Komunitas RPS Swadaya Gelar Ruwatan Kabupaten Sidoarjo

Rudy Hartono - 22 August 2026
Ketua RPS Sujani penggagas Ruwatan dan Tirakatan Kabupaten Sidoarjo saat menyapa para peserta di Pendapa Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporaparbud) Kabupaten Sidoarjo, Kamis (20/8/2026) malam. (foto: dipta/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Komunitas Ruang Publik Sidoarjo (RPS) sukses menyelenggarakan tradisi Ruwatan dan Tirakatan Kabupaten Sidoarjo pada Kamis (20/8/2026) malam. Acara sakral yang berlangsung di Pendapa Kantor Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporaparbud) Kabupaten Sidoarjo ini dihadiri oleh ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari budayawan, LSM, kelompok kepercayaan, hingga tokoh lintas agama.

Pencetus kegiatan sekaligus sosok yang akrab dijuluki “Bupati Swasta Sidoarjo”, Sujani, menyampaikan bahwa agenda ruwatan ini merupakan gelaran tahun kedua setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di kawasan GOR Sidoarjo. Menurutnya, ruwatan ini murni ditujukan sebagai ikhtiar batin untuk memohon perlindungan bagi Kota Delta.

“Tujuannya mendoakan Kabupaten Sidoarjo beserta seluruh warganya agar tetap aman, kondusif, dan dijauhkan dari segala marabahaya,” ujar Sujani saat diwawancarai di sela acara.

Sujani mengingatkan betapa kuasanya Tuhan YME dalam membalikkan sebuah peradaban. Ia mengambil contoh nyata musibah gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 di Flores, NTT, yang hanya dalam waktu 47 detik mampu memporak-porandakan desa-desa di sana. Melalui refleksi bencana tersebut, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah untuk bersinergi mengetuk pintu langit.

“Setelah melakukan ruwatan, maka langkah selanjutnya leluhur menganjurkan untuk melakukan tirakat, seperti meningkatkan ibadah, puasa, banyak sedekah, dan sebagainya,” tambah Sujani.

Ketua Komunitas Ruang Publik Sidoarjo Sujani memotong tumpeng untuk dibagikan kepada para pemuka lintas agama, pada Malam Ruwatan dan Tirakatan Sidoarjo, Kamis (20/8/2026). (foto: dipta/superradio.id)

Mocopat dan Doa Lintas Agama

Suasana berubah menjadi sangat khidmat saat memasuki acara inti yang diawali dengan pembacaan Macapat Sesanti Puji oleh Ki Surya. Alunan tembang macapat tradisional ini membawa pesan mendalam berupa puja-puji kepada Tuhan Yang Maha Esa serta permohonan keselamatan dan ketenteraman hidup berbangsa, khususnya bagi stabilitas di Sidoarjo.

Selepas macapat, doa bersama dipimpin secara bergantian oleh para tokoh lintas agama dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, hingga Penghayat Kepercayaan. Secara khusus, para pemuka agama memanjatkan doa untuk kerukunan para pemimpin Sidoarjo: mulai dari Bupati, Wakil Bupati, hingga jajaran anggota DPRD. Selain itu, terselip pula doa perlindungan bagi generasi muda dari bahaya narkoba dan pergaulan bebas, serta doa kemanusiaan untuk keselamatan warga Flores yang tertimpa bencana.

Prosesi puncak ruwatan ini ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Sujani, yang kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah dan makan bersama seluruh peserta.

Tokoh masyarakat Sidoarjo, Achmad Shodiq (Gus Shodiq)

Bangkitkan Memori Kebesaran Leluhur

Tokoh masyarakat Sidoarjo, Achmad Shodiq, SH., MH., M.Kn. (Gus Shodiq), yang didaulat memberikan refleksi, menyampaikan apresiasi tinggi sekaligus kritik membangun bagi pemerintah daerah.

Menurut Gus Shodiq, agenda ruwatan keselamatan dan kesejahteraan rakyat sebetulnya merupakan wilayah tanggung jawab pemerintah daerah. Oleh karena itu, ia memuji determinasi Sujani dan Komunitas RPS yang mampu menggerakkan massa secara swadaya.

Dalam kesempatan itu Gus Shodiq mengusulkan penyelenggaraan Ruwatan Kabupaten Sidoarjo di masa mendatang bisa mempertimbangkan tempat-tempat sebagai penanda keberadaan leluhur Kabupaten Sidoarjo.

“Sebaiknya untuk tahun depan diselenggarakan di punden-punden atau tempat leluhur kita agar lebih sakral. Mengingat yang berjasa pada warga Sidoarjo bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga leluhur yang ditandai banyaknya punden di Sidoarjo,” saran Gus Shodiq.

Banyak Tantangan dan Cemooh

Merespons masukan tersebut, Sujani mengaku terbuka. Namun, ia tidak menampik adanya kekecewaan terhadap respons jajaran birokrasi. Sujani mengungkapkan bahwa dirinya telah berdialog langsung dan mengundang Plt. Bupati Sidoarjo, Subandi, untuk hadir. Pihak panitia bahkan sudah mengalah dengan menyesuaikan jadwal pelaksanaan sesuai hari dan jam yang diminta oleh sang bupati. Sayangnya, orang nomor satu di Sidoarjo tersebut tetap berhalangan hadir.

Selain absennya kepala daerah, Sujani membeberkan bahwa operasional acara ini penuh dengan dinamika. “Acara ini semuanya serba tantangan, baik mengenai dana, pelaksanaan, kemudian kita juga dihina orang-orang. Tapi kami tetap maju dan cukup sukses seperti yang Anda lihat saat ini,” tegasnya.

Melalui konsistensi ruang budaya ini, Komunitas RPS berharap masyarakat Sidoarjo tidak melupakan akar sejarahnya dan terus memperkuat tali silaturahmi lintas golongan demi menjaga kondusivitas daerah. (dipta/red)

Tags: , , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.