Zona Kuning Stunting, Ini Catatan Dewan Surabaya

Yovie Wicaksono - 21 March 2022

SR, Surabaya – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyebut Kota Surabaya zona kuning stunting dengan angka prevalensi stunting antara 20-30 persen. Pemkot Surabaya juga terus melakukan berbagai upaya untuk mencapai target zero stunting.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Surabaya, Akmarawita Kadir optimis zero stunting bisa tercapai asalkan sosialisasi pencegahan dan penanganan masif dilakukan di setiap kecamatan, kelurahan, RT/RW bahkan hingga tingkat keluarga.

“Jadi Camat, Lurah itu harus tau, daerah mana yang memiliki potensi terjadinya kasus stunting, faktornya apa, dan itu harus segera dicegah jangan sampai berkepanjangan,” tandasnya, Senin (21/3/2022).

Pria yang akrab disapa Akma ini memberikan catatan terkait sosialisasi stunting yang telah dilakukan selama ini, salah satunya terkait pemahaman atau mindset mengenai stunting.

“Nah ini yang harus dikuatkan lagi, sosialisasinya, mengenai alat ukur dan sebagainya yang masih berbeda-beda. Ini sudah kita ingatkan kemarin saat hearing dengan Dinas Kesehatan bahwa semuanya harus standar, termasuk mainset atau pemahaman dari masyarakat tentang stunting,” katanya.

“Perlu adanya sosialisasikan yang masif sehingga angka kasus stunting itu bisa berkurang. Ini yang kita harapkan,” sambungnya.

Ia tak menampik, efek pandemi Covid-19 yang terjadi dua tahun ini berpengaruh pada meningkatnya angka Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) serta kemiskinan yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya stunting.

Akma turut mengapresiasi Pemkot Surabaya melalui dinas-dinasnya yang telah berkolaborasi untuk menekan kasus stunting, seperti melalui program bantuan permakanan untuk anak stunting.

Sekadar informasi, saat ini angka stunting di Kota Surabaya menurun drastis, dari 5.727 kemudian menjadi 1.626. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.