

“Saya pikir terobosan seperti itu yang harus kita lakukan, mendekatkan wayang kepada khalayak umum, khususnya anak-anak maupun generasi muda,” ujarnya.

Ki Prayogo (kiri) saat mendampingi Mulki (kanan) berlatih wayang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Tak hanya itu, hingga kini ia juga terus melakukan pendampingan kepada beberapa dalang cilik di Sidoarjo dan Surabaya. Baginya, munculnya dalang-dalang cilik membuatnya turut berbangga, lantaran tongkat estafet untuk melestarikan budaya Indonesia bisa terus berlanjut.

“Saya bersyukur sekali ketika melihat generasi muda bahkan dibawah usia 5 tahun sudah ada yang minat dengan wayang dan pedalangan, tentu saya bangga dan bersyukur. Karena tanpa mereka, siapa yang akan melanjutkan budaya Jawa ini? Jangan sampai budaya ini diambil dan diakui oleh orang asing,” kata Prayogo.

“Saya dalang sepuh tidak laku tidak apa-apa, yang penting ini ada penerusnya, karena kan sama saja. Yang penting regenerasinya,” sambungnya.

Ia pun berharap, semua pihak, mulai dari orang tua, masyarakat, hingga pemerintah untuk saling mendukung hal ini. Karena akan sangat disayangkan apabila regenerasi ini berjalan, namun tidak diimbangi dengan iklim pertunjukan yang baik.

Seperti diketahui, wayang merupakan salah satu budaya tertua yang masih ada hingga sekarang. Nilai-nilai kehidupan pun banyak tersirat pada tiap cerita pewayangan, salah satunya terkait proses hidup manusia.

Contohnya pada pagelaran wayang yang memiliki penanda waktu dengan berbagai makna. Pertama, pathet 6 yang menggambarkan manusia lahir sampai remaja, lalu pathet 9 yang menggambarkan remaja sampai dewasa, dan manyuro yang artinya burung merak dan simbol manusia sudah mendekati masa tua, yang selanjutnya akan menghadap Yang Maha Kuasa.

“Ada nilai-nilai yang sebenarnya kalau dilihat di jaman sekarang atau kapanpun, itu bisa menjadi contoh baik dan juga tidak baik. Misal ketika di kisah Ramayana, saat hawa nafsu tidak dikendalikan akan menjadi sesuatu yang fatal, ada juga soal pengendalian diri,” jelasnya.

Tak hanya itu, tiap penokohan wayang juga mengambil filosofi kiblat papat lima pancer. Konsep ini menggambarkan 4 sisi emosi yang dilambangkan sebagai air, udara, bumi, api, dan manusia sebagai pusatnya. Semua itu harus seimbang disertai ketaatan ke Tuhan Yang Maha Esa.

“Itu filosofi kejawen bahwa hidup manusia itu terdiri dari banyu, angin, bumi, api, ini empat unsur menggambarkan nafsu manusia yaitu emosi pikiran, emosi kekuatan, emosi perasaan, emosi kebiasaan, dan manusia sebagai titik pusatnya. Jadi roh yang suci akan hidup sempurna ketika dilengkapi 4 unsur tadi, misal api amarah jadi baik karena ada unsur bumi lalu bisa menyesuaikan karena ada angin,” ucapnya.

Selanjutnya, pada kisah-kisah pewayangan yang ditampilkan, seperti Mahabarata hingga Ramayana. Tiap kisahnya bukan sekadar tontonan namun juga tuntunan yang menampilkan ungkapan dan pengalaman religius melalui berbagai simbol, tata gerak, suara, dan warna.

Jika mengamati cerita, lanjutnya, kisah mahabarata penuh dengan pedoman hidup yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi. Bambang menjelaskan, kisah lima anak Pandu Dewanata dan Dewi Kunti yang biasa disebut pandawa itulah yang melambangkan sifat dasar manusia dan saling melengkapi.

Yudistira sebagai kakak tertua yang sangat bijaksana dan bermoral tinggi, Bima atau Werkudara yang kuat, teguh pada pendirian, ditakuti musuh, namun berhati lembut, Arjuna yang berjiwa kesatria dan cerdik, Nakula yang jujur, setia, pandai memainkan alat perang, dan si bungsu Sadewa yang rajin, suka membalas budi dan ahli astronomi.

“Pandawa itu lambang kebaikan sedangkan Kurawa itu lambang kejahatan. Kalau kita personifikasikan ke Islam, pandawa dan rukun Islam sama-sama ada lima. Makanya Puntadewa sebagai pimpinan Pandawa itu seakan syahadat. Lalu Bima di kisah pewayangan islam itu orang yang teguh tidak menggak-menggok selayaknya rukun islam kedua yaitu salat. Bima kalau mengemban tugas juga selalu jujur dan teguh,” tegasnya.

Upaya Pemerintah dalam Pelestarian Wayang

Wayang Suket. Foto : Istimewa

Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, Wiwiek Widayati menjelaskan, upaya yang dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam melestarikan wayang, salah satunya adalah melalui kebijakan yang dapat mengarah dalam pelestarian kebudayaan nasional, terutama memberikan support seniman wayang yang ada di Kota Pahlawan.

“Seniman yang bergerak di bidang wayang itu, kami secara rutin telah memberikan ruang bagi mereka. Karena untuk mengekspresikannya secara langsung dengan menyaksikan atau belajar untuk terlibat langsung agar mendapat sebuah pengalaman kultural,” kata Wiwiek.

Wiwiek menjelaskan, wayang akan bertahan jika terus dipelajari dan dipentaskan dalam masyarakat. Pertunjukan wayang yang selalu diadakan secara berkala, dinilai dapat menarik antusias penonton terutama yang suka dalam pewayangan.

“Pemkot menampilkan wayang pada setiap acara besar nasional. Hal ini menjadi bentuk upaya pemerintah untuk mengenalkan kesenian wayang kepada generasi muda,” ujarnya.

“Kami secara besar garis makro bukan hanya wayang kulit saja dalam mengupayakan melestarikan budaya, tapi ada banyak macamnya, seperti dalang kecil, ludruk, dan juga kesenian tradisional maupun modern lainnya,” jelasnya.

Wiwiek menambahkan, wayang memiliki nilai moral tersendiri, yang mana itu bisa menjadi bagian dari pendidikan karakter untuk anak-anak dan generasi muda penerus bangsa.

“InsyaAllah akhir November ini, setelah pentas di Cak Durasim Surabaya, kami akan menggelar pertunjukan di Geoks Arts Space Bali,” pungkasnya. (tim/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.