Kasus Ferdian, Masih Adanya Stigma pada Kelompok Transpuan

Yovie Wicaksono - 5 May 2020
Ilustrasi. Foto : (medium.com)

SR, Surabaya – Sosiolog Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, Bagong Suyanto mengatakan, selama ini masih banyak stigma atau cara pandang masyarakat yang negatif kepada kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender/transeksual (LGBT).

Contoh terbaru adalah kejadian viral yang melibatkan YouTuber Ferdian Paleka, saat membuat konten prank bermodus membagikan sembako yang ternyata berisi sampah serta batu kepada transpuan di kawasan Bandung.

Bagong menegaskan, aksi YouTuber tersebut tidak bisa dianggap sebagai guyonan, karena telah melukai harkat, martabat, dan hati nurani kelompok transpuan.

“Yang dilakukan oleh Ferdian itu menurut saya mengusik nurani banyak orang karena dilakukan pada momen yang salah. Dimana semua orang sedang prihatin. Mungkin kalau kondisinya normal, orang akan bisa sedikit memahami itu sebagai guyonan, meskipun saya pribadi tidak setuju dengan guyonan yang dilakukan oleh YouTuber itu. Karena menurut saya itu guyonan yang melukai harkat martabat, melukai kehormatan, hati dan nurani kelompok tersebut,” ujarnya.

“Mereka posisinya kan sudah sulit, jangan ditambah dengan perlakuan-perlakuan yang mendiskreditkan apalagi menghina,” imbuhnya.

Bagong melihat pentingnya kasus ini bukan hanya pada penindakan hukumnya, tetapi lebih kepada pembelajaran bagi semua YouTuber bahwa untuk mencari popularitas bukan berarti dengan menghalalkan segala cara, namun tetap berpegang pada kepantasan moral dan sosial.

“Saya kira YouTuber itu harusnya tertantang untuk berkreasi tanpa harus mengorbankan atau menyakiti orang lain, dan ini juga menjadi pelajaran bagi kita semua,” tandasnya.

Sementara itu, aktivis Persatuan Waria Kota Surabaya (Perwakos), Cantika tidak berkomentar terlalu jauh terkait kasus tersebut. Namun ia mendukung upaya kelompok transpuan di Bandung yang telah melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwajib.

“Saya tidak berkomentar terlalu jauh, karena secara pribadi saya juga tidak mengenal yang bersangkutan. Tapi saya mendukung kawan-kawan yang ada di Bandung,” ujar Cantika.

Transpuan asal Bogor ini mengaku, untuk menghilangkan stigma negatif di masyarakat terkait dengan kelompoknya, Perwakos telah aktif melakukan berbagai kegiatan bersama masyarakat, seperti turut serta dalam karang taruna dan lainnya.

“Kami tidak pernah ada masalah dengan masyarakat sekitar, kami hidup berdampingan. Selama kita bersikap baik orang lain juga akan bersikap baik. Justru kita seringkali mendapatkan pelecehan secara verbal maupun fisik itu saat diluar, dari orang yang tidak kita kenal,” ujarnya.

Cantika mengatakan, dalam situasi di tengah pandemi virus corona (Covid-19) ini, dirinya dan transpuan di Perwakos semakin sulit untuk mendapatkan penghasilan.

“Kita palingan kerja itu ya di salon atau ngamen. Kondisi normal saja pekerjaan untuk kita terbatas, apalagi saat ini. Biasanya sehari ngamen dapat seratus ribu, sekarang hanya dapat dua puluh lima ribu. Saya yang kerja di salon juga sama, sepi semua,” katanya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.