Harga Kedelai Melambung, Sejumlah Pengrajin Kampung Tahu Kediri Tak Produksi Stik Tahu

Yovie Wicaksono - 30 May 2021
Pengrajin tahu yang tergabung dalam Paguyuban Kampung Tahu Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Harga kedelai impor yang menembus harga Rp 12.000 per kilogram mengancam kelangsungan usaha sejumlah pengrajin tahu yang tergabung dalam Paguyuban Kampung Tahu Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Ketua Paguyuban Kampung Tahu, Jamaludin mengaku, semenjak harga kedelai naik ada sejumlah pengrajin yang terpaksa harus berhenti memproduksi stik tahu sementara waktu.

“Untuk stik tahu banyak yang tidak produksi, dari orang 33,  sekarang tinggal 17 sampai 20 orang,” ujar pria yang meneruskan usaha keluarga sebagai pengrajin tahun generasi ke 3 ini.

Jamaludin mengungkapkan alasan mengapa  banyak pengrajin yang memilih sementara waktu untuk tidak memproduksi stik tahunya, yakni karena bahan yang dipergunakan untuk membuat kuliner tersebut, harus mempergunakan kedelai kualitas kelas 1 yang harganya lebih mahal dari kualitas standar.

“Kalau stik tahu kualitas ke selain yang harus kelas 1. Dengan kualitas 1 harga sudah tidak terjangkau lagi. Harga kedelai impor kualitas 1 sebelum hari raya saja sudah Rp 12.000,” katanya.

Meski sebagian pengrajin memilih sementara waktu tidak memproduksi stik tahu, namun untuk pembuatan kuliner berbahan kedelai lainnya masih tetap berjalan, seperti halnya tahu takwa kuning yang diproduksi oleh Jamaludin sendiri.

Jamaludin menambahkan, kenaikan harga kedelai impor sebenarnya terjadi sejak Desember 2020 lalu. Meski naik, saat itu harga kedelai impor  Amerika hanya Rp 9500 per kilogram. Jamaludin mengaku kurang begitu tahu apa yang menjadi penyebab harga kedelai impor naik, padahal menurutnya ketersediaan kedelai di pasaran masih banyak.

“Saya kurang tahu untuk kenaikannya itu, kalau jaman dulu namanya kedelai naik, stoknya tidak ada sama sekali. Kalau sekarang ini kedelai nya melimpah tapi harganya naik,” herannya.

Persoalan yang dihadapi para pengrajin tahu bukan hanya karena  kenaikan harga kedelai semata, melainkan juga permasalahan lainnya. Seperti adanya kebijakan Pemerintah terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro yang membuat jumlah pengunjung atau wisatawan yang datang ke Kampung Tahu untuk membeli oleh-oleh semakin berkurang.

“PPKM skala mikro ini entah orang takut atau bagaimana ke kampung tahu,” kata Jamaludin.

Lantaran harga kedelai yang tidak kunjung stabil, ia harus memangkas produksi tahu takwa setiap harinya. Jika sebelum pandemi, ia bisa memproduksi tahu setiap hari sebanyak 1400 biji namun sekarang dirinya hanya berani membuat 600 biji tahu. Disamping itu ia terpaksa harus mengurangi komposisi bahan kedelai, sehingga membawa dampak  terhadap kualitas tahu yang ia buat.

“Ya karena kedelai naik, kita tidak bisa menaikan lagi (harga). Kalau dinaikan lagi konsumen selalu komplain. Bahan kedelainya terpaksa dikurangi,” katanya.

Sekadar informasi, sebelum hari raya, tahu takwa produksinya dijual 10 biji dengan harga Rp 20.000. Saat lebaran harganya naik berubah menjadi Rp 22.000. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.