Harmoni Budaya dan Toleransi Warnai Perayaan Natal di Surabaya
SR, Surabaya – Tak hanya menjadi momen penuh sukacita bagi umat kristiani, perayaan Natal 2024 di Gereja Santo Yakobus, Surabaya, juga membawa semangat toleransi melalui kolaborasi seni lintas budaya dan agama.
Salah satu yang menarik perhatian adalah partisipasi I Ketut Gede Susila Widiastra, seorang pelukis Hindu, dan Djagad Ngadianto, seniman penghayat kepercayaan, yang menyampaikan pesan toleransi melalui karya mereka.
Ketut menghadirkan sebuah lukisan berjudul Harmoni dan Cahaya Hati. Karya ini menggambarkan Yesus berdampingan dengan Barong, simbol energi positif, dan Rangda, simbol energi negatif dalam mitologi Hindu Bali.
Melalui lukisan ini, Ketut ingin menyampaikan, dalam hidup, selalu ada dualitas antara kebaikan dan keburukan. “Setiap kita mengambil keputusan akan selalu ada godaan. Tetapi, dengan teguh pada cinta, kita akan menemukan cahaya hati. sehingga bisa menerangi sekitarnya tanpa perlu mencari cahaya dari luar. Seperti dalam potret Yesus yang saya lukis,” jelasnya kepada superradio.id di acara perayaan natal dan HUT ke-17 Paroki, Gereja Santo Yakobus, Surabaya, Rabu (25/12/2024).
Dengan media kanvas dan akrilik, Ketut mengaku menciptakan karya tersebut dalam dua hari. Lukisan ini memiliki latar belakang Barong dan Rangda dengan warna yang gelap, melambangkan hasutan dan godaan dalam perenungan. “Karena saya hadir sebagai umat Hindu, saya menggabungkan unsur Nasrani dan Hindu, menunjukkan bahwa harmoni adalah kunci. Jangan takut toleransi,” tambahnya.
Apalagi, Ketut menuturkan, karena kita ini Indonesia Nusantara maka kalau jadi Hindu ya Hindunya Indonesia bukan Hindu India. Begitu pun agama lain. Jadi nilai nilai yang ada di tanah air ya harus kita jaga. Kita sebagai generasi muda harus bangga dengan leluhur kita.
“Seperti potret ini yang menggabungkan unsur Nasrani dan Hindu sekaligus potret Yesus bersanding dengan budaya Indonesia. Saya rasa belum ada lukisan Yesus bersanding dengan Barong dan Rangda,” jelasnya.
Sementara itu, Djagad Ngadianto membawa elemen budaya Jawa ke dalam perayaan ini dengan lukisan berjudul “Sang Pamarta”. Karya ini menggambarkan potret Yesus dalam wujud wayang, memadukan akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Kristiani.
“’Sang Pamarta’ berarti raja tanpa mahkota, yaitu yang saya tampikan adalah Gusti Yesus sebagai raja di surga. Lukisan ini berlatar belakang Gusti Yesus turun dari surga, merefleksikan kelahiran Sang Gusti sebagai momen sakral dalam Natal,” ungkapnya.
Ia menciptakan lukisan ini dalam tiga hingga empat hari, menampilkan karakter Yesus dalam gaya wayang khas budaya Jawa. Djagad menyebut karya ini terinspirasi oleh wayang wahyu, media dakwah Kristiani pada zaman dahulu.
“Saya sangat bahagia sebagai seniman sekaligus penghayat kepercayaan diundang untuk meramaikan acara Natal ini. Ini adalah kesempatan luar biasa untuk berbagi pesan toleransi melalui seni,” tutupnya.
Selain Ketut dan Djagad, ada karya lukis lain dari seniman dan budayawan lintas agama lainnya, yakni pelukis Desemba S Titaheluw dengan judul “Yesus Berdoa di Situasi Dunia sedang Tak Baik-baik Saja), pelukis Buggy Budijanto dengan karya “Ragam Kupu Kupu di gereja Santo Yakobus”, pelukis Kak Herry dengan karya “Umat dan Gereja Santo Yakobus diangkat ke Surga”, pelukis Supaat Margi dengan karya berjudul “Potret Yesus Sebagai Raja”, dan pelukis Hongky Zein dengan karya “Sketsa Perayaan Natal 2024 di Santo Yakobus”. (nio/red)
Tags: gereja santo yakobus, lintas agama, lukisan, natal, superradio.id, surabaya, yesus
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





