Terungkap, Ini Asal Ratusan Kayu Gelondongan Terdampar di Sumenep

Rudy Hartono - 21 September 2026
Warga melintas di antara ratusan kayu yang terdampar dipesisir Sumenep, Jawa Timur. (net)

SR, Sumenep  – Gelondongan kayu yang terdampar di pesisir tiga desa di Kecamatan Tungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, terlepas dari kapal tongkang yang mengangkutnya. James Malumbot, mualim I kapal tongkang tersebut, mengatakan, tongkang itu membawa 697 batang kayu dari Sungai Berau, Kalimantan Timur, menuju Probolinggo, Jawa Timur.

Dalam kondisi normal, perjalanan dari Sungai Berau menuju Probolinggo ditempuh sekitar 11 hari. Namun, cuaca buruk membuat perjalanan berlangsung sekitar 13 hari dan tongkang belum tiba di tujuan.

“Berangkat dari Sungai Berau, menuju Probolinggo. Berangkat tanggal 5 September. Sampai di sini karena cuaca buruk, sekitar pulau Gili Iyang, tanggal 18 September, sekitar jam 17.00 WIB,” kata James kepada Kompas.com di Sumenep, Senin (21/9/2026).

James mengatakan, cuaca buruk terjadi saat tongkang melintasi perairan Pulau Jawa. Kondisi tersebut berlangsung selama dua hari dengan ketinggian gelombang sekitar 4 meter.

“Saat menyeberang perairan Pulau Jawa, diperkirakan tanggal 13 hingga 14, itu cuaca buruk. Cuaca buruk itu dua hari. Jadi tongkang kami miring,” tambahnya.

Kondisi tersebut membuat awak kapal kesulitan mencari tempat berlindung. Pulau Gili Iyang menjadi lokasi terdekat yang dipilih untuk berlindung dari cuaca buruk.  “Sempat kesulitan cari tempat berlindung, yang terdekat ya pulau Giliyang ini,” ujarnya.

James mengatakan, awak kapal belum mengetahui secara pasti penyebab tongkang miring. Namun, mereka menduga air masuk ke dalam tongkang akibat cuaca buruk. Kondisi tersebut diperparah tekanan muatan kayu yang berat.

“Kami belum tahu apa penyebabnya. Tapi kemungkinan besar, air sudah masuk di tongkang karena cuaca buruk. Tekanan kayu yang berat,” jelasnya. (*/red)

 

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.