Buleks Soroti Fenomena Drop-dropan Pengemis Musiman Jelang Lebaran
SR, Surabaya – Menjelang Hari Raya Idulfitri, Kota Surabaya kembali menghadapi tantangan klasik berupa menjamurnya pengemis musiman di berbagai sudut kota.
Anggota DPRD Kota Surabaya sekaligus kader PDI Perjuangan, Budi Leksono, memberikan perhatian serius terhadap fenomena ini karena pola kedatangan mereka yang terlihat sangat terorganisir di titik-titik strategis. Ia menekankan perlunya pengawasan ketat dari pemerintah kota untuk menjaga ketertiban umum di tengah antusiasme warga menyambut bulan penuh keberkahan Ramadan.
Salah satu hal yang paling disoroti oleh Budi Leksono atau akrab disapa Buleks, adanya indikasi kuat praktik ‘drop-dropan’, di mana rombongan pengemis didatangkan menggunakan kendaraan tertentu ke area permukiman maupun jalan protokol. Tak dipungkiri, Surabaya masih menjadi magnet bagi warga luar daerah untuk berburu zakat menjelang Lebaran.
“Itu sebenarnya memang butuh pengawasan. Kadang ada drop-dropan. Sejumlah pengemis musiman didrop dari mobil, tiba-tiba sudah beredar,” ungkap Buleks menjelaskan modus operandi para penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) tersebut.
Kehadiran mereka yang tiba-tiba dalam jumlah banyak menunjukkan adanya koordinasi pihak tertentu yang memanfaatkan momen kedermawanan warga. Berdasarkan hasil pantauan dan pengecekan di lapangan, mayoritas dari pengemis musiman ini diketahui bukanlah warga asli Kota Pahlawan.
Buleks menyebutkan bahwa banyak dari mereka yang kedapatan memegang identitas atau KTP luar daerah saat dilakukan pemeriksaan di lokasi. “Tapi yang kita temui bukan warga sini. Bukan warga KTP Surabaya, tapi luar kota,” ungkap Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Surabaya itu.
Buleks menceritakan pengalaman pribadinya saat kediamannya didatangi rombongan pengemis yang sengaja diturunkan tepat di depan pintu rumahnya untuk meminta sedekah. Fenomena ini bahkan membuat beberapa warga merasa perlu memasang tulisan khusus agar tidak terus-menerus didatangi kelompok tersebut yang datang secara berkelompok.
“Makanya ada kadang tulisan di rumah-rumah itu tidak menerima zakat, karena biar tidak didatangi. Itu secara umum dia sudah punya target orang-orang yang mau didatangi,” papar anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya itu mengenai pola target operasi para pengemis ini.
Di balik kemunculan pengemis musiman ini, Budi menilai ada indikator ketimpangan ekonomi yang masih nyata dan menjadi tugas besar bersama. Jika tingkat kesejahteraan masyarakat sudah merata secara menyeluruh, ia yakin fenomena pencarian nafkah dengan cara meminta-minta ini akan berkurang dengan sendirinya.
“Ini sebagai indikator juga, menurut analisa saya sendiri, di dalam keseharian kita masih ada ketimpangan yang sangat luar biasa,” tuturnya menanggapi kaitan masalah ekonomi dengan lonjakan PMKS di hari raya.
Terkait langkah antisipasi, Buleks mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tetap mengedepankan koordinasi dengan aparat setempat mulai dari RT, RW, hingga tingkat kecamatan. Jika ditemukan aktivitas pengemis yang mencurigakan atau mengganggu ketertiban, warga diharapkan berani melapor agar petugas dapat memberikan edukasi dan mengarahkan mereka kembali ke daerah asal. Langkah pelaporan ini sangat penting untuk memutus rantai mobilisasi pengemis musiman yang kian menjamur setiap tahunnya.
Meskipun penindakan diperlukan, Budi Leksono menekankan agar penanganan di lapangan tetap dilakukan secara manusiawi tanpa merendahkan harga diri para pengemis tersebut. Ia berpesan kepada warga untuk tidak sembarangan memviralkan atau memotret mereka dengan tujuan mempermalukan di media sosial demi menjaga etika kemanusiaan.
“Kasihan, maksudnya kalau harga diri nilainya segitu harus diviralkan difoto itu juga. Kita ingatkan saja untuk kembali (ke daerah asal),” pungkas politisi berambut gondrong itu.(js/red)
Tags: Budi Leksono, lebaran, pdip, pengemis musiman, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





