Ini Rahasia Kesuksesan Desa Wisata Tamansari Banyuwangi

Yovie Wicaksono - 8 December 2021
Desa Wisata Tamansari Banyuwangi. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Banyuwangi – Berbicara terkait desa wisata, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi bisa menjadi salah satu contohnya. Desa yang terletak 16 kilometer dari pusat kota Banyuwangi ini memiliki berbagai potensi wisata yang luar biasa, mulai dari alam, budaya, hingga kulinernya. Satu diantaranya yang mendunia adalah Kawah Ijen yang dikenal dengan blue fire atau api birunya yang memesona.

Kesuksesan Desa Tamansari menjadi desa wisata ini ternyata telah melalui proses panjang. Kepala Desa Tamansari, Rizal Syahputra mengatakan, semua itu bermula pada 2014 saat pihaknya melakukan inventarisasi potensi yang dimiliki desanya, mulai dari SDA, SDM, kendala dan permasalahannya hingga solusinya untuk memajukan wilayah setempat.

“2013 itu masyarakat setempat hanya mendapatkan asap knalpot wisatawan yang mau berkunjung ke Kawah Ijen. Akhirnya 2014 kita inventarisasi potensi yang dimiliki desa ini, kita berpikir bagaimana caranya agar orang yang mau ke Kawah Ijen itu stay dulu di Tamansari, kita bikinkan tema Stay for Blue Fire,” ujarnya.

Rizal tak menampik bahwa proses tersebut berjalan panjang, karena ketika pihaknya menggerakkan SDM yang ada di desa tantangannya adalah masyarakat yang tidak mau keluar dari zona nyaman.

“Kami butuh waktu dan strategi untuk mendorong masyarakat kami untuk akhirnya mau dan mampu memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya. Gagal itu sering, ketika program kita tidak berjalan baik di masyarakat maka kita berganti strategi tanpa menyalahkan siapapun,” tandasnya.

Setelah itu, pada 2015 pihaknya mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) beserta regulasinya hingga akhirnya pada 2016 desa wisata baru berjalan. Dari sana, ia mulai mendorong warga untuk membuat warung hingga homestay agar para wisatawan bisa singgah dan memberikan pendapatan tambahan untuk masyarakat disana.

Rizal mengaku, selama 2016 hingga 2018 pihaknya concern pada peningkatan kapasitas SDM disana. Bahkan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) pada saat itu persentasenya 50 : 50 dialokasikan untuk infrastruktur dan SDM.

“Prioritas utama kami adalah sumber daya manusia. Tentu itu tidak mudah karena investasi di manusia bukan hal yang bisa dirasakan langsung, berbeda dengan pembangunan infrastruktur. Tentu ini bukan zona nyaman, tapi kami ambil risiko itu dan kami sadari, kalau saat itu tidak kami siapkan mungkin masyarakat kami tidak seperti saat ini,” ujar Kades dua periode ini.

Dari situ tercipta sebuah sistem penguatan kelompok dan masyarakat. Dimana berbagai inisiasi tumbuh dari masyarakat. “Maka terciptalah sebuah pondasi, kuat dibawah dan tidak boleh bergantung pada siapapun pemimpinnya agar semuanya bisa berkelanjutan,” sambungnya.

Wisata Alam Sendang Seruni, Tamansari, Banyuwangi. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

Kini, selain Kawah Ijen, Desa Tamansari mempunyai Sendang Seruni yakni pemandian dengan sumber mata air alami dan konservasi bambu. Kemudian juga memiliki wisata buatan yaitu Taman Gandrung Terakota (Replika Seni Gandrung) dan kini tengah menggarap wisata hutan pinus, kampong bunga, dan juga kampong Penambang.

Para wisatawan juga bisa menginap di homestay yang bersih, nyaman dengan harga terjangkau yang dikelola warga. Dimana sebanyak 20 homestay disana telah berstandar BUMDes hingga standar bintang 3.

“Setelah berwisata dan menginap di Tamansari, para wisatawan juga bisa membeli oleh-oleh khas dari pengrajin UMKM sekitar seperti kopi arabika, batik, udeng, gula aren, susu sapi perah, dan snack DEWITARI,” imbuhnya.

Mengingat pandemi Covid-19 masih berlangsung, untuk meningkatkan keamanan dan rasa nyaman wisatawan, Desa Tamansari juga menerapkan protokol kesehatan dengan menyediakan tempat cuci tangan di setiap destinasi wisata, melakukan pemeriksaan suhu tubuh, aturan wajib menjaga jarak dan memakai masker.

Tak hanya itu, Desa Tamansari yang telah menjadi rintisan awal program Smart Kampung pada 2016 juga mendorong berbagai kegiatan kreatif dan pelayanan berbasis teknologi informasi.

Oleh karena itu disediakan fasilitas free wifi, pembayaran dengan metode non tunai dan juga terdapat aplikasi Desa Wisata Tamansari yang dapat diakses melalui smartphone untuk mempermudah pengunjung dalam mencari informasi destinasi, pembayaran, transportasi, tempat makan hingga homestay yang ada di sana.

Atas segala kerja keras seluruh pihak, Desa Tamansari telah mendapatkan berbagai penghargaan, yakni juara 1 lomba video creative (2016 dan 2018), juara 3 lomba smart kampung pada 2016, mendapatkan Piagam Penghargaan Desa Wisata Pemanfaatan Jejaring Bisnis (2017), juara 3 lomba BUMDes tingkat Jawa Timur (2017).

Kemudian juara 1 lomba smart kampung (2020), juara 1 Kategori “Daya Tarik Alam Wisata” Lomba East Java Tourism Award 2020, mendapatkan Piagam Penghargaan Desa Wisata Cerdas, Mandiri, Sejahtera (2020), Runner Up Lomba BUMDes (2020), juara 1 lomba Desa BRILLIANT (2020), dan terbaru masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.