Begini Pendapat Ahli Gizi Terkait Susu Kental Manis

Yovie Wicaksono - 29 September 2021
Susu Kental Manis. Foto : ( Stay at Home Mum)

SR, Surabaya – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) belum lama ini merilis informasi yang menyatakan bahwa Susu Kental Manis (SKM) lebih baik digunakan sebagai topping, pelengkap, atau campuran makanan daripada diseduh menjadi minuman susu. 

Merespons hal itu, seorang Ahli Gizi Universitas Airlangga (Unair), Mahmud Aditya Rifqi memberikan tanggapannya. 

Dosen yang akrab disapa Mahmud itu mengatakan, SKM adalah produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian air dari campuran susu dan gula hingga mencapai tingkat kepekatan tertentu. 

Kandungan gula dalam produk tersebut nilainya cukup tinggi dengan presentase di atas 50 persen karena berfungsi sebagai pengental dan pengawet untuk mencegah kerusakan produk.

Lebih lanjut, ia memberikan ilustrasi dengan memaparkan jumlah kandungan gula pada salah satu merk SKM dengan takaran saji 37 gram adalah 19 gram gula. Kandungan itu menunjukkan bahwa 51,3 persen dari komposisi satu sachet SKM didominasi oleh gula. Sementara itu, anjuran konsumsi gula maksimal adalah 10 persen dari total energi harian untuk dewasa sekira 50 gram perhari dan anak-anak 30-35 gram perhari.

“Artinya, ketika minum 1 takar saji SKM sachet, kita sudah mengonsumsi 19/50 atau sama dengan 38 persen dari anjuran konsumsi gula harian orang dewasa. Sementara untuk anak-anak, konsumsi 1 sachet bahkan sudah mencukupi lebih dari 50 persen rekomendasi konsumsi harian,” jelasnya.

Boleh Dikonsumsi

Berdasarkan pemaparan tingginya kandungan gula, Mahmud menyatakan, SKM tetap boleh dikonsumsi sebagai topping atau campuran dalam makanan serta minuman. Namun, dia menambahkan, SKM tidak disarankan untuk diseduh dan diminum sebagai hidangan tunggal. 

Mahmud juga mengingatkan kepada konsumen untuk tidak menjadikan SKM sebagai satu-satunya sumber gizi, tidak memberikannya kepada bayi hingga usia 12 bulan, dan tidak mengonsumsinya sebagai pengganti ASI.

“Kita tidak bisa menjadikan SKM sebagai susu pertumbuhan bagi anak,” imbuhnya.

Selain itu, Mahmud juga menyebutkan SKM masih boleh digunakan sebagai sumber gizi pelengkap karena mengandung vitamin dan mineral. 

“Sumber zat gizi pelengkap ini artinya hanya sebagai tambahan, sehingga untuk mendapatkan sumber gizi utama harus tetap mengonsumsi makanan dengan kandungan gizi berimbang,” sebutnya. 

Efek Samping Konsumsi SKM

Konsumsi SKM yang berlebihan setiap harinya, menurut dosen kelahiran Solok itu bisa menimbulkan efek samping berupa overweight dan obesitas, kerusakan gigi, penyakit degeneratif seperti diabetes, jantung dan penyakit lainnya.

“Intinya adalah jika ingin mengonsumsi susu sebagai sumber protein dan pertumbuhan, kalian perlu memperhatikan kadar protein, lemak, kalsium, gula dan zat gizi lainnya. Sebagai konsumen mari kita belajar untuk arif dalam memilih dan memilah produk yang akan dikonsumsi,” katanya. (*/red) 

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.