Warga Lereng Gunung Klotok Kesulitan Air Bersih

Yovie Wicaksono - 30 October 2019
Masyarakat mengantri untuk mendapatkan droping air bersih, Selasa (29/10/2019). Foto : (Super Radio/Rahman Halim)

SR, Kediri – Sejak dua minggu terakhir, warga RT 22 dan RT 23 RW 05 Lingkungan Lebak Tumpang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, kesulitan mendapatkan pasokan air bersih. 

Para warga yang tinggal di lereng kaki Gunung Klotok Kediri tersebut mengeluh jika air yang ada di dalam sumur tempat tinggal mereka sudah mulai berkurang karena terdampak musim kemarau panjang. 

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri, Adi Sutrisno mengatakan, semula ia mendapat laporan dari salah satu Relawan Pengurangan Resiko Bencana jika warga yang tinggal di dua RT di Lebak Tumpang, Kelurahan  Pojok, terdampak bencana kekeringan yang dikarenakan dua sumber mata air yang selama ini mencukupi kebutuhan warga mengalami defisit. 

Dua sumber mata air yang dimaksud berada di lereng kaki Gunung Klotok  tepatnya di lembah Tretes serta mata air Tirto Agung yang jaraknya terpaut cukup jauh dan harus ditempuh berjalan kaki dengan naik ke atas kurang lebih 10 kilometer.

Selama ini sumber mata air lembah Tretes selalu mencukupi kebutuhan air bersih warga melalui tandon yang didistribusikan dari atas. 

Kekurangan air bersih ini biasa dialami oleh warga tiap tahun terutama pada saat musim kemarau panjang. 

“Hanya saja keberadaan dua sumber ini, di kemarau panjang sekarang tidak mencukupi kebutuhan air bersih warga di dua RT. Padahal tahun kemarin masih ada walaupun sedikit,” ujar Adi Sutrisno, Selasa (29/10/2019).

Adi Sutrisno menambahkan, pihak BPBD dan PDAM Kota Kediri menginginkan droping air bersih dilakukan setiap hari. Namun karena keterbatasan armada, harus  digunakan untuk kegiatan lainnya maka droping air bersih dijadwalkan dua hari sekali. Terlebih, kapasitas truk tangki yang dimiliki hanya bisa menampung 5000 liter air. 

“Cuman karena keberadaan truck tangki ini hanya satu yang dimiliki oleh PDAM dan sifatnya mobile, maka nanti akan kami jadwalkan ulang. Mudah mudahan dua hari sekali minimal kita droping air bersih,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu warga RT 22, Mbah Wiji (70) mengatakan, pada musim kemarau panjang seperti sekarang, ia harus mencuci baju disungai karena sumur yang ada di rumahnya tidak begitu banyak keluar air. 

“Ya untung mawon (untung saja), sungainya dekat dengan rumah jadi cukup jalan kaki saja. Permasalahannya, kalau malam kan gelap,” ujarnya. (rh/red)

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.