15 Himbauan Kemenkes Pada Jemaah Indonesia saat Armuzna

Yovie Wicaksono - 9 August 2019
Ilustrasi Ibadah Haji

SR, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyerukan kepada para jemaah haji untuk menjaga kondisi kesehatannya baik sebelum, selama maupun sesudah pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna). Ada 15 hal yang harus diperhatikan oleh jemaah agar ibadahnya lebih sempurna.

Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr. Eka Jusup Singka mengimbau agar saat pelaksanaan ibadah haji di Armuzna pada tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah 1440 H nanti, para jemaah haji harus selalu menjaga keselamatan dan kesehatannya. “Ada 15 hal yang harus diperhatikan oleh para jemaah haji,” katanya, Jumat (9/8/2019).

Pertama, makan teratur agar tubuh bertenaga dan tidak mudah sakit, perbanyak makan buah dan sayur. Kedua, sering minum dan tidak menunggu haus karena saat Armuzna suhu di Makkah diperkirakan makin panas, sehingga waspadai risiko kekurangan cairan atau dehidrasi dan heat stroke. Ketiga, kurangi aktivitas fisik yang tidak perlu, simpan tenaga untuk menyelesaikan Armuzna. Keempat, kurangi aktivitas di luar tenda saat Armuzna. Kelima, gunakan alat pelindung diri saat keluar pondokan atau tenda termasuk saat antre di toilet.

“Bawa obat-obatan pribadi dan mengonsumsinya secara teratur sesuai anjuran dokter,” kata dr. Eka.

Ketujuh, konsultasikan kesehatan ke petugas kesehatan terutama bagi jemaah berisiko tinggi sebelum berangkat ke Armuzna. Kedelapan, bawa dan konsumsi minuman oralit saat di Armuzna. Kesembilan, peduli dan saling menjaga antar jemaah minimal yang sekamar atau seregu, berangkat dan pulang bersama-sama. Kesepuluh, membawa pisau cukur sendiri dan tidak dipinjamkan atau meminjam milik orang lain.

Kesebelas, ketika di area Armuzna, tidak naik ke atas bukit, tebing atau bebatuan dan tidak berbaring di jalan atau di kolong kendaraan yang terparkir. Kedua belas, pilih rute melempar jamarat yang aman dan sudah direkomendasikan oleh petugas haji Indonesia yaitu rute yang melalui tenda-tenda jemaah Indonesia dan masuk melalui terowongan. Karena di jalur tersebut tersebar petugas dan pos kesehatan, sedangkan jalur lainnya tidak ada perlindungan petugas atau pos kesehatan sehingga berbahaya jika dilewati jemaah Indonesia.

Kemudian, tidak memaksakan diri melempar jamarat ketika kondisi kesehatan tidak memungkinkan. Melontar jamarat mengikuti waktu yang sudah ditentukan oleh pemerintah Arab Saudi, dan untuk jemaah Indonesia waktu melontar yang disarankan untuk tanggal 10 Zulhijah yaitu setelah asar atau setelah magrib dan pada tanggal 11 Zulhijah setelah subuh, karena jika melontar di waktu selain itu akan berisiko terpapar suhu yang sangat panas dan berdesakan dengan jemaah dari negara lain yang postur tubuhnya lebih besar dari jemaah Indonesia.

“Terakhir, hati-hati jika menggunakan tangga berjalan atau eskalator di area jemarat karena curam. Angkat pakaian di atas mata kaki untuk menghindari terinjak atau terbelit escalator,” kata dr. Eka.  (ns/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.