Soal Ludruk, Cak Kartolo : Silahkan Kreasikan Cerita tapi Pakem Jangan Hilang

Rudy Hartono - 4 April 2026
Seniman ludruk Cak Kartolo di kediamannya di sekitar Jalan Kupang Jaya I Surabaya, Rabu (1/4/2026). (foto : hamidiah kurnia/superradio.id)

SR, Surabaya – Maestro Ludruk Cak Kartolo membagikan keresahannya terkait masa depan ludruk di era modern. Seniman asal Prigen yang memulai karir sejak lulus Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1958 itu mengaku memberi lampu hijau pada seniman muda.

Namun ada satu hal yang ia tekankan, yakni pakem (unsur wajib).  Menurutnya, tiap seni memiliki aturan dasar yang bertugas sebagai “nyawa”. Begitupun ludruk. Nyawa dari kesenian khas Jatim itu adalah tari remo, kidungan, gamelan, dan dagelan.

Semua unsur tersebut harus ada di tiap pagelaran. Bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai ciri khas dari kesenian itu sendiri. “Kalau bagi saya, ludruk itu kesenian modern. Ceritanya boleh apa saja disesuaikan zamannya tapi yang penting pakem  dalam ludruk itu ada tiga: tari remo,  ngidung, nglawak  iku unsur wajibnya,” ujarnya saat ditemui Super Radio, Rabu (1/4/2026).

Ia pun memahami, tantangan ludruk di era modern adalah berperang dengan sebutan “kuno”. Banyak anak muda yang kesulitan mempelajari teknik remo dan kidungan yang rumit. Namun disitulah keindahannya.

Pria yang memulai karir di bidang seni pada usia 17 tahun itu pun membebaskan seniman-seniman muda berkreasi pada alur cerita ludruk. Disesuaikan dengan topik yang disukai zaman sekarang.

Namun, lanjutnya, para seniman muda harus berpikir matang atas dampak dan esensi dari perubahan ludruk versi modern tersebut. Jangan sampai niat baik tersebut justru menghilangkan esensi dari ludruk itu sendiri.

Ia juga mendorong agar ada lebih banyak pertunjukan rutin dan pengenalan melalui sekolah agar anak muda bisa melihat langsung keindahan ludruk, bukan hanya sekadar mendengar ceritanya saja.

“Padahal itu enak loh sederhana, macak ngene (dandan ala kadarnya) sudah bisa tampil di panggung, tapi kalau seniman  ketoprak, wayang orang, mereka harus mengenakan kostum khusus, terus jogetnya nyanyi. Tapi ludruk enak, begitu tampil di panggung dikon ngomong (disuruh bicara atau cerita) pokok enteng (materi ringan sehari-hari) tapi anak-anak pikir lawas,” ungkapnya.

Cak Kartolo pun berharap, berharap semangat untuk menjaga warisan nenek moyang ini tidak pernah padam dan terus dikembangkan oleh seniman-seniman muda.

“Gimana caranya anak muda bisa senang?  Ya bisa lewat sekolah, diajak melihat pementasan, itu harus sering ada pertunjukan itu anak-anak diajak, tapi jangan dipaksa,” pungkasnya. (hk/red)

 

Tags: , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.