Bangun Kesadaran Kritis Melalui Sekolah Perempuan

Yovie Wicaksono - 10 February 2020
Direktur Institut KAPAL Perempuan, Misiyah saat pelatihan penguatan jaringan di Surabaya. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Kekerasan terhadap perempuan dan diskriminasi kelompok minoritas masih terus terjadi dan kurang mendapatkan perhatian. Isu-isu ini diperburuk oleh budaya patriarki, regulasi yang diskriminatif, konservatisme yang memperalat perempuan dan kurangnya perhatian terhadap isu perempuan. Hal tersebut melatarbelakangi Institut KAPAL Perempuan menginisiasi berdirinya Sekolah Perempuan.

Bersama dengan para penggiat pemberdayaan perempuan marginal setelah tujuh tahun ini, setidaknya terdapat 213 Sekolah Perempuan dengan jumlah kader sebanyak 6.487 perempuan yang tersebar di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Sumatera Barat dan DKI Jakarta.

Direktur Institut KAPAL Perempuan, Misiyah mengatakan, Sekolah Perempuan merupakan salah satu model pemberdayaan perempuan yang menggunakan strategi pendidikan kritis untuk mengembangkan kepemimpinan perempuan marjinal.

“Melalui wadah ini, perempuan dari kalangan akar rumput dikembangkan kesadaran kritisnya, kecakapan hidup, solidaritas, dan komitmen untuk melakukan perubahan menuju masyarakat yang setara, berkeadilan gender dan inklusif,” ujarnya.

Ketua Sekolah Perempuan Desa Mata Air, Kabupaten Kupang, NTT, Risnawati Dethan Sa’u mengaku lebih percaya diri dan memiliki banyak wawasan setelah mengikuti berbagai pelatihan dari Sekolah Perempuan. Kini, selain menjadi ibu rumah tangga, ia aktif dalam berbagai kegiatan mulai dari tingkat dusun hingga provinsi.

Bahkan, ia mengatakan, adanya Sekolah Perempuan ini membuat para perempuan di desa setempat lebih berani menyampaikan pendapatnya serta berpartisipsi dalam proses pengambilan keputusan di setiap kegiatan desa.

“Terpenting adalah bagaiamana kita bisa membuat perubahan dalam pemenuhan hak perempuan melalui kualitas diri kita. Setidaknya membuat kita bisa juga berbangga bahwa perempuan itu sebenarnya bisa,” tandasnya.

Mengawali 2020 ini, Sekolah Perempuan memiliki identitas baru, yaitu Sekolah Perempuan Indonesia. Misiyah mengatakan, nama tersebut dipilih dengan semangat untuk memperteguh sikap-sikap penghargaan terhadap nilai-nilai keberagaman, kebangsaan dan keIndonesiaan.

“Hal ini dilakukan dalam rangka merespons problem menguatnya konservatisme dan intoleransi di Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, Sekolah Perempuan Indonesia ini diarahkan untuk memperkuat gerakan penghapusan kekerasan berbasis gender yang terintegrasi dengan kekerasan berbasis suku, ras, agama dan identitas lainnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.