Ketertarikan Generasi Muda Pada Wayang di Era Modernisasi

Yovie Wicaksono - 25 November 2023

Ki Mulki, Dalang Cilik Asal Sidoarjo

Mulki Aiman Dharma Anugrah (11) atau Ki Mulki saat pementasan wayang. Foto : (dok.pribadi)

Regenerasi dalang maupun pecinta seni pertunjukan wayang rupanya tak perlu terlalu dikhawatirkan, karena faktanya, saat ini baik di sekolah pedalangan maupun karawitan, sanggar-sanggar pertunjukan wayang, hingga dalang cilik mulai banyak bermunculan.

Salah satunya adalah Mulki Aiman Dharma Anugrah (11) yang akrab disapa Ki Mulki saat pementasan. Dalang cilik asal Sukodono, Sidoarjo ini mulai tertarik dengan wayang sejak dirinya berusia sekira 3 atau 4 tahun.

“Sebelum TK pernah diajak pergi beli rawon, lalu ada orang tua yang jualan wayang, karena saya tertarik jadi saya minta dibelikan. Waktu itu wayang Arjuno terbuat dari gedebog (batang, red) pisang, itu wayang pertama yang saya punya,” ujarnya yang kini berada di kelas 6 sekolah dasar ini.

Usai memiliki wayang pertamanya, rupanya rasa keingintahuan Mulki akan pewayangan semakin besar. Hampir setiap hari, ia memainkan wayang tersebut dan lebih tertarik melihat tontonan wayang yang ada di youtube maupun televisi. Bahkan, saat ada pertunjukan wayang di kawasan Surabaya ataupun Sidoarjo, Mulki bersama keluarganya menyempatkan diri berangkat menyaksikan.

Pertanyaan-pertanyaan seputar wayang pun dilontarkannya kepada sang ayah. Namun, karena keterbatasan pengetahuan Darno, ayah Mulki, tentang wayang, membuatnya mengambil keputusan untuk mencarikan seorang guru atau mentor yang bisa membimbingnya.

“Bahkan dia belajar membaca itu pakai buku-buku Bahasa Jawa dan buku soal wayang. Karena dia suka memainkan wayang sendiri dan saya kan tidak bisa mengajari karena keterbatasan pengetahuan saya soal wayang, akhirnya saya cari-carikan mentor dan bertemu Pak Bambang Prayogo. Alhamdulillah cocok, mau belajar,” ujar Darno.

Mulki Aiman Dharma Anugrah saat berlatih untuk persiapan pementasan wayang. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Bak gayung bersambut, ketertarikan Mulki yang disambut baik dan didukung oleh orang tuanya ini, lambat laun menunjukkan potensi Mulki. Dua kali dalam seminggu, mulai jam 3 hingga 5 sore, Mulki mulai belajar menekuni pewayangan dan pedalangan dengan bimbingan seorang dalang asal Banjarnegara, Jawa Tengah yang kini berdomisili di Sidoarjo, yakni Bambang Suprayogo (63) atau yang biasa disapa Ki Prayogo.

“Saya waktu pertama kali bertemu Mulki itu kagum dan kaget karena begitu saya mendengar atau nyanyian di dalam notasi jawa itu sudah laras, artinya titi nadanya sudah tepat dengan suara gamelan. Lalu tepangan atau caranya memegang wayang itu juga sudah baik, berbakat,” ujar Ki Prayogo.

Mengingat usia Mulki yang masih dibawah 5 tahun, saat itu Ki Prayogo pun menyiapkan kurikulum khusus untuknya. Hal utama yang di ajarkan adalah bagaimana anak bisa memegang wayang dengan benar, suluk atau nembang sesuai nada, kemudian bisa memainkan wayang dari kanan dan dari kiri, sebelum belajar lebih lanjut tentang wayang dan pedalangan.

Untuk mempermudah, ia juga menggunakan Bahasa Jawa yang lugas, sederhana dan tidak terlalu panjang di dalam sebuah dialog agar mudah dipahami.

Ki Prayogo juga memilih pagelaran padet untuk anak-anak, mengingat durasi pertunjukan wayang yang pada umumnya bisa semalam suntuk, yakni mulai jam 9 malam hingga 3 pagi, diringkas menjadi durasi satu jam pertunjukan tanpa mengurangi ceritanya mulai dari awal hingga akhir.

“Kalau dari awal secara filosofi cerita wayang itu kan menggambarkan lahirnya manusia sampai meninggalnya, di pagelaran padet itu kita tetap ada, terpenuhi semua, hanya saja dikemas secara padat dan singkat,” ujarnya.

Mulki Aiman Dharma Anugrah (kanan) saat berlatih untuk persiapan pementasan wayang bersama Ki Prayogo (kiri). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Setelah kurang lebih belajar wayang dan pedalangan selama 6 tahun, Ki Mulki telah melakukan pementasan sebanyak 12 kali, terbaru pada 11 November 2023 di Surabaya dalam rangka peringatan Hari Wayang Nasional, duet bersama dalang cilik juga asal Jawa Tengah.

“Dulu pertama kali pentas waktu usia 5 tahun di acara 17an yang diadakan RT tempat tinggal saya. Agak ragu saat pertama, tapi sekarang sudah mulai terbiasa saat pentas,” kata Ki Mulki.

Menurutnya, tak ada kesulitan yang berarti saat dirinya belajar tentang wayang dan pedalangan. Melainkan ia menyayangkan harga wayang kulit yang tidak murah, sehingga saat pementasan, ia harus menyewa wayang terlebih dahulu.

Disisi lain, sebagai orang tua, Darno tetap berusaha menyeimbangkan antara pendidikan akademis dan non akademis Ki Mulki. Lantaran tidak ingin mengganggu jadwal sekolah anaknya, ia membatasi waktu pementasan dan mengatur waktu berlatih Mulki.

“Sekarang belajar dalangnya sehabis maghrib dan dalam seminggu itu tentatif. Untuk durasi waktu pertunjukan juga kita batasi maksimal 1-2 jam saja,” ujar Darno.

“Karena Mulki juga masih anak-anak, masih proses belajar, kita tidak berorientasi tentang pertunjukan,” sambungnya.

Darno mengaku, dengan keluarga yang tak memiliki darah seni ataupun keturunan dalang ini juga turut bangga, mengingat anak semata wayangnya ini bisa menjaga, merawat, sekaligus melestarikan budaya luhur di tengah arus globalisasi yang dapat menggerus budaya lokal.

“Sebenarnya yang belajar bukan hanya Mulki, kita sebagai orang tua juga belajar dari kisah-kisah wayang, mulai dari kebijaksanaan, pilihan, yang tidak melihat sesuatu hanya hitam dan putih dalam kehidupan. Karena di dalam wayang itu ada tuntunan,” katanya.

Tampilkan Semua

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.