Cak Ji Siap Bantu 84 Penyanyi Dangdut Korban Arisan Bodong

Rudy Hartono - 13 May 2026
Perwakilan beberapa penyanyi dangdut di Surabaya yang menjadi korban penipuan arisan saat melapor ke Rumah Aspirasi Wakil Walikota Surabaya, Armuji, Selasa (12/5/2026). (net)

SR, Surabaya – Kasus dugaan arisan bodong kembali memakan banyak korban di Surabaya, Jawa Timur. Kali ini, ada 84 penyanyi dangdut mengaku kehilangan uang dengan total kerugian sekitar Rp 2,2 miliar akibat tergiur iming-iming keuntungan cepat dari arisan fiktif.

Kasus tersebut menyeret nama NS atau yang memiliki nama panggung NA. Sedangkan, puluhan korban berasal dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik hingga Mojokerto. Aduan itu disampaikan langsung para korban kepada Wakil Wali Kota Surabaya Armuji di Rumah Aspirasi pada Selasa (12/5/2026).

Dalam pertemuan itu, pria yang akrab disapa Cak Ji itu berkali-kali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergoda skema investasi dengan keuntungan tidak masuk akal. “Orang mau menipu, awalan pasti lancar. Awal-awale mesti (awal-awalnya pasti) dibayar supaya dapat kepercayaan. Tapi begitu korbannya banyak, bablas wis,” kata Cak Ji di hadapan korban, Selasa (12/5/2026) seperti dilansir kompas.com

Cak Ji menilai pola tersebut merupakan skema penipuan klasik yang memanfaatkan uang anggota baru untuk membayar anggota lama. Menurutnya, masyarakat harus mulai sadar bahwa keuntungan besar dalam waktu singkat sangat tidak masuk akal. “Yang dipakai bayar itu ya uangmu sendiri. Itu model-model penipuan seperti ini jangan sampai terus makan korban,” tegasnya.

Mendengar hal itu, Cak Ji langsung meminta perwakilan korban untuk mengumpulkan para korban lainnya untuk mendatangi lokasi kediaman keluarga pelaku di Sememi bersama timnya. “Wis, parani sing Sememi. (Sudah, kita sidak saja yang di Sememi). Tapi pelakunya enggak perlu diberitahu, biar nanti langsung digeruduk, biar orangnya nggak kabur lagi,” ujarnya. Ia juga kembali mengingatkan warga agar menjadikan kasus serupa sebagai pelajaran.

Sebab, menurutnya, kasus investasi bodong terus berulang dengan pola yang hampir sama. “Kenapa tidak dijadikan pelajaran? Saya sudah sering mengingatkan warga Surabaya supaya tidak gampang tergiur keuntungan besar yang tidak masuk akal,” tandasnya.  (*/red)

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.