Jejak Permukiman Elit Majapahit

Yovie Wicaksono - 31 October 2020
Situs Sumur Upas, di Dukuh Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Mojokerto – Berbicara situs sejarah di Kabupaten Mojokerto tak pernah ada habisnya. Salah satunya adalah Situs Sumur Upas, di Dukuh Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan.

Dalam penelitian arkeologi kota Trowulan Kuno, Situs Sumur Upas termasuk dalam Sektor Sentonorejo, sektor yang terbilang istimewa karena kepadatan, keragaman, dan kualitas temuannya.

Bila Trowulan Kuno diduga kuat sebagai ibu kota Kerajaan Majapahit di abad ke 13 sampai 15 Masehi, Situs Sumur Upas kemungkinan merupakan sisa-sisa dari sebuah permukiman kalangan elit atau bangsawan Majapahit. Bahkan, bisa jadi bagian dari kompleks keraton kerajaan besar itu.

Berdasarkan literatur yang ada, nama Sumur Upas ditujukan untuk sebuah struktur di tengah area situs dengan lubang seperti sumuran dibagian atasnya. Sumur itu saat ini ditutup batu andesit berpermukaan datar (watu gilang).

Konon, sumur itu mengandung uap racun, sehingga bangunan tersebut dinamakan Sumur Upas, yang dimana dalam Bahasa Jawa upas artinya racun.

“Sumur Upas berdasarkan cerita itu tembus ke Pantai Selatan, gaib nya,” ujar juru pelihara situs, Samiso (64).

Di kompleks Situs Sumur Upas, terdapat Candi Kedaton. Posisinya di timur laut Sumur Upas. Nama Candi Kedaton diberikan oleh masyarakat setempat karena struktur itu ditemukan berada di Dukuh Kedaton. Berdasarkan analisis temuan, diperkirakan Candi Kedaton dibangun sekurang-kurangnya pada abad yang sama yaitu abad XIII-XIV.

Dalam penggalian arkeologi, di selatan struktur Sumur Upas pernah ditemukan satu kerangka manusia yang dikuburkan. Makamnya dibuat dari susunan bata tanpa menggali membentuk lubang persegi tempat jasad diletakkan.

Empat kerangka manusia lainnya juga ditemukan di atas Candi Kedaton. “Dulu di Candi Kedaton ditemukan ada empat kerangka manusia. Sekarang sudah di peti dan disimpan,” ujar pria yang sudah menjadi juru pelihara selama 20 tahun ini.

Sumur Upas. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Di Situs Sumur Upas ada lima struktur air, yaitu berupa sumur persegi di depan Candi Kedaton; bak air persegi atau Kolahan; kesatuan kolam Sanggar Pamelengan dan kolam berdinding lengkung beserta kolam parit penghubungnya; kolam parit di selatan Kolahan; serta satu kolam parit lagi yang memanjang utara-selatan di selatan Candi Kedaton.

Identifikasi sebagai struktur air jelas terlihat dari pemakaian lepa membuat bangunan menjadi kedap air dan bukti lainnya adalah temuan jaladwara (pancuran air) berbentuk arca singa berbadan manusia.

Keberadaan struktur air tersebut dapat dipahami terkait dugaan bahwa Situs Sumur Upas adalah situs permukiman dan bangunan keagamaan. Selain untuk kebutuhan sehari-hari, air juga dianggap sebagai simbol kesucian dalam kehidupan religi yang berfungsi untuk mensucikan diri.

“Sumur di depan Candi Kedaton masih dipakai sampai sekarang. Airnya dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti sakit ginjal, asma, gatal-gatal itu bisa sembuh kalau percaya,” kata Samiso.

Struktur air yang menyatukan Sanggar Pamelengan dengan kolam berdinding lengkung beserta parit penghubungnya, menjadi sesuatu yang sangat menarik di Situs Sumur Upas. Bentuknya tak beraturan menyerupai lorong-lorong yang melebar dan menyempit. Ketinggian lantainya pun berbeda-beda. Di bagian lorong paling sempit, dari arah selatan, tinggi lantai naik sekitar satu meter, kemudian turun kembali ke ketinggian semula ketika masuk ke Sanggar Pamelengan.

Adapun artefak yang pernah ditemukan di situs ini antara lain umpak batu, fragmen gerabah, terakota, keramik asing yang kebanyakan berasal dari China dan sebagian besar dibuat dari pada masa pemerintahan Dinasti Ming abad XIV-XVII dan Yuan abad XIII-XIV, mata uang Cina dan Belanda, perhiasan emas atau logam, serta beberapa arca dan sebuah nisan.

Barang-barang dari tanah liat bakar, pecahan atau utuh, adalah artefak yang paling banyak ditemukan di Situs Sumur Upas – Kedaton. Bentuknya ada yang berupa wadah (tembikar), ada pula yang berupa benda-benda hiasan atau ornamen bangunan (terakota).

Di Trowulan, barang-barang tembikar atau terakota memang umum ditemukan dalam setiap penggalian arkeologi. Tradisi pembuatan tembikar dan terakota seperti mencapai puncak perkembangannya di masa Majapahit ini. Temuan tembikar dan terakota, terutama yang berupa barang keperluan sehari-hari, menjadi indikator keberadaan sebuah permukiman.

Situs Sumur Upas ini menjadi penting bagi upaya penelitian tentang kerajaan Majapahit dan tentu saja harus terjaga kelestariannya sebagai bukti nyata dari keseluruhan kisah kesejarahan Majapahit. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.