Cara Generasi Muda Hadapi PSBB

Yovie Wicaksono - 13 May 2020
Ilustrasi video call. Foto : (Shutterstock)

SR, Surabaya – Berada di rumah saja dengan segala keterbatasan dalam jangka waktu yang cukup lama, tentu dapat menimbulkan rasa bosan. Terlebih untuk generasi muda yang biasanya lebih sering menghabiskan waktunya dengan beraktivitas di luar rumah.

Seorang mahasiswi asal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur, Anggelina Cindy merasa bosan dalam situasi saat ini.

Terlebih, Kota Surabaya telah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) sejak 28 April hingga 25 Mei 2020 mendatang, guna mencegah penyebaran virus corona (Covid-19) yang saat ini sedang mewabah.

“Dibilang bosan pasti bosan. Apalagi dulu kuliah setiap harinya bertemu dengan teman lalu tiba-tiba di rumah total. Meskipun ada kuliah online, menurut saya masih bikin bosan di rumah terus. Bener-bener udah di tahap kangen sama aktivitas semula,” ujar mahasiswi semester enam ini, Rabu (13/5/2020).

Untuk membunuh rasa bosan, Cindy mengatakan, waktu penggunaan media sosialnya menjadi sangat meningkat dibandingkan saat situasi normal.

“Meningkat banget pasti. Paling sering saya gunakan untuk Instagram dan Twitter karena banyak tips biar gak bosan. Lalu kalau kangen teman-teman ya video call atau zoom bareng,” ujarnya.

Selain itu, untuk mengatasi kebosanan, Cindy menghindari berdiam diri atau rebahan secara terus menerus. Melainkan berolahraga agar tubuh tetap sehat sekalipun hanya dirumah, serta melakukan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan.

Sementara itu, seorang karyawati swasta di Surabaya, Santi (20) mengatakan, di sela waktu bekerja dari rumah (work from home) yang dijalaninya, ia memperbanyak relasi pertemanan dari berbagai negara di dunia melalui media sosial guna mengasah kemampuan berbahasa Inggris dan Korea yang diminatinya.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Michael Seno Rahardanto juga mengamini berbagai kegiatan positif yang dilakukan generasi muda di tengah pandemi saat ini.

Pria yang akrab disapa Danto ini mengatakan, tak dapat dipungkiri bahwa perjumpaan secara online pada akhirnya akan melelahkan.

“Memang ada teori psikoanalisis yang mengatakan bahwa perjumpaan secara online itu pada akhirnya akan melelahkan, karena sebenarnya badan kita tau kalau kita tidak bertemu secara fisik, tapi hanya bertemu dilayar. Disonansi ini yang menimbulkan rasa capek dalam jiwa,” katanya.

Menurutnya, penting untuk mendisiplinkan diri membatasi waktu perjumpaan secara online dan menerima kondisi saat ini dengan lapang dada serta tetap bersyukur masih dapat bertemu, sekalipun tidak secara fisik.

“Toh pandemi ini tidak selamanya terjadi, pasti akan selesai. Kita perlu katakan pada diri kita sendiri bahwa semua ini akan berlalu. Kita juga bisa mencari berita positif seperti kapan pandemi ini akan berakhir, agar dihati kita juga ada perasaan lega karena semua ini ada ujungnya dan suatu hari nanti kita bisa kembali bertemu,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.