Empat Cara Pahamkan Anak Soal Kondisi Disabilitas Netra

Yovie Wicaksono - 13 April 2023
Ilustrasi. Foto : (Shutterstock)

SR, Surabaya – Orangtua penyandang disabilitas netra bisa saja memiliki anak non disabilitas. Dalam keadaan seperti ini, seiring bertumbuhnya anak, mereka bisa memiliki rasa penasaran terhadap kondisi yang disandang orangtuanya.

Orangtua memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi dan edukasi tentang berbagai hal termasuk kondisi disabilitas netra. Tentu diperlukan cara untuk menjelaskannya, terlebih kepada anak balita (bayi di bawah lima tahun) dan usia sekolah yang masih memiliki cara pandang sederhana tentang kehidupan.

“Dengan cara penyampaian yang tepat, diharapkan anak-anak akan lebih mudah memahami kondisi tunanetra yang dialami ayah atau ibunya,” mengutip tulisan Aparatur Sipil Negara (ASN) tunanetra Rifka Aprilia di laman resmi Yayasan Mitra Netra.

Berikut trik menyampaikan kondisi tunanetra kepada anak non disabilitas netra;

1. Sampaikan dengan Bahasa Sederhana

Orangtua perlu menyampaikan pemahaman kondisi netra dengan bahasa sederhana sehingga mudah dimengerti oleh anak. Hal ini dikarenakan, pola pikir anak akan terus berkembang seiring dengan pertambahan usia. Pada setiap fase perkembangan, anak akan belajar hal baru dan memahami sesuatu dengan cara yang sederhana sesuai usia mereka.

Anak juga memiliki rasa ingin tahu tinggi terhadap hal baru yang dilihat atau dirasakannya. Sehingga, orangtua sepatutnya menyesuaikan cara penyampaian informasi dengan lebih sederhana demi memuaskan rasa ingin tahu mereka.

“Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan dunia anak untuk menghindari kebingungan pada diri mereka,” tambah Rifka.

2. Tak Perlu Beri Uraian Detail

Rifka mengatakan, ketika menyampaikan kondisi tunanetra, ayah dan ibu tak perlu memberikan uraian yang rumit dan kompleks. Seperti diagnosa medis, penyebab tunanetra, dan lain-lain.

Orangtua dapat menjelaskan kondisi disabilitas netra dengan hal sederhana di sekeliling anak. Misalnya, dengan menggunakan penjelasan berupa analogi peristiwa alam, yaitu pergantian siang dan malam. Selain itu, juga dapat menjelaskan makna terang dan gelap dengan membuka dan menutup mata anak.

3. Bangun Pemahaman Anak dengan Bermain Bersama

Meski telah dijelaskan dengan bahasa sederhana, tidak menutup kemungkinan anak masih akan bertanya tentang kondisi tunanetra yang dialami oleh ibu atau ayahnya. Hal ini bukan berarti anak belum memahami penjelasan yang sudah diberikan, melainkan kepala anak akan terus diisi oleh pertanyaan baru terkait hal yang menarik perhatiannya.

Jika terjadi hal demikian, ayah dan ibu dapat mengajak anak melakukan permainan sederhana misalnya bermain di dalam ruang gelap. Permainan ini dilakukan agar anak lebih memahami kondisi tunanetra orangtua.

Permainan dapat dilakukan di kamar anak dengan pintu tertutup dan lampu dimatikan. Namun, pastikan terlebih dahulu bahwa ruangan aman dari benda-benda yang dapat membahayakan. Lalu, ayah dan ibu dapat mengajak anak menelusuri ruangan gelap dengan perlahan dan meminta anak menebak barang yang disentuhnya.

Sambil bermain, ayah atau ibu dapat menceritakan kondisi penglihatan yang dialami. Dengan permainan sederhana ini, anak diharapkan dapat lebih memahami kondisi tunanetra orang tuanya. Permainan ini melibatkan banyak indera pada tubuh anak, sehingga memungkinkan mereka mengeksplorasi informasi dengan lebih mendetail.

4. Sampaikan Apa yang Tidak Boleh Anak Lakukan Saat Berinteraksi dengan Orangtua Disabilitas Netra

Setelah anak lebih memahami kondisi tunanetra yang dialami oleh orangtuanya, saatnya melibatkan mereka untuk menjadi anggota keluarga yang bersikap inklusif.  Caranya, beritahu mereka tentang hal apa saja yang sebaiknya dilakukan dan dihindari saat beraktivitas di sekitar ayah atau ibunya.

Selain itu, orang tua perlu memberi tahu mereka agar lebih teratur dalam meletakkan barang sesuai tempatnya. Misalnya, melatih anak untuk merapikan mainan setelah digunakan agar tidak terinjak oleh orang tua.

Tidak hanya itu, beritahu juga agar bermain di area yang aman alih-alih pada tempat yang sering digunakan untuk berlalu lalang oleh anggota keluarga lain. Tujuannya agar ibu atau pun ayah tidak tersandung oleh anak yang sedang bermain.

Dengan melatih anak melakukan hal sederhana tersebut, kelak mereka akan menjadi anak yang bisa mendukung dan membantu penyandang disabilitas netra baik di lingkungan rumah, maupun di lingkungan masyarakat. (*/vi/red)

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.