Sanggul dan Kebaya Jadi Jembatan Budaya bagi WNI di Belanda

Rudy Hartono - 21 September 2025
Dua anggota WBI Belanda Isye dan Rima (tengah, kacamata hitam dan kebaya biru tua) disambut hangat para komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) dari berbagai daerah di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Blitar, dan Nganjuk pada Sabtu (20/9/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

SR, Sidoarjo – Perempuan Indonesia di negara Belanda antusias bertemu Komunitas Wanita Bersanggul Indonesia (WBI).  Bertahun-tahun mereka berkomunikasi melalui media sosial, akhirnya perjumpaan dilaksanakan di Kabupaten Sidoarjo, tepatnya  di Wedangan Joglo Sumput, Sidoarjo, pada Sabtu (20/9/2025).

Mengenakan kebaya Kartini hitam, Isye Dalijati datang bersama Rima Kober yang mengenakan kebaya Kutubaru. Keduanya jauh jauh dari negeri Kincir Angin sengaja datang membawa misi budaya untuk bisa dipromosikan di Belanda.

Ketua Umum WBI Belanda, Rima Kober (tengah), didampingi Penasehat WBI Belanda, Isye Dalijati (kanan) di Wedangan Joglo Sumput, Kabupaten Sidoarjo, Sabtu (20/9/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

“Setiap tahun memang saya berkesempatan kembali ke Indonesia, namun kali ini secara sengaja menjadwalkan bertemu kawan-kawan WBI untuk mengeksplor lebih jauh perkembangan sanggul dan kebaya untuk saya promosikan di sana (Belanda-Red),” kata Isye yang dipercaya menjadi Penasihat WBI Belanda.

Sejauh ini Isye hanya  bisa memantau  perkembangan busana tradisional Indonesia melalui dunia maya atau layar kaca. Maka Perjumpaan dengan WBI berbagai daerah di Jawa Timur merupakan pertemuan yang berharga untuk menambah khazanah sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan WBI di Tanah Air.

Berada di negara orang, lanjut Isye, tentu ada kerinduan dengan kultur budaya sendiri seperti kuliner, bahasa daerah, tradisi,  termasuk tata busana. Kebaya dan sanggul merupakan  busana khas asli Indonesia dan bisa menjadi identitas bangsa. Ketika busana itu dikenakan pastinya akan mendapatkan perhatian dari orang sekeliling. Namun  menjaga   tradisi kebaya dan sanggul di luar negeri bukan perkara mudah karena dihadapkan beberapa faktor.

“Di Belanda ada empat musim, jadi kami harus menunggu musim panas untuk bisa menggunakan sanggul dan kebaya. Tapi melalui pertemuan ini, kami berharap komunikasi dengan WBI Indonesia semakin intens meskipun jarak memisahkan,” tutur Rima Kober yang didaulat menjadi Ketua BWI Belanda.

Rima bertekat untuk terus melestarikan budaya bangsa melalui busana sanggul dan kebaya. Ia bersyukur niatnya itu didukung keluarga, salah satunya adalah cucu Rima yakni Rahmania  yang juga ikut menjadi anggota WBI.  “Siapa lagi yang bisa meneruskan budaya ini kalau bukan kita sendiri. Sebelum terkikis, mari kita sama-sama meluaskan kebudayaan Indonesia ke seluruh dunia,” ucap Rima

Atas kedatangan WBI dari Belanda, pendiri sekaligus penasihat WBI Pusat, Sami Rahayu, mengaku sangat senang. Gayung  bersambut,  rencana kedatangan Isye direspons positif WBI dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Nganjuk, dan Blitar.

“Beliau di Belanda awalnya hanya mengikuti kegiatan WBI melalui Facebook, lalu berinisiatif membangun WBI Belanda. Kami berharap pertemuan seperti ini bisa menjadi agenda rutin setiap tahun agar silaturahmi WBI antarnegara tetap terjaga,” harapnya.

Para anggota Komunitas WBI Indonesia dan Belanda lakukan nyanyi bersama di panggung live music Wedangan Joglo Sumput, pada Sabtu (20/9/2025). (foto: bima aditya/superradio.id)

Sami menambahkan, media sosial menjadi sarana penting dalam menghubungkan anggota WBI di berbagai daerah maupun negara. “Sarana komunikasi utama kita itu ya melalui sosial media seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Jadi memang sosial media ini platform yang tepat untuk mengkampanyekan sanggul dan kebaya,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Ketua Umum WBI Indonesia, Rida, yang menilai perkembangan organisasi ini tak lepas dari peran media digital. “Melalui medsos kegiatan kita bisa dilihat lebih luas. Harapannya, wanita Indonesia bisa kembali ke jati dirinya sebagai warga bangsa dengan melestarikan budaya ini,” cetusnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars WBI, dilanjutkan sambutan dari ketua dan penasihat WBI Indonesia maupun Belanda, lalu ditutup dengan ramah tamah serta bernyanyi bersama diiringi live music.

Melalui momentum ini, WBI berharap silaturahmi lintas negara semakin erat, sekaligus memperkuat upaya melestarikan kebaya dan sanggul sebagai identitas budaya Indonesia, baik di tanah air maupun di perantauan. (bmz/red)

Tags: , , , ,

Berita Terkait

Tinggalkan komentar

Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.