Arsitektur Taktile: Jalur Pemandu yang Jadi “Mata Kedua” bagi Difabel Netra

Rudy Hartono - 27 August 2025
Contoh baik jalur tactile sesuai standar internasional memandu jalan bagi disabilitas netra.

SR, Surabaya – Di tengah hiruk pikuk kota, penyandang disabilitas netra sering kali menghadapi tantangan besar hanya untuk sekadar berjalan di trotoar atau ruang publik.

Di sinilah jalur pemandu lantai atau tactile paving berperan penting. Bukan sekadar pola timbul di lantai, tactile paving adalah ‘mata kedua’ yang membantu difabel netra menavigasi ruang dengan aman.

Menurut pedoman Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), tactile paving seharusnya dipasang di fasilitas publik seperti stasiun, terminal, trotoar, hingga gedung pemerintahan.

Pola garis lurus berfungsi sebagai petunjuk arah, sementara pola titik memberi tanda berhenti atau waspada. Sistem sederhana ini terbukti efektif, bahkan direkomendasikan juga oleh WHO Accessibility Guidelines sebagai standar global aksesibilitas.

Sayangnya, implementasi di Indonesia belum sepenuhnya ideal. Sering ditemukan jalur tactile yang terputus tiba-tiba, dipasang menabrak tiang, atau malah berakhir di parkiran motor. Alih-alih membantu, kondisi ini justru membahayakan pengguna.

Contoh baik bisa dilihat di beberapa fasilitas umum seperti Stasiun MRT Jakarta dan Bandara Soekarno-Hatta, yang mulai konsisten menerapkan jalur tactile sesuai standar internasional. Namun, di banyak daerah lain, kesadaran soal pentingnya desain ramah difabel masih harus terus ditingkatkan.

Tactile paving seharusnya tidak dipandang sebagai pelengkap estetika, melainkan kebutuhan dasar. Sebab, kota yang ramah bagi difabel netra berarti kota yang ramah untuk semua. (*/dv/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.