SDA Jam Nite, Ruang Ekpresi Musisi Gereja Lintas Denominasi di Sidoarjo

Rudy Hartono - 21 October 2026
Komunitas musisi gereja tampil bergantian secara spontan jamming menyatu dengan iringan musik yang dimainkan ekspresif  saat "SDA Jam Nite Vol 4: SDA berSKAcita Unplugged" di Kedai Kopi Cos dan Gereja MDC Ruko Sentral, Jalan Jenggolo, Sidoarjo, Senin (19/10/2026) malam. (foto: vico wildan/superradio.id)

​SR, Sidoarjo – Melodi instrumen dan lantunan nada pujian terdengar hangat memecah keheningan malam di Kedai Kopi Cos dan Gereja MDC Ruko Sentral, Jalan Jenggolo No. C9–11, Pucang, Sidoarjo.

Pada Senin (19/10/2026) malam mulai pukul 18.30 WIB, komunitas musisi rohani berbasis faith-driven music community menggelar panggung musik bertajuk “SDA Jam Nite Vol 4: SDA berSKAcita Unplugged”.

Acara ini menjadi wadah kreatif gratis dan terbuka untuk umum bagi para musisi gereja, penyanyi, hingga masyarakat dari berbagai latar belakang denominasi Kristen Protestan di Jawa Timur.

​Atmosfer acara berlangsung sangat cair dan penuh keakraban. Para musisi gereja, worship leader, hingga pemain instrumen seperti gitar, bass, drum, dan keyboard naik ke atas panggung secara bergantian tanpa sekat organisasi atau denominasi.

Dihadiri sekitar 40 partisan yang silih berganti melebur membawakan lagu-lagu pujian dan penyembahan kontemporer populer seperti “Allah Bangkit” dan “Ada Satu Sobatku yang Setia” secara improvisasi dan unplugged.

Anak anak yang juga bisa unjuk kebolehan tarik suara dalam jam session SDA community di Kedai Kopi Cos dan Gereja MDC Ruko Sentral, Jalan Jenggolo, Sidoarjo, Senin (19/10/2026) malam. (foto: vico wildan/superradio.id)

Tidak hanya membawakan karya populer, beberapa musisi lokal juga memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan single serta karya orisinal mereka di hadapan rekan sesama musisi.

​Keunikan dari ruang kreatif ini terletak pada sifatnya yang inklusif dan ramah untuk seluruh lapisan generasi. Tanpa membatasi usia, anak-anak hingga musisi senior diberikan kesempatan yang sama untuk unjuk kebolehan dan mengekspresikan bakat seni mereka. Di samping menjadi panggung ekspresi, kegiatan ini juga diselingi dengan momen doa bersama seluruh partisan untuk memohon kedamaian, keberkahan, serta kemajuan bangsa Indonesia, khususnya wilayah Jawa Timur.

Daya tarik panggung ekspresi ini tidak lepas dari kuatnya jangkauan di media sosial yang berhasil menyedot antusiasme publik. Okky Sebastian, Ketua dari SDA Community, mengungkapkan bahwa keterlibatan platform digital menjadi jembatan utama bertemunya para musisi dan partisan di lokasi acara.

​”Jamming ini terbuka untuk siapa pun yang ingin mengisi rohaninya lewat musik Kami live TikTok dan banyak dari partisan di sini yang datang karena melihat kita live atau video kita di sosmed kemudian penasaran lalu hadir ke sini,” ujar Okky Sebastian saat diwawancarai.

Okky mengatakan SDA Jam Nite ini sudah digelar empat kali. Hanya saja edisi keempat sekarang ini memang sengaja dikemas lebih sederhana dan lebih akrab dibandingkan dengan acara serupa sebelumnya.

“Di bandingkan dengan Vol 1 kemarin yang berlokasi di Favehotel atau Vol 3 yang berlokasi di kafe yang lebih luas sehingga partisan yang hadir mencapai lebih dari 100 orang. Untuk Vol 4 ini kami buat dengan lebih intimate saja karena beberapa dari temen-temen juga akan sibuk dengan persiapan perayaan Hari Natal mendatang,” jelas Okky.

Suasana SDA Jamnite di lokasi gereja MDC dan kopi cos Sidoarjo tempat SDA Community berkumpul, berkreasi, dan berkontemplasi. (foto: vico wildan/superradio.id)

 

Selanjutnya, komunitas SDA ternyata telah merancang jamming yang mengedepankan toleransi dan rasa saling menghargai antar-umat beragama. Penyelenggaraannya direncanakan secara meriah tapi waktunya dipilih setelah berlalunya bulan Ramadan,  bulan puasa bagi umat muslim.

​”Kalau untuk Vol 5 rencananya akan kita buat lebih meriah lagi setelah bulan puasa karena untuk menghormati saudara kita yang muslim dalam menjalankan ibadahnya, makanya kita adakan setelah bulan puasa,” tambah Okky.

​Kebebasan berkreasi di luar ruang ibadah formal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang baru pertama kali hadir. Ersal, seorang partisan asal Buduran, Sidoarjo, mengaku terkesan dengan fleksibilitas dan atmosfer kebersamaan yang ditawarkan dalam jam session tersebut.

“Saya datang ke acara ini karena beberapa kali melihat SDA ini di sosmed, terkadang menonton live-nya juga, akhirnya saya penasaran dan coba hadir. Ternyata,  seru sekali karena genre musiknya fleksibel dan berbeda cara membawakannya sesuai ekspresi jiwa musisi masing-masing,” ungkap Ersal menutup perbincangan. (js/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.