Harga Beras Premium di Pasar Baru Gresik Melonjak, Stok Minyakita Terbatas

Rudy Hartono - 8 June 2026
Suasana sepi Pasar Baru Kota Gresik Minggu (7/6/2026), tampak stok minyakita dan beras masih menumpuk dipicu kenaikan harga. (foto: giy/superradio.id)

 SR, Gresik – Dampak gejolak ekonomi global mulai memicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan sembako di Pasar Baru Kota Gresik, Jalan Gubernur Suryo. Imbasnya, daya beli masyarakat di pasar tradisional tersebut dilaporkan mulai menurun drastis sejak Minggu (7/6/2026)

Kenaikan harga ini dipicu oleh melonjaknya harga plastik kemasan hingga 50 persen, serta fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi akibat situasi geopolitik internasional.

Salah satu komoditas yang mengalami lonjakan paling signifikan adalah beras premium. Saat ini, beras premium jenis Coco menembus harga Rp 85.000 per 5 kilogram (kg), sedangkan beras premium jenis Lahap mencapai Rp 77.000 per 5 kg .

Di sisi lain, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari pemerintah terpantau masih stabil di angka Rp 60.000 per 5 kg.

“Harga beras premium terus naik. Tapi, keuntungan kami justru semakin sedikit. Mau mengambil untung Rp 1.000 untuk kemasan lima kilogram saja sangat susah sekarang, sebab biaya angkut dan harga plastik ikut naik,” ujar salah seorang pedagang sembako di Pasar Baru Gresik yang enggan disebutkan namanya, Minggu.

Selain beras, tantangan juga terjadi pada komoditas minyak goreng subsidi merek Minyakita. Para pedagang mengeluhkan pasokan yang kurang melimpah lantaran adanya pembatasan pengiriman dari Bulog, sehingga stok di pasar selalu terbatas . Kondisi ini memaksa konsumen beralih ke minyak goreng non-subsidi yang harganya jauh lebih mahal.

Merespons kondisi tersebut, Ketua Paguyuban Pasar Baru Gresik Edy Chumaidi mengonfirmasi bahwa meski pasokan dibatasi, stok Minyakita di pasar sebenarnya masih tersedia.

“Informasinya memang akan ada kenaikan harga minyak goreng subsidi Minyakita. Tapi, sekarang pedagang masih menjual dengan harga lama, yaitu Rp 16.000 per liter,” jelas Edy.

Edy menambahkan, di tengah isu kenaikan harga beras dan minyak goreng, beberapa komoditas pangan lain justru terpantau turun  Harga daging ayam ras turun menjadi Rp 33.000 dari sebelumnya Rp 36.000 per kg. Sementara itu, harga telur ayam ras juga turun menjadi Rp 26.000 dari sebelumnya Rp 27.000 per kg.

Pasar Sepi Akibat PKL dan Toko Online

Selain faktor inflasi barang, Edy mengungkapkan bahwa lesunya aktivitas pembelian di Pasar Baru Gresik juga dipengaruhi oleh faktor eksternal lainnya. Menjamurnya lapak belanja digital dan menjamurnya Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar pasar dituding menjadi penyebab pasar tradisional semakin sepi pengunjung.

“Pembelian pedagang di Pasar Gresik ini melemah, sehingga pedagang sepi pembeli. Hal ini salah satunya disebabkan banyaknya pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Pasar Gresik yang buka mulai malam sampai sore hari. Selain itu, adanya toko online juga sangat berpengaruh,” pungkas Edy. (giy/red)

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.