Tahun Ajaran Baru, Permintaan Topi Sekolah Meningkat

Yovie Wicaksono - 4 July 2019
Khoirul Anam sedang memotong material topi. Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Sidoarjo – Jumlah permintaan atribut sekolah, khususnya topi, meningkat pada masa Tahun Ajaran Baru 2019. Hal tersebut dirasakan oleh salah satu pengrajin topi, Khoirul Anam (53), di Kampung Topi Punggul, Desa Punggul, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo.

“Dibanding hari biasa, masa Tahun Ajaran Baru ini ada peningkatan orang baru yang mau pesan topi sekolah, tapi jarang sekali saya terima pesanannya, kecuali pelanggan lama,” ujarnya kepada Super Radio, Rabu (3/7/2019).

Bukan tanpa alasan dirinya jarang menerima pesanan topi sekolah, tapi karena keterbatasan waktu, tenaga, dan banyaknya pesanan topi jenis lain.

“Ya tetap melayani topi sekolah tapi tidak semua, karena waktunya tidak mampu untuk mengerjakan topi sekolah, tenaga kerjanya kurang dan sudah banyak orderan topi yang lain,” imbuhnya.

Usaha milik Khoirul yang berdiri sejak tahun 2000an ini tidak hanya memproduksi topi sekolah saja, tapi juga topi untuk pabrik, TNI, perusahaan, dan beberapa organisasi. Harga topi bermerek Pechico miliknya ini dibanderol mulai 8 ribu untuk topi sekolah, hingga topi seharga 1 juta untuk topi golf.

“Harga itu tergantung dari bahan, bentuk, dan jahitannya. Paling murah ya 8 ribu, paling mahal 1 juta,” imbuhnya.

Dalam satu minggu, Khoirul dibantu dengan 5 pegawainya bisa memproduksi 10 hingga 1000 topi, dengan pelanggan yang paling jauh berasal dari Irian Jaya dan Aceh. Dengan kemajuan teknologi, sejak 2016 Khoirul mulai mempromosikan topi miliknya melalui sosial media Instagram.

“Minimal pesan itu 100 topi. Tapi kalau sekolah itu biasanya pesan 300-600 topi, lalu pabrik itu satu bulan sekali pesan 1000 topi. Saya juga promosi lewat Instagram, tapi masih tidak bisa mengalahkan promosi dari  mulut ke mulut,” ujarnya.

Khoirul mengatakan, kesulitan yang ia alami saat menerima pesanan topi adalah mencari material yang tidak selalu ada di Indonesia. Terkadang ia harus memesan material tersebut dari luar negeri.

“Yang susah itu cari materialnya, kadang di Indonesia tidak ada. Seperti topi golf ini ada yang bahannya dari Jerman. Jadi kalau mau pesan, biasanya mereka sudah bawa bahannya, kadang saya juga sampai pesan dari luar negeri,” tandasnya. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.