Ajarkan Keterampilan Dasar Aktivitas Harian untuk Bangun Kemandirian Anak Disabilitas Netra

Yovie Wicaksono - 3 May 2023

SR, Surabaya – Anak dengan disabilitas netra perlu mendapat pelatihan keterampilan dasar dalam melakukan aktivitas sehari-hari sejak usia dini. Hal ini penting untuk membangun kemandiriannya seiring beranjak dewasa. Keterampilan dalam melakukan aktivitas harian ini termasuk kegiatan saat baru bangun tidur hingga kembali menjelang tidur di malam hari.

Contoh kegiatan harian yang bisa diajarkan sejak dini kepada anak disabilitas netra yaitu membereskan tempat tidur dan melipat selimut, mandi, membereskan bekas peralatan makan, mencuci, menata barang-barang pribadi yang berantakan, dan bersih-bersih rumah.

Dalam mengajarkan satu kegiatan, orangtua dapat memberikan contoh terlebih dahulu, kemudian memberikan kesempatan pada anak tunanetra untuk mengetahuinya dengan cara meraba bagaimana orangtua melakukan kegiatan tersebut. Alternatif lain yang dapat dilakukan orangtua adalah langsung melakukan aktivitas tersebut bersama-sama anak tunanetra. 

“Yang perlu diingat, selalu berikan kesempatan pada anak tunanetra untuk melakukan orientasi terlebih dulu tentang hal-hal yang sedang diajarkan untuk dilakukan,” kata penulis tunanetra, Juwita Maulida mengutip laman Yayasan Mitra Netra.

Contohnya, ketika orangtua hendak mengajarkan anak membereskan tempat tidur dan melipat selimut di pagi hari, maka orangtua perlu melakukannya terlebih dahulu sembari menjelaskan pada anak bagaimana caranya. Kemudian, berikan kesempatan pada si kecil untuk melakukan orientasi pada apa yang sedang diajarkan. Selanjutnya, anak belajar melakukannya secara bertahap hingga dapat membereskan tempat tidurnya sendiri.

Dalam setiap pembelajaran, anak disabilitas netra membutuhkan arahan yang konkret dan penjelasan deskriptif atau penggambaran secara rinci.

“Yang harus selalu diingat, berikan arahan yang konkret dan penjelasan yang deskriptif, sehingga juga dapat melatih kemampuan kognitifnya dalam memahami sesuatu, serta kemampuannya melakukan orientasi,” kata Juwita.

Keterampilan melakukan aktivitas sehari-hari wajib diajarkan pada anak tunanetra agar kemandiriannya terlatih. Sisi kemandirian ini tidak hanya membantu mereka untuk merawat diri sendiri ketika dewasa, tetapi juga bermanfaat saat mereka harus tinggal sendiri atau bahkan untuk membantu orang lain.

Selain itu, pelatihan keterampilan kegiatan sehari-hari juga sekaligus mengedukasi anak bahwa menjadi seorang tunanetra tidak harus selalu bergantung pada orang lain. 

Dengan pelatihan ini pula, orangtua dapat mengenalkan konsep tanggung jawab pada anak. Karena tak jarang, orangtua atau pun anggota keluarga lainnya selalu berusaha membantu anak tunanetra melakukan berbagai hal yang sebetulnya mampu mereka lakukan sendiri. Meski bertujuan membantu, kebiasaan seperti ini justru akan membuat anak tunanetra menjadi tidak atau kurang berdaya dan kurang mandiri. 

“Jadi, tak perlu khawatir untuk melatih keterampilan beraktivitas sehari-hari kepada anak tunanetra ya, ayah bunda! Cukup pastikan kegiatan atau tugas yang diberikan sesuai dengan usia dan kemampuan anak tunanetra,” kata Juwita.

Pengajaran untuk melakukan aktivitas harian merupakan bagian dari usaha membangun memori dan stimulasi anak tunanetra. 

Bagi anak yang terlahir tunanetra atau menjadi tunanetra di usia balita membutuhkan stimulasi atau rangsangan dengan cara yang berbeda dari orang yang melihat. Jika orang pada umumnya mengenali suatu benda dengan melihat, maka tunanetra dapat mengakses ingatan soal suatu benda dengan menggunakan empat indera lainnya selain indera penglihatan, yaitu indera perabaan, pendengaran, penciuman, dan pengecapan.

Pembangunan memori dan stimulasi ini memerlukan peran orangtua di rumah dan guru-guru di sekolah. Tujuannya, agar anak tunanetra memiliki keanekaragaman lewat empat indera selain indera penglihatan. (*/vi/red)

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.