“Jogo Tonggo” di Tengah Pandemi Corona

Yovie Wicaksono - 23 May 2020
Ilustrasi. Foto : (shutterstock)

SR, Surabaya – Di tengah situasi pandemi virus corona (Covid-19), di Surabaya, sebagian masyarakat mempraktikkan “jogo tonggo” atau menjaga tetangga, dengan cara gotong royong membantu mereka yang membutuhkan. Seperti halnya, apa yang dilakukan ibu-ibu dari wali murid SD Muhammadiyah 6 Surabaya.

Mereka tergerak melakukan penggalangan dana untuk membantu keluarga pedagang bakso yang dinyatakan positif Covid-19. Seperti ramai diberitakan, seorang pedagang bakso di Surabaya yang terkonfirmasi positif Covid-19 dijemput tim gabungan saat sedang berjualan, Sabtu (16/5/2020).

“Kalau dikatakan kita tetanggaan dekat sih sebenarnya kita beda RT dan beda RW juga. Sebenarnya saya tidak mendapatkan informasi yang lengkap sekali, tapi sebatas dapat informasi dari tetangga kanan kiri. Beliaunya ini kan nge kost dengan anaknya, informasinya beliau orang tua tunggal. Kemudian informasi yang lagi viral ini kan bilang kost-kostannya ada tunggakan, anaknya juga ada tunggakan SPP yang belum dibayar,” ujar perwakilan dari ibu-ibu wali murid SD Muhammadiyah 6 Surabaya, Sofiana Ratih, Sabtu (23/5/2020).

“Gimana nih ada kayak gini, kenapa gak kita bantu. Akhirnya kita melakukan kesepakatan, yuk kita berbagi, kita bantu bareng-bareng,” imbuhnya.

Sofie mengatakan, di tengah situasi saat ini, penting adanya rasa untuk saling menguatkan dan membantu sesama.

“Jadi bagaimana caranya yang merasa berat, kita bantu agar ringan. Saling menguatkan lah. Maka ayolah kita berbuat kebaikan, dan saling menguatkan,” tandasnya.

Bantuan berupa uang tunai yang berhasil dikumpulkan sejak sepekan lalu, diserahkan kepada Ketua RT dan Ketua RW dimana warga positif corona tersebut tinggal pada Jumat (22/5/2020).

Ketua RT setempat, Suroso mengatakan, pedagang bakso itu positif Covid-19 akibat tinggal satu lingkungan bersama salah seorang klaster Sampoerna di Jalan Bendul Merisi Jaya gang Buntu.

Pada 6 Mei, dilakukan swab kepada 17 orang yang tinggal di kampung tersebut. Hasil swab yang keluar 16 Mei, menyebutkan tiga orang positif Covid-19, yakni pedagang bakso, tukang becak dan seorang cucunya. Mereka semuanya positif tanpa gejala.

“Sekarang yang melakukan isolasi mandiri ada 17 orang dari 7 keluarga yang tinggal satu lingkungan tersebut. Selama isolasi mandiri juga mendapatkan permakanan tiga kali sehari,” ujarnya.

Terkait beredarnya foto yang berisi pesan dari anak pedagang bakso yang mengeluhkan kondisinya, Suroso mengaku tidak mengetahui informasi tersebut.

“Saya tidak tahu itu, justru saya nggak pernah tahu informasi yang itu,” ujarnya.

“Tapi kalau lihat kata-katanya itu memang kayaknya anaknya pak itu, soalnya benar dia punya adik terus keluhannya kalau bapaknya diisolasi terus baksonya nasibnya gimana, kalau lama-lama di kulkas kan akhirnya rusak dan tidak bisa dijual. Terus bapaknya diisolasi siapa yang mencukupi kebutuhannya. Tapi itu chattingnya bukan ke RT/RW, ndak tau dikirim ke siapa,” imbuh Ketua RW setempat, Didik Priyatno.

Setelah beredarnya informasi tersebut, Didik mengatakan banyak pihak bergotong royong memberikan bantuan untuk warga yang saat ini melakukan isolasi mandiri maupun warga terdampak lainnya.

“Warga Bendul se kelurahan sudah melakukan penggalangan dana. Kami juga berterima kasih kepada masyarakat yang telah memberikan donasi untuk penanganan situasi saat ini,” tandasnya.

Setelah mengetahui bila ada warganya yang positif corona, pihak RT/RW setempat semakin gencar melakukan imbauan terkait pencegahan penyebaran virus corona, serta melakukan penyemprotan disinfektan.

“Imbauan terus kami lakukan, dan perlu ditingkatkan lagi untuk kedisiplinan warga agar terhindar dari penyebaran virus ini,” ujarnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.