Wayang Kulit Lintas Generasi: Resah Profesi Dalang Rawan Punah
SR, Surabaya – Masih dalam bulan Hari Wayang Nasional ke-6 dan juga Hari Pahlawan, Perkumpulan Seni dan Budaya Bumi Laras Manunggal menggelar Wayang Kulit Lintas Generasi dengan di Sanggar Budaya Bumi Laras Manunggal Jl Gayung Kebonsari 60 Surabaya, Rabu (20/11/2024).
Disebut pagelaran Wayang Kulit Lintas Generasi karena menampilkan lima dalang cilik yang berkolaborasi dengan enam dalang senior. Kesebelas dalang lintas generasi itu akan tampil secara estafet dengan satu cerita “Dewa Ruci”.
Kelima dalang cilik itu adalah Ki Ahmad Mustawan Firdausi (12 tahun), Ki Saka Pradita (4 tahun), Ki Andra Setiawan Dwi Putra (10 tahun), Ki Arsaka Mikaelo Nazwardi Sakip (6 tahun) dan Ki Satriya Khairunisa (12 tahun).
Kendati jam pentas dari dalang cilik masih sedikit, namun teknik dalam memainkan wayang, memainkan pita suara saat bercerita juga membacakan tembang suluk sudah cukup mapan. “Penampilan adik-adik dalang cilik sudah luar biasa. Walaupun ada yang masih duduk di bangku taman kanak kanak (TK) namun cara memegang wayang sudah seperti pedalang profesional,” puji Rizal Diansyah Soesanto, Ketua Panitia Pagelaran Wayang Litas Agama dalam kata pembuka acara.

Di tengah rasa bangga akan tampilnya paradalang cilik itu, Rizal juga mengungkapkan rasa kekhawatiran akan perkembangan seni budaya perdalangan. Pasalnya, sepanjang peringatan Hari Wayang Nasional yang ditetapkan oleh Keppres 30 Tahun 2018 atau enam tahun lalu, perhatian pemerintah sangat minim. Bahkan penyelenggaraan Wayang Lintas Generasi ini pun tanpa ada bantuan dana sepeser pun.
“Sejak Keppres Nomor 30/2018 ditandatangani, sudah enam kali kami mengadakan pentas wayang kulit, namun tidak sesuai harapan karena hampir tidak ada support pemerintah. Pernah satu kali, kami dibantu dana sekedarnya tapi saat kami undang, tidak ada perwakilan pemerintah yang mau datang,” ungkap Rizal.
Padahal, lanjut Rizal, dukungan sarana dan dana mutlak dibutuhkan untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya wayang. Ia khawatir tanpa dukungan itu, maka pedalang cilik ini tidak punya masa depan dan bukan mustahil akan berpaling atau bahkan meninggalkan dunia perdalangan.
“Mereka yang tampil saat ini adalah para generasi Indonesia Emas kelak di tahun 2045. Namun, jika minat mereka tanpa ada dukungan dari pemerintah dalam hal pementasan juga dukungan fasilitas lainnya, maka kami takut saat Indonesia Emas, tidak ada lagi profesi dalang,” keluh Rizal.
Protes Keras Budayawan
Ketua Bumi Laras Manunggal, Kompol (Pur) Dr H Adam Suwito SH MH sependapat dengan Rizal. Bahkan Adam menegaskan bahwa kegiatan Wayang Lintas Generasi ini sebagai bentuk protes atas sikap pemerintah yang abai dengan Hari Wayang Nasional.
“Percuma Presiden Joko Widodo mengeluarkan Keppres jika pemerintah di Jawa Timur khususnya Surabaya tidak punya rasa tanggungjawab untuk memperingati Hari Wayang Nasional. Jujur saja kegiatan ini merupakan protes, unjuk rasa damai, para budayawan di Hari Wayang Nasional,” tegas Suwito secara terbuka saat memberi sambutan.

Sesungguhnya, lanjut Suwito, ia prihatin dan ingin menangis karena tidak ada perhatian pemerintah daerah. Namun, pihaknya tidak ingin cengeng, maka dengan kesadaran penuh menggelar kesenian dengan gotong royong. “Akhirnya kami urunan lagi, ada yang bawa aqua (minuman kemasan), bikin soto, bawa beras, gula, potong ayam, kerupuk, dan lain-lain. Pemerintah kemana , ‘gak hadir’. Kita masyarakat mengeluarkan kocek kita sendiri,”ungkapnya.
Dalam kesempatan itu Suwito mengatakan Sanggar Bumi Laras Manunggal bisa masih eksis berkat kekompakkan budayawan yang dengan ikhlas mengajarkan seni budaya wayang, seni kerawitan, membaca suluk, mocopat dan lain-lain.
“Yang kami perlukan adalah sanggar yang ditempati secara sah dan bisa digunakan berbagai aktivitas seni budaya bersama-sama budayawan lain. Sarana ini untuk mendidik adik-adik kecil menuju Indonesia emas,” papar Suwito.
“Selama ini kami menyediakan alat (gamelan) seadanya sebagai sarana melatih anak-anak untuk mengenal perdalangan secara gratis. Sekali lagi, kami hanya ingin diberi ruang agar generasi muda diberi kesempatan tampil dan merasa bangga memiliki warisan wayang kulit,” imbuhnya.
Kendati begitu, Suwito berharap pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran yang mengusung program Asta Cita, dimana salah satunya berbunyi perkuat penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya menjadi perhatian pemerintah dalam pelestarian budaya. “Semoga dengan berdirinya Kementerian Kebudayaan dalam Kabinet Merah Putih dapat lebih memberikan warna dalam melestarikan budaya bangsa,” harapnya.
Hadir ikut meramaikan Pagelaran Wayang Lintas Generasi itu Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Kota Surabaya, Ki Sudiro Lebdo Wicoro; Ketua Pepadi Pasuruan, Ki Sengguk Adiguno; dan sejumlah tokoh dalang senior lainnya.
Usia 4 Tahun
Salah satu dalang paling kecil yang tampil di pentas Wayang Lintas Generasi adalah Ki Dalang Saka Pradita. Masih berusia 4 tahun dan baru duduk di bangku Sekolah Taman Kanak-kanak (TK), Saka tampil di damping kakeknya Ki Dalang Bambang Prayogo

