Ketahui Mentruasi Normal dan Tidak Normal Pada Wanita

Yovie Wicaksono - 4 June 2022
Ilustrasi Siklus Menstruasi. Foto : (Shutterstock)

SR, Jakarta – Mentruasi adalah pendarahan vagina yang normal dan merupakan bagian dari suatu siklus yang biasa terjadi setiap bulan. Normalnya setiap bulan tubuh akan mempersiapkan diri untuk terjadinya kehamilan, tetapi jika tidak terjadi pembuahan maka akan terjadi menstruasi.

“Normalnya saat memasuki masa pubertas akan terjadi pematangan sistem saraf dan juga produksi hormon-hormon dalam tubuh yang terjadi untuk perkembangan ciri-ciri seksual sekunder, dan juga persiapan terjadinya pematangan sel telur sehingga tubuh siap untuk hamil,” kata Embriologist bocah Indonesia, dokter Kelby Lesmana.

Proses persiapan tubuh untuk kehamilan, kata Kelby, salah satunya akan mempersiapkan dinding rahim sehingga terjadi perubahan pada dinding rahim. Ketika tidak terjadi kehamilan, perubahan tersebut akan hilang karena hormon-hormon akan kembali ke kadar semula, sehingga dinding rahim akan luruh dan terjadi menstruasi.

“Jika ada yang berubah atau terganggu pada sistem-sistem saraf dan produksi hormon-hormon reproduksi, maka siklus menstruasi dapat terganggu,” katanya.

Menstruasi pertama atau disebut “menarche” terjadi umumnya di usia 11 – 14 tahun, namun sifatnya bervariasi karena tergantung ras dan negara masing-masing. Akan tetapi, biasanya akan terjadi jika pertumbuhan payudara sudah selesai, atau rata-rata 2-3 tahun setelah mulai bertumbuhnya payudara.

“Pada tahun-tahun awal menarche bisa saja siklus menstruasi belum teratur, namun kebanyakan masih dalam kurun waktu 21 – 45 hari dan berlangsung 2 – 7 hari. Usia menarche yang lebih besar, akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai siklus yang teratur,” kata Kelby.

Kelby mengatakan, pendarahan pada siklus menstruasi yang normal biasanya akan luruh sekitar 30 – 40 mL darah, atau sekira 3 – 6 pembalut atau tampon per hari, dan biasanya rata-rata berkisar 2 – 7 hari.

“Jika kehilangan darah lebih dari 80 mL atau lebih dari 7 hari dan berjumlah banyak, maka bisa saja ada gangguan pada siklus mentsruasi,” katanya.

Ia mengatakan, ada beberapa bentuk gangguan menstruasi yaitu amenorrhea (tidak ada perdarahan), AUB atau perdarahan uterin yang abnormal (baik tidak ada, tidak teratur, berlebihan, atau ada perdarahan di antara siklus), dan dysmenorrhea (rasa nyeri yang berlebihan dan dapat disertai gejala-gejala lainnya).

Amenorrhea dibagi menjadi primer (setelah menginjak usia 15 tahun atau 3 tahun sejak berkembangnya ciri seks sekunder) masih belum menstruasi, atau tidak muncul ciri-ciri perkembangan seks sekunder pada usia 13 tahun. Kemudian sekunder, yaitu tidak terjadi menstruasi dalam 6 bulan pada perempuan yang sebelumnya sudah pernah menstruasi.

“Penyebabnya dapat beragam, hal-hal yang terkait dengan kehidupan sehari-hari adalah anorexia atau gangguan pola makan, latihan fisik yang berlebihan dan stress,” kata Kelby.

Kelby mengatakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Untuk anak-anak remaja, yaitu apakah pertumbuhan seks sekundernya normal, apakah sudah menstruasi atau belum ketika memasuki usia 15 tahun, atau 3 tahun setelah payudara mulai tumbuh. Kemudian, perlu juga diperhatikan jika terjadi pertumbuhan ciri seks sekunder laki-laki pada anak perempuan (tumbuh rambut wajah khas laki-laki, dada menjadi bidang, suara memberat).

Kemudian, usia menarche yang terlalu dini seperti pada usia 9 tahun juga dapat menandakan adanya ketidakseimbangan hormonal, dan sebaiknya diperiksakan.

“Pola siklus juga perlu diperhatikan terutama 6-12 bulan terakhir, serta durasi dan beratnya perdarahan pada setiap siklus menstruasi. Nyeri pinggang terkait menstruasi, riwayat aktivitas seksual, riwayat penyakit kronik, atau konsumsi obat-obatan atau suplemen juga perlu diperhatikan,” kata Kelby.

Ia menegaskan, perlu diketahui pola menstruasi yang normal atau tidak, kemudian jika terdapat tanda atau gejala yang mengarah terhadap kondisi medis tertentu sebaiknya diperiksakan ke dokter spesialis terkait.

“Pemeriksaan dan tata laksana yang diberikan akan berbeda dari individu ke individu bergantung pada penyakit atau kondisi yang mendasari,” sambungnya. (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.