Unik! Sungai Brantas Mengering Jadi Jalan Pintas Mojokerto-Sidoarjo
SR, Mojokerto – Warga memanfaatkan dasar Sungai Brantas yang mengering di Desa Kwatu, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sebagai jalur alternatif penghubung Mojokerto dan Sidoarjo.
Jalur yang dinamai Gladak Gambiran Sawit itu dapat memangkas waktu tempuh warga yang biasanya harus memutar akibat penutupan sejumlah akses penghubung. Suntari (63), warga Desa Kwatu sekaligus penggagas jalur alternatif tersebut, mengatakan, akses itu dibuka sekitar dua pekan lalu.
Ia bersama beberapa rekannya berinisiatif membuka jalur setelah mendengar informasi mengenai renovasi Jembatan Turi di Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, yang menyebabkan akses tersebut ditutup untuk umum.
Selain itu, akses penghubung Mojokerto dan Sidoarjo di Bendungan Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, juga dibuka secara terbatas karena adanya pekerjaan perbaikan bendungan. ”Kalau untuk anak sekolah, orang kerja (kalau harus memutar) kan jauh. Jadi saya, orang lima itu pakai jalan alternatif di sini. Alternatif karena Rolak ditutup, Jembatan Turi dibongkar,” kata Suntari, Selasa (20/10/2026).
Dibangun dari bambu, bisa dilalui 24 jam Suntari bersama rekan-rekannya membangun jalur alternatif tersebut dengan memanfaatkan sejumlah bahan bambu. Jalur ini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua dan pejalan kaki.
Pengendara yang melintas tidak dikenai biaya. Namun, pengelola menyediakan wadah bagi warga yang ingin memberikan sumbangan secara sukarela. Suntari mengatakan, jalur alternatif tersebut bisa dilalui selama 24 jam.
Lampu penerangan juga dipasang di sepanjang jalur untuk membantu pengguna saat melintas. ”Biasanya yang melalui itu anak-anak sekolah sama orang kerja. (Tujuannya) kalau anak sekolah dari utara sungai, sekolahnya di Mojoanyar. Kalau yang kerja dari Selatan (sungai), itu kerja ke Surabaya, Sidoarjo, itu lewat sini,” papar Suntari.
Menurut Suntari, debit air di titik Sungai Brantas yang dimanfaatkan sebagai jalur alternatif berkurang drastis saat musim kemarau. Dari puluhan meter lebar aliran sungai, kini hanya sekitar tiga meter yang masih dialiri air. Bagian lainnya berupa daratan yang dapat dilalui warga. ”Kalau tidak kemarau ya yang kelihatan air,” kata Suntari. (*/red)
Tags: Jalur alternatif, mengering, mojokerto, sidoarjo, sungai brantas, superradio.id
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





