Sempat Dipersekusi, Perayaan Agustusan JIAD dan GUSDURian Surabaya Tetap Terselenggara
SR, Sidoarjo – Meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah massa, perayaan Agustusan Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) Jawa Timur bersama Gerakan GUSDURian (Gerdu) Surabaya, akhirnya bisa terlaksana di lokasi lain pada Sabtu (19/8/2023) malam.
Koordinator JIAD, Aan Anshori menuturkan, diskusi “Berharap Ada Kemerdekaan” yang semula berlokasi di Rumah Pergerakan dan Kebangsaan, di Perum Delta Mandala Sidoarjo, pada sekira pukul 08.30 WIB, Sabtu (19/8/2023), tiba-tiba didatangi puluhan massa yang terdiri dari aparat Desa Semambung Gedangan Sidoarjo, sebagian warga yang didampingi aparat kepolisian dan militer.
Puluhan massa tersebut ditemui langsung oleh Faturrahman, pemilik rumah yang memang tiap hari tinggal di sana. Dalam percakapannya, Aan mengatakan, massa keberatan dengan acara tersebut karena ada aktifis gay sebagai salah satu narasumbernya, serta menuding acara tersebut tidak berizin. Padahal, selama ini, puluhan kali rumah tersebut telah dijadikan tempat diskusi dengan topik kebhinnekaan dan kebangsaan.
“Massa memaksa Fatur membatalkan acara pada Sabtu malamnya. Tidak hanya itu, yang mengagetkan, mereka juga mengusir CT, saudara laki-laki Fatur dari rumah tersebut, dengan alasan tidak memiliki izin menginap. CT yang juga merupakan karyawan perusahaan milik Fatur memang selama ini ikut tinggal di rumah tersebut,” ujar Aan.
Ia menambahkan, Fatur dan CT telah berusaha menjelaskan acara tersebut dan menyatakan keberatan atas tuntutan massa. Namun kuatnya desakan dan tekanan massa membuat keduanya tidak memiliki opsi lain kecuali menuruti mereka.
Mereka pun baru meninggalkan lokasi setelah memastikan CT keluar dari rumah membawa barang-barangnya. Bahkan, massa juga memaksa Fatur mencopot baliho sekretariat yang menempel di dinding rumah.
“Atas situasi ini, JIAD mengecam praktik persekusi terhadap rencana pelaksanaan perayaan Agustusan di Rumah Pergerakan dan Kebangsaan Delta Mandala II. Tidak seharusnya perayaan ini dinodai oleh aksi intoleransi dan diskriminasi yang sangat memalukan ini,” ujar Aan.
Pihaknya juga mengutuk aksi pemaksaan pengusiran saudara CT yang jelas-jelas bertentangan dengan nurani serta tidak memiliki dasar hukum.
“Persekusi dan pengusiran tersebut jelas tidak hanya merupakan serangan serius bagi Pancasila dan NKRI namun juga membahayakan implementasi kemerdekaan berkumpul dan berserikat,” pungkasnya. (*/red)
Tags: Aan anshori, GUSDURian Surabaya, JIAD, Perayaan Agustusan, Persekusi
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