Dengan tutur kata yang lucu dan kenes, Saka memperkenalkan dirinya dan juga menyapa para dalang senior dan juga mengucap Hari Wayang Nasional. “Saya Petruk Saka, kelas TK A, umur 4 tahun saking Pabean, Sedati, Sidoarjo. Mohon izin kagem Ki Adam Suwito tepuk tangan… poro dalang.. tepuk tangan, poro sinden tepuk tangan.. ayu-ayu kabeh… semoga wayang tetap Jaya,” kata Saka.
Tidak hanya kenes, tapi Ki Saka juga begitu lincah menggerakkan tangannya memainkan Petruk sedang menari Srampat mengenakan baju buto barong. Begitu juga sabetan Ki Saka cukup tegas saat memainkan cerita singkat tokoh Arjuna dan juga Werkudoro.
Ki Saka yang dilatih langsung oleh Ki Prayogo setiap hari sepulang sekolah TK A. Anak pertama dari Satria Andhi Pradipta itu baru belajar dalang sekitar enam bulan lalu, ketika ia mendaftar sekolah di rumah kakeknya di Desa Pabean, Kecamatan Sedati, Sidoarjo, Saka rela pisah rumah dengan ayah – ibunya yang domisili di Surabaya. “Orang tua Saka, dua-duanya bekerja, dan kebetulan Saka senang main wayang dan mau tinggal di rumah saya dan bersekolah di dekat rumah,” kisah Ki Prayogo kepada superradio.id, di lokasi Wayang Lintas Generasi.
Ki Prayogo juga senang bercampur kagum dengan bakat cucunya itu. Tidak disangka dalam waktu relatif singkat Saka sudah banyak hafal tokoh-tokoh pewayangan juga bisa merubah-ubah suara sesuai watak dan karakter wayang. “Daya ingat Saka ini sangat bagus, ia mudah hafal nama-nama tokoh apalagi tokoh Pandawa. Selain itu ia juga rajin memainkan wayang setiap hari sehingga gerakan tangannya cukup bagus,” pujinya.
Ki Prayogo mengaku bangga melihat minat dan bakat cucunya, karena ketiga putra dari Ki Prayogo tidak ada yang terjun di dunia kesenian wayang. “Sebenarnya kami ini keluarga seniman wayang, selain saya, ayah saya juga dalang. Alhamdulillah menurun ke cucu saya,” bebernya.

Untuk meningkatkan ketrampilan memainkan wayang, Ki Prayogo sudah memasukkan Saka ke komunitas ‘sekolah’ wayang di Sanggar Bumi Laras Manunggal. Hal ini dianggap penting bagi Saka untuk menjaga minat dan kreativitasnya. “Selain meningkatkan teknik main wayang, Saka perlu sosialisasi dengan teman yang satu hobi agar dia tidak merasa sendiri atau kesepian di dunia seni wayang,” pungkas Ki Prayogo.
Pelatih dalang cilik di Sanggar Bumi Laras, Ki Surono senang bisa mengajar dan melatih anak-anak berkesenian wayang kulit. Menurutnya, dalang mempunyai andil untuk memotivasi masyarakat karena sosok dalang adalah penyampai pesan kenegarawanan melalui multi dimensi dan multi medium. “Pesan dalam seni wayang disampaikan melalui unsur suara, suluk, gamelan, maupun suara dalang. Seni pedalangan itu menggabungkan tontonan, tuntunan yang memakai tatanan,” urai Ki Surono.
Ditambahkannya, pofesi dalang sesungguhnya ada seorang pendidik sehingga layak menjadi pendamping pemerintah. Karena profesi dalang harus menjalankan Tri Dharma: melestarikan, mengagungkan dan mengembangkan kebangsaan dan kebhinekaan.
“Semakin banyak anak-anak belajar seni wayang, maka generasi penerus dapat mencegah budaya asing menjajah budaya leluhur. Sanggar Bumi Laras setiap hari Jumat siang jam 13.00 WIB menyelenggarakan belajar secara cuma-cuma alias gratis,” kata Ki Surono. (ton/red)
Tags: bumi larasa manunggal, Dalang Cilik, superradio.id, surabaya, wayang lintas generasi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





