49,6 Persen Covid-19 di Jatim ada di Surabaya

Yovie Wicaksono - 14 June 2020
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat menyampaikan paparan pada pimpinan DPRD Jatim di Gedung Negara Grahadi. Foto : (JNR)

SR, Surabaya – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan, saat ini rasio penularan atau rate of transmission (Rt) Covid-19 di Jatim mencapai angka 1,32. Dari angka penyebaran pasien positif, tercatat 49,6 persen dari wilayah Kota Surabaya. Sedangkan Surabaya Raya menyumbang 59,8 persen.

“Tingginya rate of transmission ini terjadi karena tingkat kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menurun ketimbang pada saat PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) beberapa waktu lalu,” kata Khofifah saat menerima pimpinan DPRD Jatim di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Sabtu (13/6/2020) malam.

“Data tadi menunjukkan kita naik lagi, secara regional provinsi Rt kita sempat 0,86 ini pada 9 Juni kemarin. Berarti ini hari pertama keluar dari PSBB Surabaya Raya. Per hari ini ternyata kita naik lagi, hari ini rate of transmission kita naik menjadi 1,32,” jelasnya.

Ia mengaku sebelumnya sempat ada rasa optimistis beberapa waktu lalu saat pertengahan PSBB tahap II karena Rt di Surabaya Raya pernah di bawah 1.

“Dalam rentang waktu tanggal 21-26 Juni lalu Rt Kota Surabaya sudah di bawah 1. Lalu Sidoarjo selama delapan hari mulai tanggal 20-27 Rt di bawah 1, dan enam hari berturut Gresik juga di bawah 1,” ungkapnya.

Ketua Tim Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, dr Kohar Hari Santoso menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan angka Rt di Jatim meningkat. Mulai dari faktor penularan virus yang sangat mudah dan cepat melalui cairan atau droplet, lalu masa kontagius penularan, dan sejauh mana virus ini menular.

“Makanya ketika PSBB mereka dibatasi, tapi ternyata setelah dilonggarkan agak lepas. Warga bebas kemana-mana sehingga Rt kita naik. Untuk itu, masyarakat harus betul-betul disiplin menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan. Seperti menggunakan masker, menerapkan physical distancing, rajin cuci tangan, dan jaga imunitas,” ujar Kohar.

Pakar Epidemologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, dr Windhu Purnomo mengatakan, saat ini attack rate Covid-19 di Surabaya lebih tinggi dari nasional yakni 107,6 per 100 ribu penduduk. Artinya, di antara 100 ribu penduduk ada sekitar 108 yang terpapar Covid-19.

Dengan angka tersebut, kata dia, harus ada aturan yang lebih ketat apabila ingin menekan penyebaran di tengah masa transisi seperti saat ini. Namun, lanjutnya, Surabaya ternyata jauh dari harapannya karena tidak memberi sanksi yang tegas dan membuat orang beraktivitas biasa tanpa protokol kesehatan.

“Surabaya makin meningkat, maka makin berbahaya dan berisiko tinggi, sekarang attack rate 107,6 per 100 ribu kan jadi makin bahaya. Gimana cul-culan Surabaya sekarang merasa sudah gak ada apa-apa, seperti merasa gak ada Covid-19. Seperti jaman dulu, kafe, warung, kedai kopi banyak orang. Bahkan yang bermasker sangat menyedihkan, hampir gak ada yang bermasker,” sesalnya.

Untuk dapat menekan attack rate, ia kembali menegaskan agar masyarakat bisa lebih disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Jika masyarakat disiplin dengan protokol kesehatan Covid-19 dan pemerintah kota tegas untuk menangani ini, maka penyebaran yang lebih tinggi dari sebelumnya bisa dihindari,” tandasnya. (*/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.