Tokoh Penggerak Sosial Sidoarjo Ini Dijuluki Bupati Swasta

Rudy Hartono - 22 August 2026
Ketua RPS Sujani penggagas Ruwatan dan Tirakatan Kabupaten Sidoarjo saat menyapa para peserta di Pendapa Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporaparbud) Kabupaten Sidoarjo, Kamis (20/8/2026) malam. (foto: dipta/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Di tengah hiruk pikuk politik di pemerintahan Kabupaten Sidoarjo, muncul sosok bernama Sujani. Pria pegiat budaya ini aktif melakukan pembelaan  warga dan juga lantang menyampaikan kritik-kritik kepada kebijakan atau program Pemkab Sidoarjo.

Popularitas Sujani semakin kuat setelah ia membuat grup Whatsapp “Ruang Publik Sidoarjo (RPS)”. Di dalamnya berisi anggota mencapai 400 hingga 500 orang yang tersebar di berbagai kecamatan di seluruh kabupaten. Berkat popularitasnya di grup RPS, maka tersematkan julukan “Bupati Swasta” kepada Sujani.

Julukan ini disematkan karena konsistensinya hadir di tengah masyarakat dan menginisiasi berbagai kegiatan sosial secara mandiri tanpa menunggu instruksi dari pemerintah. Nama tersebut bukanlah jabatan resmi pemerintahan, melainkan sebuah pelesetan akronim penuh makna “Berjuang untuk Pastikan Hati dan Suara Warga Sidoarjo Tercinta”.

Swadaya Tanpa APBD

Salah satu kegiatan monumental yang melibatkan jumlah massa besar adalah perhelatan Ruwatan dan Tirakatan Massal Lintas Agama. Melalui kegiatan itu, ia bisa mengumpulkan ribuan warga dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh lintas iman (Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, hingga Penghucu) hingga organisasi masyarakat dan kepala desa.

Kegiatan ini bertujuan sebagai refleksi spiritual dan doa bersama agar Kabupaten Sidoarjo senantiasa aman dan harmonis di tengah keberagaman. Sujani menekankan pentingnya menjaga tradisi leluhur ini agar tetap hidup sebagai pedoman keselamatan warga.

Perjuangan Sujani yang di juluki Bupati Swasta tidaklah mudah, karena ia memilih jalan kemandirian finansial. Setiap acara besar yang ia motori, termasuk ruwatan massal, dilakukan tanpa menggunakan sepeser pun dana APBD atau anggaran negara. Pendanaan diperoleh secara swadaya melalui iuran anggota komunitas RPS atau sumbangan sukarela.

Sujani bahkan mengakui bahwa dalam proses pelaksanaannya, mereka seringkali harus “berdarah-darah” secara finansial demi memastikan acara berjalan sukses.  “Kita ingin membiasakan memberikan contoh kepada masyarakat bahwa kegiatan itu tidak harus dari pemerintah,” tegas Sujani saat diwawancarai pada hari kamis malam(20/8/2026)

“Bupati Swasta” Sidoarjo Sujani

Berulangkali Dicibir dan Dibullying

Selain kegiatan budaya, Sujani juga aktif dalam ranah pengawasan kebijakan publik. Ia bersama komunitasnya meluncurkan platform “Lapor Buwas” (Lapor Bupati Swasta) sebagai sarana komunikasi interaktif untuk merespons cepat aduan masyarakat mengenai masalah sosial maupun infrastruktur.

Melalui RPS, ia secara rutin mengadakan diskusi publik dan refleksi akhir tahun yang bertujuan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah daerah secara tajam namun tetap konstruktif. Baginya, peran ini sangat penting untuk menjadi penyeimbang jalannya pemerintahan agar tetap berpihak pada kepentingan rakyat.

Dalam menjalankan perannya, Sujani kerap menghadapi tantangan berupa cibiran atau tindakan bullying dari pihak yang mempertanyakan legalitas gelarnya. Ada yang meragukan surat keputusan (SK) pengangkatannya hingga menuduhnya memiliki ambisi politik tertentu. Namun, Sujani menanggapi semua kritik tersebut dengan tenang dan menjadikannya sebagai motivasi.

“Tantangan itu sudah biasa dan itu kita anggap kita jadikan sebagai vitamin agar kita sehat,” ungkapnya mengenai tekanan yang ia terima selama mengemban julukan Bupati Swasta selama lebih dari empat tahun terakhir.

Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Ridwan, Salah Satu Anggota RPS, memberikan testimoni mengenai dampak nyata gerakan ini.  “Tapi kalau menurut saya ada gebrakanlah. Ada gebrakan untuk pemberdayaan masyarakat juga… yang menjembatani kepentingan publik dengan pemerintah daerah,” ujar Ridwan saat menjelaskan bagaimana komunitas ini berfungsi sebagai saluran komunikasi efektif antara warga dan penguasa(20/8/2026)

Kepedulian Sujani terhadap budaya Nusantara juga telah membuahkan pengakuan resmi, di mana ia pernah dianugerahi penghargaan sebagai Tokoh Masyarakat Peduli Budaya Nusantara. Ia aktif terlibat dalam tradisi lokal seperti Grebeg Suro dan Jamasan Pusaka, di mana ia sering memberikan orasi kebudayaan untuk mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan identitasnya.

Melalui komunitasnya, ia juga menginisiasi “RPS Award”, sebuah ajang penghargaan bagi tokoh-tokoh inspiratif lokal mulai dari pegiat UMKM hingga seniman yang berkontribusi nyata bagi Sidoarjo.

Beri Masukan Bupati Subandi

Sujani menegaskan bahwa tujuannya tetap menjadi “Bupati Swasta” adalah untuk tetap memiliki kebebasan dalam menyuarakan suara rakyat tanpa terikat oleh birokrasi. Ia mengklaim sering menjalin komunikasi informal dengan pemimpin daerah untuk memberikan masukan secara langsung.

“Untuk mengubah kebijakan itu tidak harus menjadi bupati negeri, bisik-bisik saja bisa,” kelakarnya, merujuk pada pertemuan rutinnya dengan bupati resmi untuk menyampaikan aspirasi warga yang belum tersentuh kebijakan pemerintah.

Sujani S.Sos. melalui dedikasinya telah membuktikan bahwa kontribusi bagi daerah tidak harus selalu berawal dari kursi kekuasaan resmi. Dengan semangat kemandirian dan rasa cinta terhadap tanah kelahirannya, ia terus berupaya menyatukan berbagai elemen masyarakat Sidoarjo demi mencapai kesejahteraan bersama.

“Bupati Swasta itu… hanya panggilan… tugasnya adalah memperjuangkan aspirasi masyarakat, hati masyarakat yang mungkin dalam hal kebijaksanaan pemerintah mungkin dirasa tidak menyenangkan,”pungkas Sujani, merangkum filosofi hidupnya bagi Sidoarjo.(js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.