Jadi Legislatif, Agatha Berbagi Kisah

Yovie Wicaksono - 9 July 2020
Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur Agatha Retnosari. Foto : (Istimewa)

SR, Surabaya – Anggota legislatif perempuan dinilai memiliki peran penting dalam mengawal kebijakan yang ramah terhadap perempuan dan anak. Penegasan ini disampaikan anggota Komisi B DPRD Jatim, Agatha Retnosari saat menjadi narasumber dalam diskusi webinar yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia, Rabu (8/7/2020).

Perempuan yang sudah dua periode menjadi wakil rakyat ini mengatakan, diperlukan ketelatenan dan kemauan untuk bisa terus mengawal kebijakan. Di periode pertama, Agatha bekerjasama dengan KPI dan jaringan untuk mengawal kebijakan yang ramah perempuan dan anak, seperti Perda HIV/AIDS dan Perda Perlindungan Kerja.

“Makan waktu sekitar 2,5 tahun baru kemudian Perda Perlindungan ini digedok. Nah dalam pembahasan, saya juga membagikan draft kepada teman-teman KPI juga, kemudian usulan-usulan dari teman-teman KPI justru banyak yang diakomodir. Seperti cuti haid, cuti hamil, dan sebagainya yang berkenaan dengan buruh perempuan,” ujar Agatha.

“Sebetulnya kalau bicara tentang perempuan itu ada di segala sisi. Tidak hanya di HIVnya atau di tenaga kerja, tapi disemua sisi,” imbuhnya.

Dengan latar belakang pendidikan teknik, Agatha ditugaskan PDI Perjuangan di Komisi E DPRD Jatim, di periode 2014 -2019. Tugas ini tentu membuatnya harus belajar mengenai persoalan sosial dan ilmu sosial, serta ilmu hukum.

Di periode 2019 hingga saat ini, Agatha mendapat tugas baru di Komisi B DPRD Jatim yang menangani bidang perekonomian. Meski begitu, rekannya di Komisi E ada yang mengajaknya bersama-sama berjuang untuk shelter atau rumah singgah korban kekerasan terhadap perempuan.

“Kenapa itu bukan tupoksi saya tapi saya ikut? Saya ikut didalam berjuangannya di belakang layar. Karena memang bukan tupoksi saya. Tetapi lobi kan masih bisa jalan.  Artinya masih bisa memberikan pengertian dan penguatan, karena semakin banyak orang yang paham bagaimana isu perempuan ini harus di perjuangkan,” ujarnya.

Apa yang diraih Agatha saat ini, tentu merupakan buah kerja kerasnya selama ini. Ia tidak pernah melakukan money politic, tapi justru perolehan suara yang diraihnya naik tiga kali lipat dari perolehan suara pada periode pertamanya.

“Salah satunya adalah karena saya menjual integritas. Apa itu? Kalau kita memperjuangkan terkait peran perempuan, salah satu yang paling gampang di nilai, anggota dewan itu memang pro terhadap perempuan atau tidak, seberapa kemudian dia bisa memperjuangkan anggaran untuk kebijakan yang pro perempuan,” ujarnya.

Agatha menambahkan, pentingnya politisi perempuan yang sudah duduk didewan untuk bisa berada di salah satu posisi yang ada distruktur partai. “Karena kita tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan struktur partai,” pungkasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.