Inilah Sejarah Slogan “WANI!”

Yovie Wicaksono - 4 June 2022

SR, Surabaya – Slogan “Wani”, dalam bahasa Jawa berarti berani memang identik dengan arek-arek Suroboyo. Dan, slogan itu juga yang digunakan oleh Bonek atau suporter Persebaya, “Salam Satu Nyali, Wani!”.

Slogan ini bukan hanya sekadar slogan biasa. Namun ada sejarah panjang dibalik kata wani tersebut.

Pegiat Sejarah dan Budaya Surabaya, Nur Setiawan (41) mengatakan, slogan wani sudah ada sejak 600 tahun lalu dan berkaitan dengan awal mula nama Kota Surabaya.

Disebutkan, nama Curabhaya atau Surabaya sudah ada sejak jaman Majapahit tepatnya di era pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

Salah satu bait lempeng Prasasti Canggu mencatat nama Surabaya diterbitkan tahun 1280 Saka atau 1358 Masehi.

“Saya coba gali dari kamus Jawa Kuno yang disusun Prof. Zoet Moelder, kata Cura memiliki arti berani dan kata Bhaya (Baya) memiliki arti bahaya. Jika digabungkan menjadi sebuah kalimat, secara filologi memiliki arti Berani Menghadapi Marabahaya,” ujar pria yang akrab disapa Wawan ini, Sabtu (4/6/2022).

Selain nama yang mengandung makna berani, masyarakat Surabaya masa lampau juga memiliki sifat berani seperti penduduk Nusantara yang tinggal di kawasan pesisir lainnya.

Adapun salah satu sifat berani yang dimiliki masyarakat Surabaya ialah saat penaklukan Surabaya oleh keraton Mataram Islam atau Perang “Mataram Surabaya” oleh Kesultanan Mataram pada awal abad ke 17 di bagian timur Jawa.

Perang ini dimulai pada tahun 1614 ketika Mataram dibawah kepemimpinan Sultan Agung dan memakan waktu hampir 30 tahun sampai akhirnya Surabaya benar-benar takluk.

“Itupun Mataram tidak bisa mengalahkan Surabaya secara fisik namun memakai siasat membendung Kalimas dan mengembargo pasokan pangan dari luar Surabaya agar tidak bisa masuk ke dalam keraton Surabaya,” katanya.

Dari peristiwa ini menandakan jika sifat berani masyarakat beserta pasukan keraton Surabaya begitu tangguh sedari dulu.

Peristiwa-peristiwa heroik atau keberanian lainnya terulang kembali pada pertempuran 10 Nopember 1945. Dimana pada pertempuran fase pertama bulan Oktober tentara Inggris harus bertekuk lutut hingga mengakibatkan tewasnya Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby, pimpinan tentara Sekutu.

Sayangnya, saat ini ada pergeseran pemahaman kata wani atau keberanian pada masa kini. Wawan mencontohkan banyaknya pelaku kriminal berusia belia yang kerap muncul di media, lalu tawuran remaja yang disebut gangster saat dini hari merupakan bagian dari pergeseran spirit “Wani”.

“Bagi saya, wani sesungguhnya adalah sebuah etos kerja dan tanggung jawab kesadaran secara pribadi maupun kolektif arek-arek Suroboyo dalam perbuatan,” tandasnya.

Wawan menegaskan, kata wani seharusnya bukan lagi dimaknai dengan berperang atau mengangkat senjata seperti para pendahulu bangsa, namun generasi milenial perlu memaknai kata wani dalam berspirit di segala hal positif, seperti ulet bekerja, tekun belajar, giat berdagang, disiplin dan lainnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.