Alat Deteksi Bencana Tidak Berfungsi saat Longsor di Nganjuk

Yovie Wicaksono - 18 February 2021
Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Nganjuk – Wakil Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi membenarkan Early Warning Sistem (EWS) yang digunakan untuk deteksi dini bencana alam tidak berfungsi saat terjadi longsor di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

“Di beberapa tempat kita sebenarnya ada, tapi kemarin tidak bunyi. Mungkin perawatannya kurang, itu kan sebenarnya fungsinya otomatis ya,” ujarnya.

Diperkirakan ada 5 EWS yang dipasang. “Ada 5 titik ya sekarang ini termasuk di Sawahan juga ada tapi itu juga nggak fungsi.  Itu juga ada keretakan di daerah Margopatut, Pelung ulung,” katanya.

Terkait situasi ini, Pemkab Nganjuk berencana melakukan pengadaan peralatan baru. “Kita pengadaan baru ya, atau pun jika rusak masih bisa nggak untuk diperbaiki,” terangnya.

Sementara itu, Nurul Kholifah salah satu dari kerabat korban bencana longsor mengakui jika sebenarnya 4 tahun yang lalu warga sudah diingatkan untuk pindah.

“4 tahun lalu sebenarnya sudah mau longsor tidak ada tanda-tanda,” kata warga Dusun Selopuro ini.

Nurul menambahkan, pertimbangan dirinya beserta keluarga tidak segera lekas pindah dari lokasi waktu itu dikarenakan merasa masih aman. “Ya soalnya waktu itu masih kelihatan aman,” ujarnya.

Sekedar informasi, Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Surabaya, I Wayan Suyatna pada Kamis (18/2/2021) mengatakan, hingga kini telah ditemukan 18 korban tanah longsor dalam kondisi meninggal dunia, dua orang berhasil selamat, dan tinggal satu korban yang masih belum ditemukan. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.