Sebelum Berpacaran, Pikirkan Hal Ini

Yovie Wicaksono - 27 April 2019
Talk Show bertajuk Dampak Kekerasan Seksual dalam Berpacaran, di Aula Rektorat UNESA, Jumat (26/4/2019). Foto : (Super Radio/Fena Olyvira)

SR, Surabaya – Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menggelar Talk Show bertajuk Dampak Kekerasan Seksual dalam Berpacaran, di Aula Rektorat UNESA, Jumat (26/4/2019).

Sebagai pemantik dalam talk show tersebut, Dosen Pendidikan Luar Sekolah FIP UNESA Sjafiatul Mardliyah dan Erlix R. Purnama dari Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA).

Sjafiatul Mardliyah kepada Super Radio mengatakan pacaran merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari di era sekarang, meskipun dari sisi agama tidak ada istilah pacaran.

“Pacaran itu fenomena yang tidak bisa tidak ada di era sekarang, meskipun dari sisi agama tidak ada istilah pacaran. Ketika memutuskan untuk berpacaran maka pikirkan dulu, apa sih target untuk berpacaran, bekalnya apa, siap tidak dengan konsekuensinya,” ujar pengajar mata kuliah Sosiologi Keluarga, Pendidikan Pemberdayaan Perempuan dan Parenting ini.

Sjafia menekankan pentingnya memiliki bekal kesadaran kritis bahwa ketika berpacaran harus memperhatikan aspek struktur dan kultur yang menjadi akar konflik dalam pacaran.

“Sudah siapkah kita menerima pasangan kita yang penghasilannya, tingkat pendidikan, serta pekerjaannya (struktur) berbeda dengan kita atau berbeda dari yang kita harapkan? Belum lagi kalau agama, tradisi, budaya, atau bahasanya (kultur) berbeda. Kalau ini semua tidak clear, akan menimbulkan konflik yang akhirnya dapat menyebabkan kekerasan dalam pacaran,” ujarnya.

Menurut Sjafia, keluarga yang sehat berperan penting untuk menghindari terjadinya kekerasan dalam pacaran.
“Sehingga dia bisa mengerti bagaimana relasi yang sehat, pacaran yang tidak melampaui batas-batas yang ada, terlebih di era sekarang,” katanya.

“Selama mereka memegang teguh nilai agama, keluarga, dan norma-norma yang ada di masyarakat mereka akan terhindar dari bahaya kekerasan dalam pacaran. Dan ini menjadi tugas bersama agar perempuan tidak menjadi kelompok yang dirugikan,” imbuhnya.

Sedangkan, Erlix R. Purnama dari Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UNESA mengingatkan pentingnya pemahaman kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan terjadinya eksploitasi dan kekerasan seksual dalam pacaran.

“Ketika berpacaran, awalnya mungkin berpegangan tangan, kemudian ciuman, hingga proses-proses lainnya yang mau tidak mau syahwat itu mempengaruhi. Kalau kita melihat dari sudut pandang biologinya, banyak sekali hormon yang saling mempengaruhi sehingga timbul gairah seksual,” ujar Erlix.

Ketika seseorang tidak memahami dan tidak bisa mengkondisikan hal tersebut, Erlix mengatakan, maka akan terjadi kekerasan seksual.

“Ketika itu tidak bisa dikondisikan, maka dia akan memaksa pasangannya untuk berhubungan seksual, dan nantinya akan terjadi kekerasan seksual itu,” ujarnya.

Sekedar informasi, dalam catatan tahunan Komisi Nasional Perempuan 2017, kekerasan dalam pacaran menempati peringkat ketiga dalam kekerasan di ranah rumah tangga atau relasi personal dengan jumlah 1.873 kasus, atau sebesar 19 persen.

Kemudian sebanyak 42,7 persen perempuan yang belum menikah pernah mengalami kekerasan, diantaranya 34,4 persen kekerasan seksual, dan 19,6 persen kekerasan fisik, dimana 10.847 pelaku kekerasan, 2.090 pelakunya adalah pacar. (fos/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.