Mengenal Disabilitas Sensorik: Cara Berinteraksi dengan Dunia yang Berbeda
SR, Surabaya — Tidak semua disabilitas terlihat jelas oleh mata. Disabilitas sensorik adalah salah satu contoh kondisi yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam menerima informasi melalui indra, namun sering kali luput dari perhatian banyak orang.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, disabilitas sensorik mencakup keterbatasan pada fungsi penglihatan dan pendengaran. Sementara World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa hambatan sensorik bukan sekadar “ketidakmampuan melihat atau mendengar”, tetapi bagaimana lingkungan tidak menyediakan akses yang sesuai.
Dengan kata lain, yang berbeda bukan kualitas diri mereka, tetapi cara mereka menangkap informasi dari dunia sekitar.
- Disabilitas Sensorik Penglihatan Kelompok ini mencakup individu dengan kondisi seperti tunanetra total, low vision (penglihatan terbatas), atau gangguan penglihatan lain yang membuat aktivitas sehari-hari membutuhkan pendekatan berbeda. Alat bantu yang biasanya digunakan:
- Tongkat putih (white cane): membantu navigasi dan mengenali permukaan jalan.
- Anjing penuntun (guide dog): di beberapa negara digunakan sebagai pendamping mobilitas (di Indonesia belum umum).
- Braille: sistem tulisan timbul untuk membaca dan menulis.
- Screen reader: perangkat lunak pembaca layar pada ponsel atau komputer.
- Magnifier atau kaca pembesar: membantu untuk low vision.
- Aplikasi navigasi khusus tunanetra: misalnya fitur suara pada GPS.
Kebanyakan masyarakat sering menganggap aktivitas seperti membaca menu restoran atau mencari lokasi gedung sebagai hal biasa, namun bagi penyandang hambatan penglihatan, akses informasi sangat bergantung pada keberadaan fasilitas yang ramah.
- Disabilitas Sensorik Pendengaran. Kelompok ini mencakup mereka yang tuli total, hard of hearing (pendengaran sebagian), atau pengguna alat bantu dengar. Dunia suara bagi mereka berbeda: ada yang tidak bisa mendengar sama sekali, ada yang hanya menerima suara tertentu, ada yangmembutuhkan visual untuk memahami informasi. Alat bantu yang biasanya digunakan:
- Alat bantu dengar (hearing aid): memperkuat suara tertentu.
- Cochlear implant: perangkat elektronik yang membantu seseorang dengan gangguan pendengaran berat untuk mengakses suara.
- Bahasa isyarat: sarana komunikasi utama bagi komunitas Tuli.
- Speech-to-text / captioning: teks otomatis pada video atau acara publik.
- Visual alert system: notifikasi berupa cahaya untuk alarm atau panggilan.
Disabilitas pendengaran bukan soal “tidak mendengar”, tetapi bagaimana informasi yang berbasis suara harus memiliki alternatif visual atau tekstual agar tetap setara.
Mengapa Penting untuk Dipahami?
Disabilitas sensorik sering kali membuat orang lain tanpa sadar bersikap keliru, misalnya berbicara terlalu keras kepada disabilitas tuli, atau memegang tangan tunanetra tanpa izin. Padahal cara paling tepat adalah menghargai otonomi dan bertanya sebelum membantu.
Masyarakat yang inklusif tidak hanya menyediakan ramp atau lift, tetapi juga:
- Braille di fasilitas publik,
- teks pada video,
- suara pengumuman yang jelas,
- desain informasi yang visual,
- dan pelayanan yang memahami keragaman pengguna.
Karena bagi penyandang disabilitas sensorik, akses bukan sekadar alat bantu, tetapi jembatan untuk memahami dunia. (*/dv/red)
Tags: disabilitas sensorik, Interaksi, netra, superradio.id, Tuli
Berita Terkait
Tinggalkan komentar
Silahkan masuk atau daftar terlebih dahulu untuk memberi komentar.





