Kasus Femisida Jatim Dominan Berlatar Asmara
SR, Surabaya – Kasus pembunuhan yang disengaja terhadap perempuan, atau yang dikenal sebagai femisida, tengah menjadi perhatian publik belakangan ini. Berdasarkan data Catatan Akhir Tahun (Catahu) Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kota Surabaya, dari 41 kasus kekerasan terhadap perempuan di Jawa Timur, tujuh di antaranya menunjukkan tingkat ekstrem hingga merenggut nyawa korban.
“Dari data layanan kita, paling banyak kedua adalah kasus kekerasan perempuan, bahkan ada tujuh kasus pembunuhan terhadap perempuan. Ini sebenarnya menjadi berita yang sangat buruk bagi kita,” ujar pengacara publik LBH Surabaya, Yaritza Mutiaraningtyas.
Penyebab utama kasus femisida ini beragam, dengan faktor hubungan asmara sebagai yang paling dominan. “Misalnya, ada kecemburuan yang berujung pada pembunuhan. Itu sangat keji sekali,” tambah Yaritza.
Salah satu kasus yang mencuat, kata Yaritza, adalah insiden tragis yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura. Korban dibakar hidup-hidup setelah meminta pertanggungjawaban kepada pelaku yang telah menghamilinya.
Perempuan yang kerap disapa Icha itu menjelaskan, kebanyakan korban mengalami konflik sebelum insiden pembunuhan terjadi, seperti pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), atau ketergantungan emosional yang tidak sehat.
“Terlalu bucin (budak cinta) sehingga mau melakukan apa saja (termasuk hubungan badan), dan ketika meminta pertanggungjawaban kehamilan, malah dibunuh,” jelasnya.
Untuk mencegah kejadian serupa, LBH Surabaya telah berupaya melakukan kampanye publik dan edukasi kepada masyarakat, terutama remaja. “Kami bermitra dengan dinas-dinas terkait untuk mendorong edukasi ini. Harapannya, pemerintah juga memberikan layanan edukasi dan psikologis agar perempuan bisa dengan gamblang membedakan mana yang baik dan buruk,” ujar Yaritza.
Namun, masih terdapat kesenjangan akses edukasi antara wilayah perkotaan dan pedesaan. “Di kota mungkin akses lebih terbuka, tapi di desa atau kabupaten, perempuan belum sepenuhnya mendapatkan informasi dan edukasi seperti itu,” tambahnya.
Ironisnya, tambah Icha, sebagian besar pelaku kekerasan adalah orang terdekat, seperti suami atau pacar. Hal ini menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi perempuan dan anak perempuan.
“Kalau dulu kampanye kita adalah jangan dekat-dekat dengan orang asing. Tapi sekarang, pelaku kebanyakan justru dari orang dalam atau terdekat itu sendiri,” jelasnya.
Icha mengaku, masih banyak menemui perempuan yang tidak menyadari bahwa mereka adalah korban kekerasan. Mereka cenderung menganggap kekerasan hanya berupa tindakan fisik, padahal kekerasan bisa juga berbentuk seksual, psikis, verbal, atau ekonomi. Edukasi menjadi kunci penting untuk membuka kesadaran tersebut.
“Harapan saya, pemerintah yang baru ini bisa memasukkan pendidikan terkait anti kekerasan, HAM, dan isu gender ke dalam kurikulum sekolah. Dengan demikian, sejak dini sudah ada pencegahan. Bukan hanya menangani kasus yang sudah terjadi, tetapi juga mencegahnya sebelum terjadi. Semoga tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban kekerasan bahkan sampai kehilangan nyawa” pungkasnya. (nio/red)
Tags: asmara, bucin, femisida, lbh surabaya
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





