Rayakan Imlek Sebaiknya Jangan Berbusana Putih, Ini Penjelasannya

Yovie Wicaksono - 18 February 2026
Robert, salah satu pengurus Klenteng Hian Thian Siong Tee atau Klenteng Cokro, Tegalsari, Surabaya. (foto: istimewa)

SR, Surabaya – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili yang jatuh pada Selasa (17/2/2026) disambut dengan kekhusyukan mendalam di Klenteng Hian Thian Siong Tee atau Klenteng Cokro, Tegalsari, Surabaya.

Di bawah naungan Tahun Kuda Api, suasana peribadatan tidak hanya diwarnai oleh kepulan asap hio, tetapi juga kepatuhan ketat terhadap etika leluhur yang diyakini menentukan nasib satu tahun ke depan.

Robert, salah satu pengurus operasional klenteng, menegaskan bahwa Imlek bukan sekadar perayaan pergantian tahun, melainkan momentum sakral yang dipagari oleh berbagai “pamali” atau pantangan yang wajib dipatuhi demi menjaga Hoki (keberuntungan) agar tidak tersapu hilang dari kediaman umat.

Dari sisi mitos dan pantangan, masyarakat Tionghoa di Surabaya masih memegang teguh larangan-larangan klasik yang dianggap krusial pada hari “H” Imlek. Pantangan utama meliputi larangan menyapu rumah, membuang sampah, hingga memotong rambut atau kuku, karena tindakan tersebut dipercaya secara simbolis akan membuang rezeki yang sedang datang.

Seseorang sedang berdoa dengan dupa di depan altar penuh lilin merah dan persembahan. Tulisan di belakang altar bertuliskan “福德正神” (Fú Dé Zhèng Shén), yaitu Dewa Bumi dan Kebajikan yang dalam tradisi Tionghoa dipercaya sebagai pelindung rezeki, moral, dan kesejahteraan. (foto : vico wildan/superradio.id)

Robert memberikan analogi logis untuk memperkuat narasi tradisi ini, “Logikanya, pada saat kita ada tamu (Dewa/Rezeki) yang datang, masa kita mau bersih-bersih rumah? Itu dianggap tidak sopan. Jadi biarkan rumah kotor sedikit tidak apa-apa, yang penting rezekinya tidak tersapu keluar”

Etika berbusana dan tata krama sosial juga menjadi sorotan utama dalam perayaan kali ini. Robert juga menyoroti pentingnya penggunaan warna merah dan larangan keras memakai baju berwarna putih atau hitam pekat.

“Secara tradisi, mau merayakan Imlek ya tidak boleh memakai baju putih. Putih itu lambang berduka. Kita harus pakai baju terang atau merah supaya rezekinya bersinar,” jelas Robert menambahkan.

Selain busana, etika pemberian Angpao juga dijalankan dengan ketat, di mana amplop merah hanya diberikan oleh mereka yang sudah menikah kepada yang lebih muda atau belum menikah, disertai ucapan Gong Xi sebagai doa keselamatan dan kemakmuran.

Perayaan di Klenteng Cokro tahun ini juga mencerminkan akulturasi budaya yang harmonis melalui tradisi kuliner Lontong Cap Go Meh. Soni menjelaskan bahwa adaptasi kuliner ini adalah bukti nyata bagaimana tradisi Tionghoa melebur dengan kearifan lokal Jawa di Surabaya. “Kita melambangkan api di tahun ini sebagai semangat. Kita harus bersikap tegas dan cepat (giras) seperti kuda untuk menghadapi masalah. Harapannya sederhana, semua diberi kelancaran, sehat, dan rezeki lancar,” pungkas Soni (/js/red)

 

 

 

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.