Ekspedisi Santri Alas, Berburu Mata Air di Pegunungan Demi Kelestarian Hutan

Yovie Wicaksono - 20 March 2021
Tim Wana Rescue Santri Alas. Foto : (Istimewa)

SR, Kediri – Sekelompok anak muda pecinta alam yang mengatasnamakan Wana Rescue Santri Alas sudah 6 bulan ini memiliki misi mulia dalam menjaga dan melestarikan hutan di lereng kaki Gunung Klotok di Kelurahan Pojok  dan Gunung Wilis di Kecamatan Semen.

Wujud kepedulian terhadap lingkungan tersebut mereka implementasikan dalam  kegiatan berburu mencari sumber mata air di lereng kaki pegunungan.

Dari lima orang yang melakukan ekspedisi pencarian sumber mata air, dua diantaranya diketahui masih berstatus pelajar SMA berusia 18 tahun. Meski tergolong masih remaja, namun mereka sudah memiliki jam terbang yang cukup mumpuni dalam melakukan pendakian dan penelusuran di hutan.

“Tujuan kita mencari sumber mata air, karena ada sejumlah titik rawan, rentan terjadinya kebakaran hutan tahun ketika  musim kemarau. Kalau tidak segera ditemukan sumber mata air, apabila terjadi kebakaran paling tidak teman-teman rescue atau Tim SAR yang kesana membantu proses pemadaman, agar tidak kehabisan air minum,” ujar Ketua Wana Rescue Santri Alas, Aji.

Butuh waktu menginap 2 hari 2 malam untuk menemukan sumber mata air di lereng kaki Gunung Wilis. Sangat tidak mudah untuk menemukan sumber mata air mengingat jarak tempuh yang harus dilalui sekitar 9 jam dengan menempuh jalan kaki, menyusuri hutan, tebing punggung naga.

“Kita temukan 2 titik sumber, kita namakan Sumber Sendang, itu jalurnya punggung naga. Jalur sebelum situs Watu Semar. Kita naik lagi perjalanan  sekitar kurang lebih 4 jam sampai ketemu sumber lagi. Itu posisinya mepet tebing. Tebing yang arah ke Candi Limas ketinggian 2241 mdpl sekian. Kita namakan Sumber Padas. Sumber mata air Sumber Sendang, berasal dari bawah pohon. Sementara mata air Sumber Padas dari bawah batu padas kualitas airnya sangat jernih. Perjalanan dari titik nol  Joho Kelir Kecamatan sementara sampai ke Candi Limas perlu waktu 9 jam,” ujarnya.

Karena selama perjalanan, diselimuti kabut tebal, jarak pandang hanya radius setengah meter. Maka Tim Wana Rescue Santri Alas alas terpaksa harus bermalam nge camp di Puncak Kelir.

“Kita namakan Puncak Kelir karena posisi kita di pegunungan mentok, dekat tebing. Disebelah kiri terdapat air terjun Lawe,” ujarnya.

Setelah berhasil menemukan 2 mata air tersebut, Tim Wana Rescue Santri Alas kemudian memberikan tanda berupa kain dan tulisan sumber mata air yang ditempelkan di pohon.

“Kemarin sudah kita kasih tanda kain kotak kotak  disitu itu kebetulan ada pohon cemara. Jadi kalau dari punggung naga ujung dilihat ke bawah kelihatan, karena posisinya mepet ke tebing. Lokasinya jarang dilewati pendaki karena ekstrem medannya,” kata bapak dua anak ini.

Aji mengaku, selama kurun waktu 6 bulan melakukan giat ekspedisi sumber mata air, di lereng kaki Gunung Wilis dan Gunung Klotok sudah berhasil  menemukan sedikitnya 20 sumber mata air.

“Selama 6 bulan melakukan pencarian, di lereng kaki Gunung Wilis kita temukan dua sumber mata air. Kalau di lereng kaki Gunung Klotok kita temukan hampir 18 sumber mata air, dari timur sampai ke barat,” cetusnya.

Aji kembali mengatakan jika sumber mata air yang ada  di dua pegunungan tersebut memiliki karakter yang berbeda.

“Kalau sumber mata air di Gunung Klotok itu warna airnya agak keputihan. Karena disana sumber mata airnya pada umumnya padas, jadi airnya tak tersaring tapi sangat aman untuk langsung dikonsumsi diminum. Tapi kualitas sumber mata air lereng kaki Gunung Wilis lebih bersih lagi,” ucap Aji.

Selama perjalanan mencari sumber mata air di lereng kaki Gunung Wilis, tim ekspedisi mengalami pengalaman spiritual. Aji mengaku mendadak merasakan sakit di bagian perut sebelah kirinya. Rasa sakit tersebut dialaminya ketika ia  bersama 4 orang temannya sedang berjalan menyusuri jalan di puncak Candi Limas karena kondisi jalan terjal dikelilingi bebatuan, maka tim ekspedisi terpaksa harus jalan merambat sambil sesekali berpegangan pada batu dan pohon.

Rasa sakit itu dialami saat dirinya sedang memegang dan melewati lempengan baty berukuran tinggi 1,5 meter.

“Setelah pegang lempengan batu itu, spontan perut saya sakit. Saya lalu berdoa semampu saya, kemudian lewat sudah nggak sakit. Waktu saya pegang, batu terasa sangat panas, padahal cuaca saat itu berkabut dan dingin,” keluhnya.

Awalnya, Aji berasumsi jika rasa sakit dibagian perut sebelah kirinya tersebut karena kram. “Asumsi saya awalnya perut kram, tetapi biasanya kalau perut kram kan durasinya lama. Tetapi anehnya setelah batu sudah saya lewati rasa sakit itu tiba – tiba hilang,” katanya.

Masih di sekitar area lokasi yang sama, Aji merasakan tiba – tiba ia mendengar suara teriakan temannya yang bermaksud untuk memanggilnya.

“Di Candi Limas, karena posisi saya sebagai penyapu dibelakang, Ada suara teman saya Faisal dan Deka ditirukan makhluk halus, padahal jaraknya lumayan jauh. Saya survei sampai bolak balik 2 kali awalnya didepan, saya datangi tidak ada, kemudian suara itu terdengar lagi di belakang, saya datangi lagi juga tidak Ada,” ujar pria bernama lengkap Joko Suprayitno ini. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.