Festival Kuras Sumber Air Dewi Sri

Yovie Wicaksono - 5 October 2019
Suasana Festival Budaya kuras di Situs Petirtaan Dewi Sri di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Sabtu (5/10/2019). Foto : (Antara)

SR, Magetan – Festival Kuras Sumber Air Dewi Sri yang digelar di Situs Petirtaan Dewi Sri di Desa Simbatan, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menjadi objek wisata budaya warga setempat.

Melansir Antara, sesepuh desa setempat sekaligus penjaga Situs Petirtaan Dewi Sri, Sumiran mengatakan, festival itu merupakan perayaan ritual bersih desa setiap tahun yang biasanya digelar saat hari Jumat Pahing pada bulan Muharram menurut kalender Jawa.

Ritual kuras itu dilakukan dengan beberapa tahapan cara, yakni membersihkan patung Dewi Sri yang ada di tengah kolam komplek petirtaan, menguras kolam dan memindahkan ikan-ikan yang ada di dalam kolam ke penampungan sementara untuk nantinya dikembalikan lagi ke kolam petirtaan.

“Tujuan utamanya adalah untuk membersihkan warga desa secara fisik dan rohani. Namun biasanya warga mengidentifikasikan untuk menjauhkan dari mara bahaya atau tolak bala,” ujar Sumiran di Magetan, Sabtu (5/10/2019).

Menurut dia, acara puncak dari ritual di Situs Petirtaan Dewi Sri tersebut adalah warga Desa Simbatan menarikan ikan-ikan penghuni kolam Dewi Sri atau menari dengan ikan diiringi tembang Jawa yang dinyanyikan oleh dua sinden.

Ikan-ikan di kolam Dewi Sri itu dianggap keramat oleh warga setempat. Siapa yang mengambilnya atau mengganggu dipercaya akan tertimpa musibah.

“Ikan tersebut sengaja diajak menari sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri. Setelah itu, ikan-ikan tersebut diberi makan beras kuning,” ujarnya.

Tradisi yang telah berlangsung cukup lama tersebut merupakan salah satu wujud melestarikan budaya peninggalan leluhur pada zaman dahulu.

Pemerintah Kabupaten Magetan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan Jawa Timur telah menjadikan Situs Petirtaan Dewi Sri sebagai objek wisata budaya di Magetan.

Berdasarkan inskripsi yang terdapat pada temuan artefak situs setempat, tertulis angka tahun 905 Saka (983 Masehi) dan 917 Saka (995 Masehi) dan merupakan aliran Hindu Waisnawa. Diperkirakan, situs tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.

Bangunan situs Petirtaan Dewi Sri memiliki bilik utama, di mana dalam bilik utama tersebut terdapat arca seorang perempuan yang oleh warga sekitar dianggap sebagai lambang Dewi Sri.

Dalam masyarakat Jawa, Dewi Sri sendiri dianggap sebagai dewi kesuburan dan berhubungan dengan bidang pertanian.

Seorang pengunjung, Jihan mengaku senang melihat festival budaya kuras dan menari dengan ikan yang digelar di warga Simbatan di Situs Petirtaan Dewi Sri.

“Acaranya unik. Bagus sekali,” kata pengujung asal Madiun itu.

Festival Kuras Petirtaan Dewi Sri digelar selama dua hari, yakni pada Jumat (4/10/2019) hingga Sabtu ini. (*/ant/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.