10 Pantangan Adat Jawa Kuno yang Tak Boleh Dilanggar dan Faktanya 

Yovie Wicaksono - 5 April 2023

SR, Surabaya – Masyarakat Indonesia sangat menjunjung tinggi warisan budaya kuno, terutama budaya atau tradisi Jawa yang masih kental hingga saat ini. Orang zaman dahulu pasti banyak memberikan pitutur, nasehat, ataupun larangan yang harus ditaati oleh anak cucunya.

Bagi orang Jawa banyak sekali pantangan-pantangan tidak boleh dilanggar. Berikut beberapa pantangan tersebut menurut orang Jawa dan faktanya

1. Makan dan minum sambil berdiri  

Sering dijumpai larangan makan dan minum sambil berdiri tidak hanya bagi orang Jawa saja. Khususnya pada masyarakat Jawa dahulu sering mengatakan jika makan/minum sambil berdiri akan mengubah orang tersebut menjadi hewan kuda.

Faktanya makan sambil berdiri mengarah kepada sopan santun baik dikarenakan makan sambil berdiri dianggap tidak sopan dan tidak baik untuk pencernaan.

2. Nyapu tidak bersih  

Ucapan “nyapu sing resik” atau dalam bahasa Indonesia berarti menyapu yang bersih, sering terdengar dari orang tua. Adanya ucapan tersebut karena masyarakat Jawa dahulu meyakini jika menyapu tidak bersih maka pasangan atau jodohnya akan tumbuh brewok.

Faktanya, jika kita menyapu tidak bersih mengarah pada kebersihan, kesehatan udara, dan kurang sedap jika dipandang. Hal ini juga bertujuan agar si anak dapat menjalankan tugasnya dengan benar, yaitu menyapu dengan bersih.

3. Suami membunuh hewan saat istri hamil  

Banyak orang Jawa percaya membunuh hewan ketika sang istri hamil adalah sebuah pantangan besar. Itu dikarenakan ketika sang anak lahir akan menyerupai hewan yang dibunuh tersebut, contohnya ketika sang suami membunuh hewan berbulu lebat, maka sang anak pun akan memiliki bulu lebat.

4. Keluar rumah waktu Magrib

“Jangan keluar waktu Magrib nanti di bawa setan wewe gombel”. Kalimat itu tidak asing bagi masyarakat Jawa dahulu dan mungkin masih ada di zaman modern ini.

Zaman dulu, pada waktu petang memang pencahayaan di luar ruangan kurang baik dan sumber cahaya seperti semprongan atau cemprong pun tidak bekerja secara maksimal dikarenakan masih adanya cahaya matahari sedikit terlihat.

5. Makan sambil tiduran  

Malas gerak menjadi faktor utama makan sambil tiduran. Orang-orang Jawa zaman dahulu sering mengatakan jika makan sambil tiduran maka akan berubah menjadi ular atau buaya.

Faktanya makan sambil tiduran dapat membuat seseorang tersedak dan dapat mengganggu pencernaan. Itu karena, makanan atau minuman yang dikonsumsi belum benar-benar masuk ke dalam pencernaan dan membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Sebaiknya makan dengan posisi duduk yang benar.

6. Menabrak kucing  

Menabrak kucing sering dianggap sebagai simbol malapetaka. Banyak orang Jawa beranggapan hal tersebut masih dapat dipercaya dan masih banyak ritual digunakan.

Sebagai contoh, ketika menabrak kucing dan kucing tersebut mati di tempat, maka si penabrak harus melepas baju yang dipakai saat itu untuk menjadi kain kafan si kucing dan menguburnya sama seperti manusia. Dengan begitu maka beranggapan simbol dari kesialan tersebut sudah hilang. Pada dasarnya menabrak hewan apapun sebagai manusia yang berakal kita harus bertanggung jawab sepenuhnya.

7. Dilarang memotong kuku malam hari

Di zaman dulu ada larangan memotong kuku di malam hari dengan alasan akan menghambat rezeki. Jika alasan itu digunakan, memang ada beberapa waktu yang dianggap baik untuk memotong kuku seperti hari Jumat pagi karena dianggap dapat memperlancar rezeki.

Faktanya, adanya larangan memotong kuku di malam hari pada zaman dulu dikarenakan pencahayaan kurang terang. Karena alat yang digunakan adalah gunting kertas sehingga ada kemungkinan dapat melukai jari-jari tangan.

8. Kupu-kupu masuk rumah  

Memang sangat banyak keyakinan masyarakat Jawa pada zaman dahulu tentang hewan. Ada yang meyakini bahwa seekor hewan adalah suatu pertanda. Salah satunya adalah kupu-kupu.

Apabila ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah maka diyakini akan kedatangan tamu. Tamu yang di maksud pun sudah dapat diketahui dari cantik atau tidaknya warna kupu-kupu tersebut. Apabila warna dari kupu-kupu tersebut cantik maka bisa disimbolkan tamu yang datang adalah tamu punya niat baik begitupun sebaliknya. Hal ini masih dipercaya hingga kini.

9. Bersiul di malam hari  

Siulan biasanya digunakan untuk memancing suara burung berkicau. Namun pada zaman dahulu bersiul bermakna lain apabila dibunyikan pada malam hari.

Masyarakat Jawa dahulu meyakini bersiul di malam hari dapat mengundang setan. Fakta tentang ini masih belum dapat seutuhnya di percaya di zaman sekarang. Pantangan ini mengajarkan akan asas sopan santun, yaitu untuk tidak bersiul di malam hari karena dapat mengganggu orang lain yang sedang istirahat.

10. Makan menggunakan tutup wadah  

Keyakinan pada zaman dahulu tentang menggunakan tutup wadah sebagai alas makan akan mendapatkan hal buruk. Di sisi lain tutup wadah berfungsi untuk menutupi makanan dari debu maupun hewan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa setiap barang harus digunakan sesuai fungsinya.

Itulah 10 pantangan dan fakta yang ada pada masyarakat Jawa. Semua kebiasaan baik maupun buruk sejatinya sudah ada pada zaman dahulu. Kita sebagai penerus generasi selanjutnya harus dapat mengolah setiap pantangan-pantangan tersebut apakah benar masih dapat dipercaya atau tidak. (*/vi/red)

Tags: ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.