ARTSUBS 2026 Resmi Dibuka, Boyong 500 Karya Seni ke Surabaya

Rudy Hartono - 20 September 2026
Pembukaan pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/9/2026), ditandai dengan pengguntingan pita oleh jajaran kurator, penyelenggara, Pemkot Surabaya dan board advisory ARTSUBS. (foto: debby devega/superradio)

SR, Surabaya  Gelaran seni rupa kontemporer ARTSUBS kembali membuka pintunya. Pameran ARTSUBS 2026: Border, Threshold, and Beyond resmi dibuka di halaman Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/9/2026) sore.

Pameran yang akan berlangsung  hingga 8 November 2026 ini tampil dalam skala besar. Panitia mencatat ada sekitar 500 karya yang dipamerkan dari 113 seniman, termasuk 7 peserta kolektif.

Kurator ARTSUBS 2026, Nirwan Dewanto menegaskan, skala besar itu bukan untuk gagah-gagahan. Menurutnya, kota sebesar Surabaya yang menjadi pusat ekonomi kedua terbesar di Indonesia, memang membutuhkan ruang kebudayaan yang sepadan besarnya.

“Surabaya membutuhkan museum dan ruang publik untuk refleksi. Di tengah budaya massa, kecepatan informasi dan politik yang deras, masyarakat yang beradab butuh tempat untuk berhenti sejenak dan mendapatkan keseimbangan,” ujar Nirwan yang lahir di kampung Gubeng, dalam sambutannya.

Nirwan menambahkan, ARTSUBS menawarkan hiburan yang baik – hiburan yang tidak hanya menyenangkan tapi memberi asupan emosional dan intelektual. “Seni kontemporer tidak harus selalu rumit. Ia bisa menjadi pengalaman yang menghibur sekaligus menjaga kepekaan indera kita di era digital,” katanya.

Pembukaan pameran seni rupa kontemporer ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (19/9/2026) (foto: debby devega/superradio)

Pameran tidak hanya menampilkan lukisan. Ada instalasi interaktif, instalasi arsitektur, karya eksperimental, hingga karya yang masih dekat dengan pemahaman publik umum. Keberagaman itu yang justru ingin ditawarkan.

Kurator lainnya Asmudjo J. Irianto menyoroti pemanfaatan bangunan kota untuk kebudayaan. Di negara maju, gedung yang baik dimanfaatkan sebagai museum dan ruang budaya.

“Surabaya punya STKW dan Unesa sebagai lumbung pendidikan seni, tapi ekosistem itu butuh rumah kebudayaan yang lebih memadai agar kehidupan seni tidak berhenti di ruang akademik,” ujar Asmudjo.

Direktur ARTSUBS, Rambat, mengapresiasi dukungan Pemkot Surabaya yang memberikan Balai Pemuda sebagai venue utama. Apresiasi senada disampaikan Sukma Kurniawati, Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Walikota Surabaya yang hadir mewakili Walikota.

“Tidak cukup sehari untuk menyaksikan semuanya. Mari beramai-ramai menikmatinya, semoga tahun berikutnya lebih bagus lagi,” ajak Sukma. (dd/red)

 

Tags: , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.