Suasana Kafe dan Resto ala Korea di Kota Kediri 

Yovie Wicaksono - 17 January 2021
Segoro Art Rock Suki Grill n Cafe. Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Persaingan usaha kafe dan resto di Kediri semakin kompetitif. Para pemilik usaha saling berlomba untuk terus berinovasi membuat tongkrongan baru yang berbeda dan memberikan kesan nyaman kepada pengunjung.

Berkunjung ke Jalan Mayor Bismo, Kelurahan Semampir, Kota Kediri, terdapat sebuah kafe dan resto baru yang menawarkan konsep perkampungan negeri Ginseng Korea.

Kafe dan resto yang baru dilaunching pada Rabu (13/1/2021) itu diberi nama Segoro Art Rock Suki Grill n Cafe.

Ada sekitar enam rumah penduduk disana didesain mirip tempat tinggal ala Korea. Disamping itu, bangunan tembok perkampungan sepanjang jalan dicat dan diberi aksesoris miniatur pohon serta nama jalan asal Korea.

Kafe dan resto konsep ala Korea ini merupakan satu satunya yang ada di Kota Kediri. Meski masih dalam satu lingkup, namun kafe dan resto yang ada disini, dibuat secara terpisah dan dikelola oleh manajemen berbeda.

“Nama gang perkampungan ini kan semula Segoro Arto, lalu kita ubah menjadi Segoro Art Rock. Kebetulan kan adik saya suka musik rock. Yang mengkonsep perkampungan Korea ini adalah ayah dan ibu saya, kita terinspirasi dari kesuksesan kampung coklat yang ada di Blitar. Akhirnya kita buat seperti ini,” ujar putra dari pemilik usaha, Muhammad Shi Bo Malisi.

Sesuai momentum sekarang, budaya Korea saat ini lagi ngetrend dan banyak digandrungi oleh kawula muda, baik musik, film hingga kulinernya.

Lebih lanjut, pemuda berusia 23 tahun ini mengaku untuk merombak desain sekaligus membuat kafe dan resto ala Korea ini dana yang sudah dikeluarkan mencapai ratusan juta. Kafe dan resto tersebut mulai di desain pada awal Agustus 2020 lalu.

Lokasi kafe dan resto dibuat secara terpisah, namun masih dalam lingkup perkampungan Korea. Hidangan yang disajikan pun berbeda. Dimana restoran Suki Grill posisinya berada didepan dengan menu hidangan yang disajikan lebih condong ke menu Korea. Disini para juga pengunjung diberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam proses memasak.

“Konsumen bisa memanggang langsung dagingnya, sensasinya dari situ. Sehingga bisa menentukan kematangan daging itu sendiri, sesuai selera.  Jadi sifatnya edukasi secara langsung ke pengunjung,” katanya.

Menu masakan ala Korea berbahan daging sapi ini dijual dengan harga bervariatif, sesuai kategori usia. Untuk kategori pria dewasa dijual Rp 80 ribu, lansia Rp 70 ribu serta usia anak-anak Rp 50 ribu. Dengan harga sekian, pengunjung bisa makan sepuasnya dengan dibatasi waktu selama 90 menit.

Sementara untuk konsep kafe, lebih ditonjolkan di ruang terbuka. Menu makanan yang ditawarkan lebih cenderung ke makanan ringan semacam rice ball, yakni nasi putih yang disajikan di mangkok ukuran kecil dengan toping beraneka macam. Selain itu ada juga bermacam varian minuman yang dijual, seperti kopi dan minuman jenis modern.

“Minuman paling murah jenis kopi tubruk cuma Rp 10 ribu, kalau minuman lainnya nggak sampai Rp 20 ribu,” ujar mahasiswa UGM Jurusan Manajemen ini.

Bagi pengunjung yang suka berfoto, tongkrongan ini sangat direkomendasikan, lantaran disetiap sudut perkampungan yang dikonsep ala Korea  ini bisa di eksplore untuk berswa foto. Tidak hanya itu pengunjung juga bisa memanfaatkan bangunan lantai dua cafe dengan latar belakang area persawahan untuk berfoto. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.